Mari "Bersama UNTAN Membangun Negeri" Indonesia

Mari " Bersama UNTAN Membangun Negeri " Indonesia  - Jika bicara mengenai pendidikan, tentunya pendidikan sangat penting da...

Cerpen : Pria Penenun Malam

Loading...
“Separuh malam berlalu, terlihat seorang pria jelek duduk sepi dengan memasang muka serius, dingin tanpa ekspresi menatap layar notebook mungilnya dengan penuh rasa. 

Di dekatnya, Terlihat jelas secangkir kopi yang sudah dingin ditiup angin menemaninya. Entah apa yang ia lakukan, sepertinya tak tampak melakukan hal yang hebat atau pun berbuat jahat, yang terlihat seekali ia mengadahkan mukanya kea rah langit, sepertinya ia sedang menenun malam dengan kata-kata menjadi kalimat dalam sebuah tulisan. 

Aku mencoba mencari tau siapa dia sebenarnya?, tanpa basa-basi, diri dan hati ini bertanya galau mendekati pria itu. Walah!, ternyata orang itu diriku sendiri yang begitu sering menghabiskan malam dengan duduk terpaku dengan posisi sama, berkawan angin malam, notebook jelekku untuk diajak konsultasi tentang apa yang ingin aku pikirkan tentang siang.” 

Pria Penenun Malam

Aku sendiri sebenarnya kurang paham tentang apa yang terjadi dalam diriku ini. Aku ini seakan hidup seperti amoeba saja, membelah diri ketika malam menyelimuti bumi ini. Kok bisa seperti itu?, Iya, Dimana setiap malam aku begitu sering bicara dengan pikiranku sendiri, seakan akan memilki kembaran yang tak kasat mata tapi nyata bagiku. 

Aku seperti berkata jika itu halusinasiku saja, atau sejenis kaum pendusta Tuhan yang menggodaku untuk melupakan kodratku sebagai hamba-NYA. Tapi tidak juga, Aku baik-baik saja, dan juga tidak sedang bermimpi jika aku memiliki bayangan selain jiwaku sendiri. 

Jika itu memang halusinasiku saja, kenapa aku begitu sering terlena dengan apa yang pikirku katakan kepadaku?. Atau, Ia selalu menjawab apa yang aku maksud dan apa yang aku bayangkan saat itu, Bukanlah aku juga harus percaya dengan hal gaib seperti ayat yang tertera dalam kitab suci Tuhanku?, Jika iya, berarti aku tak salah dong!. 

Aku sadar, bahkan sangat, dan aku bukan orang gila atau tak waras. Hal yang membuktikan jka aku masih waras, dimana aku masih bisa menulis seperti saat ini, berarti itu menandakan jika aku ini tidak gila. Jika aku berkata seperti itu tentang diriku sendiri, itu hanya perasaanku saja mungkin, dan tak usah dibahas lah ya!. 

Aku berkata seperti itu mungkin juga karena aku merasa tak ada orang yang ingin aku ajak bicara, tak ada tempat lagi yang dapat aku jadikan lahan untuk menyampaikan apa yang sedang terjadi pada diriku. Ya, jadi wajar saja jika aku sampaikan saja kepada malam. karena aku pikir, malam lebih tenang dalam menanggapi apa yang ingin aku sampaikan dan ingin aku katakan sepuas hati. 

Buktinya saja ketika aku bicara sendiri saat ini, Malam tak pernah protes tentang apa keinginananku, Malam tak pernah protes tentang apa yang aku cita-citakan, ia selalu tenang dan hening saja. Tak menjawab bahkan tersenyum juga tidak, apakah ia sudah bosan kali ya dengar perkataanku yang itu-itu saja, atau memang sudah akunya saja memang kurang waras, malam gue ajak ngomong, stress gue!. 

Tapi tak apalah, yang pastinya aku lebih menyukai malam ketimbang siang. Kok bisa?, ya bisalah, karena malam tidak seperti siang, dimana saat aku berjalan saja, ia sudah marah dengan memberiku terik. Baru bersuara sedikit saja aku di bilang bising, baru punya sedikit uang saja, aku sudah di bilang sombong, dan baru beli smartphone baru saja, sudah di bilang pamer, Baru punya pacar cantik saja sudah nggak mau nengor, dan apalah itu, pusing mikirinnya. 

