Memupuk Kesadaran Kongret Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan dan Kebudayaan di Indonesia Secara Menyeluruh Bukan Sebatas Skenario Perdebatan - Maschun.com

Breaking

Rabu, 11 April 2018

Memupuk Kesadaran Kongret Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan dan Kebudayaan di Indonesia Secara Menyeluruh Bukan Sebatas Skenario Perdebatan

Generic Banner
Maschun.com - Mewujudkan sebuah perubahan yang signifikan menyeluruh terhadap keinginan yang haikiki tentunya butuh kesadaran yang kongret dalam pelaksanannnya. Jika hanya berbentuk sebuah scenario dalam sebauh seruan, ajakan dan portal informasi saja, tentunya tidak akan terlaksana dengan baik dan juga tidak akan terorganisir dengan baik sampai ke sasaran yang diinginkan. 
Memupuk Kesadaran Kongret Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan dan Kebudayaan di Indonesia Secara Menyeluruh Bukan Sebatas Skenario Perdebatan

Seperti Pendidikan dan kebudayaan yang ada di Indonesia hingga detik ini. Kita sangat paham dan mengerti jika kita sudah merdeka dari bentuk penjajahan secara kenegaraan, namun kita belum merdeka dari kemajuan yang mendasar yaitu Pendidikan dan kebudayaan. Perlu kita sadarai dan resapi secara bersama, Jika Pendidikan dan kebudayaan merupakan medium efektif untuk menumbuhkan kesadaran kolektif bangsa. Dengan investasi pendidikan dan kebudayaan yang luas dan benar, maka di masa mendatangkan bangsa Indonesia akan memanen keberhasilan dalam bentuk kemrdekaan secara menyeluruh. 

Namun kesadaran dalam mewujudkannya cita-cita seperti iut masih belum sepenuhnya sempurna dan kondusif karena ternyata bangsa yang besar ini tak bisa fokus untuk menanam kebaikan masa depan melalui skenario acuh tak acuh dalam memberikan kebijakan atas pendidikan yang berkesinambungan dan tidak saling memercayai satu sama lain dan hanya memberikan arahan, seruan saja tanpa mendasarkan pada kerja nyata yang tentunya harus bersamaan turun tangan dalam mewujudkannya. 

A. Tantangan mengembangkan Kebudayaan dalam pendidikan di Indonesia secara menyeluruh 

Dalam mengembangkan peran serta segala pihak tentunya masih menuai jalan buntu hingga detik ini, dimana tantangan terbesar dalam pengembangan pendidikan dan kebudayaan ke dalam proses belajar mengajar yang benar masih terperangkap dalam politik saling menyalahkan atas langkah dan kebijakan itu baik dan itu salah. 

Belum lagi dari segi tenaga pengajar yang pada umumnya masih kerap memaknai pendidikan dan budaya sebagai sesuatu yang biasa saja dan umum sehingga bentuk implementasinya hanya sebatas mengenalkan apa itu pendidikan dan apa itu keragaman budaya sebagai sesuatu yang harus dihargai dan dikonservasi, karena itu adalah sesuatu yang sakral dan tidak dapat diubah dalam kontek ikut-ikutan saja. 

Dengan keadaan seperti iut, Pada akhirnya, tafsir soal pentingnya pendidikan dan budaya jatuh ke dalam salah paham dan hanya sebuah bentuk penghargaan seni dan budaya untuk mereka yang pernah mencetuskan pentingnya pendidikan di Indonesia ini. 

Seperti Contohnya saja dari seni tari, lagu, dan peninggalan bersejarah. Dimana kurikulum kita perlu lebih siap secara konsepsional menerjemahkan budaya sebagai sesuatu yang aktif, yaitu seluruh bangunan kebudayaan Nusantara merupakan pendorong untuk meraih sekaligus mengubah masa depan Indonesia yang lebih baik. Menghargai budaya sebagai sesuatu yang mutlak harus diperkenalkan dan diajarkan sehingga pemahaman siswa tentang budaya tidak sedar membaca saja dalam sebuah buku namun harus turun ke lapangan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. 

Alhasil, Jika pendidikan dan kebudayaan diajarkan secara menyeluruh dalam makna yang luas, artinya kita sedang mempersiapkan anak-anak kita untuk menjadi pemikir yang peduli dengan masyarakatnya dan memberikan efek kepada mereka yang belum terbangun dalam memakani arti pentingnya pendidikan itu dalam kehidupan mereka. Jika hal diatas kurang diperhatikan, maka muncullah pertanyaan, Mengapa masih ada saja salah kaprah terhadap gagasan pendidikan dan kebudayaan dalam pendidikan seakan-akan kebudayaan merupakan hal terpisah dari proses pendidikan?. 

Untuk menjawab pertanyaan itu, tentunya kita perlu melihat kebijakan kurikulum yang sering berganti tanpa ada mementingkan kegunaan dan cara penerapannya. Sehingga apa yang terjadi?, Kekacauan dunia pendidikan kitak semakin tak terarah. Tantangannya yang perlu ditaklukan adalah mencari titik awal dari perubahan itu sendiri, apakah memang ada segi pemerintah yang salah, dalam keluarga atau memang dalam masyarakat yang luas di Indonesia belum secara menyeluruh arti dari pendidikan dan kebudayaan sendiri, sehingga mereka tak terlalu memaksa diri untuk belajar memaknai kemerdekaan ini dengan menanam benih generasi berpendidikan. 

