Surewi Wardrobe - Konveksi Seragam Kerja Berkualitas Terbaik di Jakarta

Surewi Wardrobe - Konveksi Seragam Kerja Berkualitas Terbaik di Jakarta – Hai pembaca semuanya, Apakabar?, semoga anda semuanya dalam kea...

19 Tradisi Unik Ramadhan Di Indonesia dan Mancanegara

Bulan Suci Ramadan merupakan blan yang selalu di tunggu dan dinanti oleh umat muslim yang beriman dan bertaqwa di seluruh dunia. Bulan Suci Ramadan ditunggu dan selalu dinantikan karena bulan Ramadan ini merupakan bulan yang penu dengan berkah dan rahmat serta magfirah yang Allah SWT berikan kepada mereka yang telah menjalankan ibadah puasa dengan baik dan juga menjalankan ibadah lainnya di bulan Ramadan ini dengan penuh keimanan dan ketaqwaan dengan balasan pahala yang berlipat ganda. 

Nah, Saat ini bulan suci Ramadan telah datang dan saat ini telah berjalan untuk hari yang ke-8. Tentunya masih semangat dan berharap belum ada yang bolong, karena jika sudah ada bolong tentunya sangat disayangkan, karena bulan Ramadan ini bulan yang hanya datang satu kali dalam setahun dan terdapat keisitimewaan tersendiri terkandung di dalamnya jika mereka mengetahuinya pasti ingin semua bulan adalah ramdan di atas dunia ini. 

Berbicara mengenai Ramadan di seluruh dunia ini, tentunya ada beberapa cara untuk menyambut Ramadan ini dengan gembira seperti beberapa tradisi unik yang ada di tanah air Indonesia dalam menyambut datangnya bulan Ramadan dan juga yang ada di mancanegara. Tradisi apa saja itu, berikut ulasannya : 

1. Nyadran (Tradisi Ramadan Masyarakat Jawa, Indonesia) 

Tradisi Ramadan Nyadran atau disebut juga dengan sebutan Nyekar merupakan tradisi khas masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur ketika menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Tradisi Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta dengan kata sraddha yang berarti keyakinan. Masyarakat Jawa memaknai Nyadran dari kata sadran yang berarti ruwah sya’ban yaitu, bulan sebelum Ramadhan datang yang ditandai dengan tradisi membersihkan makam orang tua, keluarga dan kerabat dengan berziarah menaburkan bunga dan berdo,a. 

2. Dugderan (Tradisi Ramadan di Semarang, Indonesia) 

Dugderan adalah tradisi khas masyarakat Semarang dalam rangka menyambut bulan puasa Ramadhan. Tradisi ini sudah berlangsung sejak abad 19 yang bermula dari acara penentuan awal puasa di bulan Ramadhan. Maklum, acapkali ada perbedaan penentuan hari pertama puasa. 

Tradisi Dugderan kini menjadi seperti pesta rakyat yang sangat meriah di Semarang. Ada Tari Japin, arak-arakan atau karnaval hingga tabuh bedug. Acara ini menjadi tradisi tahunan masyarakat Semarang yang ditunggu-tunggu. Puncak acara Dugderan tetap dengan tradisi awal yaitu pengumuman awal puasa Ramadhan. 

Selain dimeriahkan dengan suara bedug dan meriam, pesta rakyat Dugderan juga diramaikan kehadiran maskot Dugderan bernama Warak Ngendog. Ini adalah maskot berupa kambing dengan kepala naga lengkap dengan kulit bersisik dari kertas warna warni dan dilengkapi dengan telur rebus. Keberadaan telur rebus sebagai penanda bahwa binatang tersebut tengah bertelur. Ini juga sebagai penanda bahwa ketika penyelenggaraan Dugderan pertama kali, Semarang tengah krisis pangan dan telur menjadi makanan mewah. 

3. Meugang (Tradisi Ramadan di Aceh, Indonesia) 

Meugang merupakan tradisi khas masyarakat Aceh yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam di masa Kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda. Ketika itu Sultan Iskandar Muda memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagikan ke seluruh masyarakat, menjelang kedatangan Ramadhan. 

Masyarakat Aceh menggelar tradisi Meugang selama tiga kali dalam setahun, yaitu saat Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Menyambut Ramadhan, tradisi Meugang berlangsung satu hari sebelum Ramadhan di areal pedesaan. Sedangkan di Aceh perkotaan, Meugang berlangsung dua hari sebelum bulan puasa. 