Tegakan siang sama gue!, Makanya aku lebih suka malam untuk diajak bicara. Aku lebih suka malam untuk diajak berdebat, karena malam selalu berkata iya dan iya kepadaku tanpa ada protes. 

Tapi itu bukan alasan utamaku juga sich lebih menyukai malam daripada siang. Alasan utama tentunya rahasia dong, tapi bolehlah aku bocorkan sedikit demi menghancurkan kecurigaanmu terhadap aku yang suka berdiam diri ketika malam, dan suka dikatain gila bicara sendirian ketika malam datang, seperti ayan saja atau mengidap penyakit pobia siang sepertinya aku ini. 

Aku menyukai malam karena malam itu tempat satu-satunya yang dapat memberiku ruang gerak lebih untuk aku berkata, berbicara dalam karya seperti yang aku tulis ini. Tak seperti siang, aku selalu dibenci dengan kesibukan, omong kosong para pencari muka, para pengedar nafsu dan para penjilat dosa. Aku terganggu dengan hal itu, karena itulah aku begitu sulit menampkan wajah ketika siang menjelang. 

Aku tak ingin menjadi teman-teman siang, aku ingin jadi teman malam saja, karena malam tidak ada keegoisan, ketamakan, kesombongan, suka pamer, dengki, iri, ingin menang sendiri, dan juga keangkuhan seperti ulah siang. 

Sebenarnya apa sich yang aku ingin lakukan bersama malam yang telah menemaiku sejak dulu?. Benggong?, tidak juga!. Lalu apa yang aku dapatkan dari kawan lamaku ini?, ya banyaklah, yang jelas, aku sudah menjadi orang sukses meratapi nasib penuh khayal hingga saat ini. 

Khayal kok dibanggakan?, ya ngak bangga juga!. aku berkhayal bukan ingin menjadi kaya, tapi yang aku khayalkan adalah imanjinasiku sendiri ketika jemariku bergerak ganas diatas keyboard notebook jelekku ini yang sudah bertahun-tahun tak pernah mandi, ganti baju bahkan ganti kulit, hahaha, seperti ular saja ganti kulit. 

Aku berkhayal bersama malam, jika aku berada dalam sebuah kesuksesan besar suatu hari kelak, tak seperti kau hanya duduk bersama sepi, menangisi malam kenapa tanpa bintang dan bulan. Ya wajar saja kau kesurupan, ya wajar saja kalau kau stress, dan wajar saja rohmu dihingapi kawan sebelah. 

Aku menyukai malam bukan karena aku juga gila dan stress seperti kamu, aku ini orang waras kali, hanya saja karena kurang tidur, jadi kadang pikiranku suka ngedrop sehingga kalau ada orang yang bicara kepadaku kadang suka tidak nyambung, tapi aku masih bisa dengar kok. Tapi itu tak jadi masalah, ya sudahlah!. 

Yang jelas aku bukan orang stress atau pun gila, hanya saja aku sedikit miring kali ya lebih tepat rasanya gelar itu untukku. suka kok sama malam!, coba sukanya sama kamu, pasit ditolak, Aneh emang!. 

Tapi apapun ocehanmu, tapi aku tak akan menanggapinya dengan sajian serius dengan bumbu emosi. Aku cukup sadar ketika ada kata dan kalimat yang ku dengar dari siang tentang apa yang terjadi pada diriku ini. Aku sangat memahami dengan kondisi siang yang penuh denga ribuan penikmat rejeki dari Tuhan namun lupa bersyukur. Jika susah, sibuk cari Tuhan, tapi kalau udah senang saja lupa daratan. 

Aku tidak mau seperti itu, aku ingin seperti malam saja, yang gemar memberiku irama hening tapi sedikit menusuk hati. 

Aku tidak mau seperti itu, aku ingin seperti malam saja, sepi tanpa ada yang mau peduli dengan keadaanku saat ini, tapi aku merasa tenang. 

Biar saja, biar melepuh bahkan lumpuh diriku ini. apakah aku akan jera menjadi bagian dari malam?, tidak juga sepertinya. Sampai saat ini bahkan detik ini, Aku selalu ada ketika malam datang melewati siang dan senja. 

Ya sudahlah!, aku seperti ini bukan juga karena permintaanmu, atau permintaan kaum pendusta Tuhan juga. Aku berada di waktu malam bukan tidak bisa tidur, banyak nyamuk dan tidak sanggupbeli obat nyamuk, atau melakukan kejahatan lain seperti mereka yang mungkin mencari rejeki pada malam hari. 

Aku tidak melakukan hal seperti itu, aku ini hanya duduk diam saja, duduk bukan bengong seperti kamu, tapi aku duduk dengan pikiranku sendiri, dengan apa yang ada disekitarku yang mungkin bisa aku ajak musyawarah kuno hingga menemukan jalan untuk bisa menghadapi garangnya siang. 

Terserah!, Aku ingin bicara kepada mereka yang ada disekitarku saja, entah itu kucing, cicak, sapu lidi, tembok kamar lusuhku, dengan pakaian yang berserakan dimana-mana, atau kipas angin yang memiliki suara merdu yang kadang menganggu konsentrasiku. 

Atau juga aku bicara kepada bintang, langit yang gelap atau juga bicara jika purnama sudi muncul. Ya apa sajalah yang ingin mendengarkan celoteh ngelanturku. tak peduli ia berkenan atau tidak!, yang jelas, selama ini apa yang aku ajak menjadi pendengar resahku, oke-oke saja sepertinya. 

Tak banyak protes seperti suara siang, yang sudah tau bersalah, masih saja protes, sudah tau makan hak orang lain bahkan rakyat sendiri, masih saja membela diri, dan yang lebih parahnya lagi nich, mereka sudah tau salah, masih saja tak tau diri, main serobot sana sini, ngak malu apa yak!. 

Dan ada juga berita dari siang, jika saat ini banyak mereka yang kebal hukum katanya. Kebal bagaimana ceritenye?, hello, sudah tau negeri kita ini negeri hukum, mana ada yang kebal hukum!. 

Tapi itu memang benar kok!, Lihat saja jika renunganku tak salah, dimana ketika orang kecil bersalah, hukumannya luar biasa, namun ketika mereka yang berdasi dinegeri ini bersalah, wah bukan main diadili dengan sebaik mungkin bahkan penegak hukum saja dimusuhi, busyet dah, rakus amat yak tuch bocah!. 

Katanya sich negeri ini negeri hukum, ya wajar doang kalau ada pembelaan, wajar dong kalau pakai pengacara super hebat yang siap membela mati-matian. Lalu bagaimana dengan rakyat jelata, mau makan saja susah, bagaimana mau sewa pengacara, ya pasrah saja akhirnya, rela menginap gratis di ruangan tertutup sesakan dada dan hati. 

Binggungkan, kenapa aku berkata seperti itu?, Jangan binggung atuh, biasa saja mukanya, itu Cuma cerita yang aku ceritakan kepada benda-benda malam yang ada di sekitarku, bukan dengan kamu. Aku mengatakan seperti itu hanya sekedar berbagi dan mungkin saja dapat menguraikan malam dengan hiburan yang cocok. 

Tapi sudahlah ya, aku ini juga tak paham-paham amat tentang kondisi siang yang kadang suka berubah menjadi monster kata temanku. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku ketika malam hari, bukan karena aku ini kalong, tapi mirip. 

Aku terbiasa dengan angin malam, walaupun sering masuk angin, dan kata orang sich begadang itu berbahaya bagi kesehatan. Tapi aku masih saja bandel tak mau dengar omongan mereka. Ya paham sich dengan hal tersebut, tapi kalau aku tak bisa tidur, lalu bagaimana?, masa setiap malam harus minum obat tidur, yang ada bukannya sehat, malahan bisa “Is dead” kata orang jawa bilang. 