Dalam tradisi ini, masyarakat Serambi Mekkah akan memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga, kerabat dan yatim piatu sebagai bentuk rasa syukur selama 11 bulan mencari nafkah. Selain kambing dan sapi, ayam dan bebek juga ikut disembelih. Daging dimasak dirumah, setelah itu masyarakat Aceh berbondong membawa hidangan ke mesjid untuk dimakan bersama-sama tetangga. 

4. Perlon Unggahan (Tradisi Ramadan di Banyumas, Indonesia) 

Perlon Unggahan adalah tradisi khas masyarakat Banyumas, Jawa Tengah, yang sudah berlangsung sejak beberapa abad silam. Tradisi ini berlangsung seminggu sebelum kedatangan bulan puasa yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Pekuncen, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah. 

Ritualnya berupa ziarah kubur leluhur yaitu ke makam Bonokeling tanpa alas kaki sambil mengusung nasi ambeng. Pengikut adat ini berjalan kaki hingga 30 kilometer dari Cilacap, melintasi perbukitan yang memisahkan Banyumas dan Cilacap. 

Di makam Bonokeling tersebut, enam Kasepuhan berdoa, yaitu Kasepuhan Kyai Mejasari, Kyai Padawirja, Kyai Wiryatpada, Kyai Padawitama, Kyai Wangsapada, dan Kyai Naya Leksana. Setelah itu, diadakan makan besar yang diramaikan oleh warga sekitar. 

Dalam tradisi ini, tersedia banyak makanan tradisional seperti nasi bungkus, serundeng sapi dan sayur kuah. Masyarakat biasanya berebut makanan-makanan itu dan meyakini makanan tersebut akan menambah keberkahan di bulan puasa. 

5. Malamang (Tradisi di Minangkabau, Sumatra Barat, Indonesia) 

Tradisi malamang atau membuat lemang menjadi ritual khas masyarakat minang di Sumatra Barat menyambut kedatangan bulan puasa. Malamang berarti membuat lemang, yaitu makanan dari beras ketan yang dimasukkan ke buluh bambu beralas daun pisang. Lalu, lemang itu disiram santan dan dipanggang dengan kayu bakar hingga beberapa jam. Kegiatan membuat lemang inilah yang disebut malamang. 

Malamang menjadi tradisi khas masyarakat Sumatra Barat ketika menyambut hari-hari penting dalam kalender Islam. Lemang biasa disajikan dengan tapai sipuluik yang terbuat dari beras ketan hitam atau merah. 

6. Balimau (Tradisi Ramadan di Minangkabau, Sumatra Barat, Indonesia) 

Masih dari Sumatra Barat. Menyambut bulan Ramadhan, masyarakat Minangkabau memiliki ritual Balimau yaitu tradisi mandi memakai air jeruk nipis yang dilakukan di kawasan dengan aliran sungai atau tempat pemandian. 

Tradisi ini dilatarbelakangi keinginan untuk membersihkan diri lahir batin sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Mengapa memakai jeruk nipis? Ini tidak terlepas dari tradisi berabad silam di mana ketika itu masyarakat belum mengenal sabun seperti saat ini. Sehingga, jeruk nipis atau limau menjadi pilihan membersihkan diri. 

7. Kirab Dandhangan (Tradisi Ramadan di Kudus, Jawa Tengah, Indonesia) 

Tradisi unik menyambut kedatangan bulan puasa ini berlangsung di Kudus, Jawa Tengah. Kirab Dhandhangan mengacu pada tradisi di masa Sunan Kudus masih ada, yaitu ketika para santri beliau berkumpul di depan mesjid Al Aqsha atau Mesjid Menara Kudus untuk menunggu pengumuman dari Sunan Kudus tentang penentuan awal puasa. 

Setelah diumumkan keputusannya oleh Sunan Kudus, beduk di mesjid pun ditabuh dan dari sanalah istilah Dhandhangan lahir. Akhirnya, lambat laun ritual pengumuman itu menarik banyak pedagang untuk membuka lapak dagangan. Kini, ritual tersebut menjadi semacam kirab budaya yang dimulai sejak dua pekan sebelum puasa dan berakhir pada malam hari menjelang sahur pertama. 

8. Nyorog (Tradisi Ramadan Betawi, Jakarta, Indonesia) 

Ini adalah tradisi khas masyarakat Betawi. Nyorog merupakan tradisi membagikan bingkisan makanan pada keluarga yang lebih tua seperti Bapak, ibu, mertua, paman, kakek atau nenek. Kebiasaan mengirimkan bingkisan ini masih berlangsung sampai sekarang walau isi bingkisan sudah berubah mengikuti perkembangan zaman. 

Bila dahulu isi bingkisan adalah makanan matang seperti sayur atau lauk, kini berganti dengan mengirimkan bingkisan berisi biskuit, kopi, gula, sirup, dan lain-lain. Bagi masyarakat Betawi, tradisi Nyorog ini bermakna sebagai tanda saling mengingatkan bahwa Ramadhan akan segera tiba, juga sebagai cara mempererat silaturahmi. 

9. Gebyar Ki Aji Tunggal (Tradisi Jepara, Jawa Tengah, Indoensia) 

Ini adalah tradisi yang berlangsung di Jepara, Jawa Tengah, setiap menyambut Ramadhan. Kegiatan Gebyar Ki Aji Tunggal digelar untuk mengingatkan masyarakat akan kedatangan bulan suci Ramadan. Karnaval budaya ini digelar tiap bulan Sya’ban dalam kalender Islam atau bulan Ruwah dalam kalender Jawa. 

10. Megibung (Tradisi Ramadan di Bali, Indonesia) 

Megibung adalah tradisi menyambut Ramadhan yang rutin digelar oleh masyarakat muslim di Bali. Tepatnya di Kampung Islam Kepaon, Karangasem, bagian timur Pulau Dewata. Acara Megibung digelar pada hari ke 10, 20 dan 30 hari puasa. 

Tradisi ini diperkenalkan oleh Raja Karangasem yaitu I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem sekitar abad 17 masehi. Megibung berasal dari kata gibung yang berarti kegiatan saling berbagi, duduk melingkar dan makan bersama dengan suguhan nasi dan lauk pauk di atas nampan. 

Sampai saat ini, Megibung masih lestari dilakukan oleh masyarakat Karangasem terutama yang beragama Islam. 

11. Malam Selawe (Tradisi di Gresik, Jawa Timur, Indonesia) 

Malam selawe merujuk pada kata selawe atau 25 dalam bahasa Jawa. Ini adalah tradisi khas masyarakat Gresik, Jawa Timur, yang berlangsung pada malam ke-25 Ramadhan. Tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman Sunan Giri, salah satu dari Walisongo yang termasyhur. 

Pada 10 hari terakhir bulan puasa, orang Islam meyakini bahwa malam lailatul qodar atau malam seribu bulan akan datang. Maka itu, banyak muslim yang menjalankan itikaf atau menyepi di mesjid agar lebih khusyuk beribadah. Nah, masyarakat Gresik dan sekitarnya banyak yang memilih menyepi di mesjid Giri, di daerah perbukitan di Selatan kota pantai utara Jawa itu. 

Semakin lama semakin banyak orang yang datang ke mesjid Giri untuk beribadah sampai jalanan di sepanjang arah mesjid menjadi ramai. Keramaian ini mengundang kedatangan para pedagang hingga akhirnya sampai saat ini, setiap malam 25 di bulan puasa, digelar tradisi malam selawe di Gresik. Sepanjang jalan Sunan Giri ramai dikunjungi pengunjung yang mendatangi pasar kaget. 

Selain malam Selawe, ada juga tradisi malam Bandengan setiap menjelang berakhirnya bulan Ramadhan. Malam Bandengan adalah malam di mana para petambak bandeng panen ikan bandeng dalam ukuran jumbo hingga dilelang di pasar Gresik. Ikan bandeng ini akan menjadi suguhan penutup puasa dan melengkapi hidangan khas Lebaran di kota santri tersebut. 

12. Megengan (Tradisi di Jawa Timur, Indonesia) 

Ini adalah tradisi khas masyarakat Jawa Timur seperti Tuban, Malang dan Surabaya. Megengan berasal dari kata megeng, bahasa Jawa yang berarti menahan. Tradisi Megengan menjadi peringatan atau penanda bahwa sebentar lagi bulan puasa akan tiba di mana umat Islam diwajibkan berpuasa dan menahan diri dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa. 

Tradisi megengan bisa berupa makan bersama tetangga-tetangga terdekat berupa kendurian, ziarah kubur, masak besar dan membagi-bagi ke sanak saudara dan kerabat, kenduri di mushola atau langgar. Tradisi ini menjadi salah satu jejak sejarah penyebaran Islam di Jawa yang mengakulturasi budaya masyarakat setempat atau kearifan lokal. 

13. Padusan (Tradisi Masyrakat Jawa, Indonesia) 

Lebih tepatnya sih, tradisi ini dilakukan di tanah Jawa. Umat muslim menyambut bulan Ramadhan dengan mengunjungi tempat wisata air terjun atau curug untuk menjalani ritual padusan yang diambil dari kata adus yang berarti mandi. 