Ya aku sich pengen seperti kalian, yang bisa tidur dengan nyaman di tempat tidur yang empuk, ruang kamar yang nyaman sehingga bisa bangun pagi dengan segar dan berangkat beraktivitas dengan semangat. Tapi saat ini aku belum mampu seperti itu, bukannya sombong ya, memang keadaanku saat ini belum menggapai batas itu untuk hidup layak seperti kalian. 

Jika aku lebih menyukai malam bukan pula aku membenci siang, hanya saja aku tak memiliki kegiatan lain di siang hari, aku ini masih pengangguran kelas berat yang hanya mengandalkan rejeki di waktu malam datang, ya wajar saja aku lebih menyukai malam ketimbang siang, pahamkan maksudku!. 

Aku juga tak mencari rejeki dengan cara yang haram kok cuy, walaupun aku tak mengerti haram dan halalnya, tapi paling tidak aku mengerti jika apa yang aku kerjakan ini dapat memberiku keberkahan dalam hidup ini. 

Ya Apapun itu, sudahlah!. Saat semua berlalu, malam pun kiang larut, aku masih terjaga dan selalu mengandalkan kecerdikan jemariku untuk menari indah diatas tombol huruf keyboard notebook untuk menuliskan apa yang aku pikirkan dan apa yang inginkan tersampaikan lewat karyaku ini. 

Tak banyak yang aku harapkan dari apa yang telah aku habiskan bersama malam-malam dalam hidupku ini dengan coretan murahan ini. yang jelas, jika aku menuliskan ini untuk sekedar menyampaikan keresahan hati tentang siang yang kadang sulit untuk diartikan dalam akal sehatku, maka malamlah yang menjadi jawabannya. 

Alhasil, aku menemukan apa yang seharusnya aku dapatkan. Seperti malam yang selalu memberiku tempat tersendiri untuk bisa menuangkan anugerah Tuhanku melalui tulisan yang dapat aku sampaikan kepada mereka yang mungkin tak bisa hidup selayaknya hidup di dunia ini. Bukan seperti aku, tapi seperti apa yang aku rasakan saat ini. 

Aku bagian dari mereka yang selalu berlomba untuk mencari sesuap nasi demi bertahan hidup dalam cerdiknya waktu mengatur tempat dimana rejeki itu berada. Entah siang, dan malam selalu memberi tempat yang berbeda kepada setiap insan yang ada di hamparan kerasnya dunia ini. 

Bukan salah nasib atau pun salah kaprah dalam menjalani hidup, namun memang sudah menjadi pusat dari kewajaran sejatinya takdir yang telah tergariskan semenjak suara adzan terdengung diteliga waktu kecil dulu. 

Tuhan tak pernah salah, orang tua pun sama seperti itu, hanya saja kadang aku belum mengerti dan belum sampai ilmunya untuk bisa mengerti tentang keadaan hidup yang semakin hari membuatku semakin terdampar dalam keperihan waktu. 

Aku harap kau tak sepertiku dan mengikutiku, hanya berkawan malam untuk berkata, berteman malam untuk bercerita. Itu sulit bagimu, lebih baik kau berkawan dengan siang saja, karena banyak hal yang dapat kau katakan, dapatkan dan miliki jika kau tak terbuai dalam kehancuran waktu dirimu sendiri. 

Huruf tak akan pernah menjadi kata, jika kau tak mengejanya. Dan kata tak pernah menjadi kalimat jika kau tak menatanya menjadi sebuah arti. Begitu juga hidup yang kau miliki, kau tak akan pernah bisa menjadi berarti jika kau tak mengubahnya sendiri. 

Semoga saja tulisan jelekku ini dapat menjadikanmu orang yang luar biasa bukan sekedar orang yang suka diluar saja dengan melakukan kegiatan hal yang tidak ada manfaatnya sama sekali bagimu dan juga orang lain. Akhir dari kata mungkin terlalu pendek untuk aku ucapkan terima kasih, tapi bolehlah untuk mengucapkannya kepadamu agar aku tau jika terima kasih bukan kepala kepada sesama sehayamu saja tapi terima juga kepada sang penciptamu, salam dari pria penenun malam.
;

Baca Juga :

0 Response to "Cerpen : Pria Penenun Malam"

Posting Komentar