Nah, sebelum padusan, biasanya sebagian masyarakat akan mengunjungi makam leluhur dan menjalani nyadran atau nyekar. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenang dan memberi perhatian pada mereka yang pernah ada untuk kita yang masih hidup. 

14. Muqam (Tradisi Ramadan di Tiongkok) 

Di China, dikenal dengan Tradisi Muqam untuk menyambut bulan suci Ramadhan, lho. Biasanya, tradisi ini dilakukan di depan masjid Id Kah yang letaknya berada di perbatasan China dan Turki. Di depan masjid ini, akan ada kebun bunga dan plaza yang menjual makanan khas untuk berbuka puasa. Tradisi Muqam juga diselingi seni nyanyian dan tarian yang tenar banget pada jamannya. 

Namun sayangnya, tradisi ini sudah lama ditinggalkan karena perubahan zaman. Orang-orang muslim yang tinggal di daerah itupun sudah bermigrasi sehingga tradisi ini semakin lama semakin pudar. 

15. Pria menghias diri dengan celak mata (Tradisi Ramadan di India) 

Mungkin terdengar aneh nih, tetapi nyatanya, pria-pria India akan menghias mata mereka dengan kohl (sejenis celak mata) untuk menyambut bulan suci Ramadhan, lho! Nah selain itu, ketika Idul Fitri sudah dekat, pria India yang diwajibkan untuk membersihkan rumah dan mengenakan pakaian tradisi etnis mereka yang disebut Kurta atau Salwar Kameez. 

Bukan hanya itu, pada bulan Ramadhan orang India juga umumnya meminum minuman khusus yang terbuat dari kacang-kacangan dan biji-bijian yang disebut harir, selain hidangan ala kadarnya untuk sahur. Sementara di Kota Hyderabad, atau wilayah Tamil Nadu dan Kerala, umat muslim di sana biasanya menyantap semacam bubur yang kaya rempah dengan nama haleem atau nonbu kanji. 

16. Erekspresi (Tradisi Ramadan di Jerman) 

Di Jerman yang dimana Islam bukanlah mayoritas, tetap ada tradisi yang menarik ketika bulan Ramadhan datang, lho! Tradisi ini lebih ke arah menghormati bulan suci Ramadhan, dalam bentuk penolakan terhadap makanan, minuman, rokok, dan kontak seksual sejak matahari terbit hingga terbenam. 

Selain itu, biasanya kafe-kafe dan toko roti akan menjual makanan khas bulan puasa seperti suus (minuman berbahan baku gula hitam), dschellab (gula dan sirup kurma), qamruddin dan (dari jus aprikot). 

17. Buka bersama (Tradisi Ramadan di Sudan) 

Di Sudan, Masjid Farou yang direhab Muhammad Ali Fasya pada 1940 saksi luapan iman umat Islam di sana. Selain di masjid, hingar-bingar juga terdengar dari Pasar Ghirfa. 

Biasanya di penghujung bulan suci, umat Islam tumpah ruah untuk berbelanja menyambu hari kemenangan. Selain itu, tradisi buka bersama adalah budaya yang paling tenar di sini. Mereka akan mengundang teman maupun kerabat untuk datang ke rumah mereka dan saling bercengkerama dengan hangat. Mirip dengan tradisi mudik di Indonesia. 

18. Air Gua (Tradisi Ramadan di Bosnia) 

Kalau di Bosnia, tradisi mereka yang begitu terkenal adalah Tradisi Air di Gua. Agak mirip dengan Tradisi Padusan, tetapi umat muslim di Bosnia memilih pergi ke Gua Kladanj dan membasuh mereka dengan air di dalam gua tersebut. Masyarakat di sana percaya jika tindakan itu akan memancarkan inner beauty serta membawa kesuksesan. 

19. Bubur Lambuk (Tradisi Ramadan di Malaysia) 

Kalau di Indonesia punya kolak, makanan khas bulan Ramadhan di Malaysia adalah Bubur Lambuk. Bubur ini terbuat dari bubur beras yang berisi cincangan daging sapi dan udang kering dengan rempah-rempah dasar yang terdiri dari bunga cengkeh, bunga lawang, jintan putih, kulit kayu manis dan lain-lain. Bubur ini biasanya dimasak gotong royong di masjid sebelum dibagikan kepada orang umum. 

Nah itulah beberapa tradisi yang hanya terjadi saat Ramadan Tiba. Semoga bermanfaat untuk anda semuanya, selamat menjalankan ibadah puasa 1439 H, Terima kasih.
Loading...

0 Response to "19 Tradisi Unik Ramadhan Di Indonesia dan Mancanegara"

Posting Komentar