B. Kebijakan Pemerintah Dalam Pendidikan dan Kebudayaan di Indonesia 

Dari segi pemerintahan, memang belum terlihat perubahan signifikan di bidang pendidikan. Apalagi, jika dilihat dari sisi manajerial, penanganan pendidikan belum terfokus pada kebutuhan jangka panjang karena begitu banyak lembaga dan kementerian yang mengurusinya. Alhasil tak ada, dari banyaknya lembaga membuat tidak terarah dengan baik dan terpencar dalam menyelesaikan masalah pendidikan dan kebudayaan Indonesia ini. 

Sebut saja dalam hal pemisahan Kementerian Pendidikan Dasar dan Pendidikan Tinggi. Alasannya sederhana, setiap level dan jenjang pendidikan sesungguhnya merupakan satu tarikan napas kebijakan yang tidak bisa dipisahkan. Ambil saja satu contoh tentang bagaimana kurikulum diubah atau diganti, Peran perguruan tinggi seharusnya besar dan terus-menerus, karena perguruan tinggi merupakan destinasi akhir dari para siswa tingkat menengah. 

Setiap perguruan tinggi memiliki hak untuk mengusulkan sekaligus mengubah kurikulum pendidikan dasar dan menengah setiap tiga tahun sekali melalui sebuah riset yang komprehensif. Pmerintah pernah mencetuskan dengan serius revolusi mental dalam dunia pendidikan Indonesia, dimana mengandung makna setiap kebijakan hendaknya ditelaah dengan saksama dan sungguh-sungguh dalam rangka mengubah cara pandang dan perilaku masyarakat. 

C. Peran serta Mendibud, Keluarga, Masyarakat Dalam Pendidikan dan Kebudayaan Di Indonesia 

Jika berbicara mengenai peran keluarga serta peran serta masyarakat dalam bidang pendidikan memang sangat diperlukan dalam rangka mengetahui harapan masyarakat terhadap suatu isu dan menyepakati bagaimana melakukannya, dengan tidak lupa memberi peran mereka untuk terlibat secara langsung dalam memecahkan masalah tersebut. Apa yang menjadi janji-janji birokrat dalam menangani isu tersebut dapat dievaluasi dan di monitoring secara bersama. Tinggal lagi tugas dan peran para politisi serta birokrat untuk menunjukkan sumber daya yang memungkinkan sebuah isu dapat diselesaikan secara bersama-sama. 

Mendikbud dalam melakukan komunikasi politik dan budaya terhadap seluruh lapisan masyarakat, potensi untuk menggalang dukungan secara luas sesungguhnya amat memungkinkan untuk dilakukan. Dalam setahun terakhir, Birokrasi kependidikan Indonesia dengan masyarakat sudah mulai terbina, tetapi fokusnya tentu saja bukan untuk tujuan pencitraan dan keperluan politik semata. 

Dalam konteks kebijakan publik, Kemendikbud harus memiliki keberanian untuk mengatakan secara tegas dan langsung kepada yang bersangkutan bahwa keterlibatan masyarakat dalam mengelola sekolah ialah kewajiban untuk dan dalam rangka menghilangkan kesan jargon pendidikan gratis yang selalu didengungkan para politikus, dan mengabaikan kemampuan masyarakat. Banyak elemen masyarakat tidak mengetahui secara persis bahwa dari RAPBN untuk bidang pendidikan, sesungguhnya hanya dihabiskan untuk biaya rutin seperti membayar gaji dan tunjangan guru. Karena itu, bentuk peran serta masyarakat dalam proses pendidikan harus diaktifkan kembali dengan cara meminta masyarakat untuk mendukung operasional sekolah secara gotong royong tanpa pihak yang mengurusi masalah dapat secara leluasa memberikan penjelasan yang real tanpa ada harus ada yang menanamkan niat buruk demi kepentingan pribadi dan golongan saja. 

Bukan saja dari masyakarat yang harus dilibatkan, Namun pemerintah dan dunia usaha juga harus masuk dalam kerja Kemendikbud karena ada ribuan program korporasi yang tidak termanfaatkan dengan baik demi menunjang peningkatan kualitas pendidikan. Selain itu, ada banyak jenis institusi pemerintahan dan Lembaga swasta yang harus diajak berkontribusi secara kreatif dalam bidang pendidikan. 

Dengan adanya kerja sama seperti ini, jelas akan melahirkan sebuah cara untuk mengukur tingkat efektivitas sebuah kebijakan dalam menangani dan mendiskusikan sekaligus menganalisis proses penetapan kebijakan pendidikan dan menempatkannya di dalam wilayah publik yang sangat terbuka untuk didebat dan dipersoalkan dengan bersama. Seperti hal yang terjadi dalam dunia pendidikan dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan ini, dimana dunia pendidikan tanah Air masih dihantui dengan tindakan kekerasan yang menerpa sebagian besar siswa dan guru. 

Belum lagi tentang kurikulum yang diubah-ubah dalam penahapan implementasinya oleh menteri yang baru yang membuat binggung harus dikemanakan pendidikan Indonesia ini sebenarnya. Padahal, jika melirik awal dari K-13 diimplementasikan secara gradual melalui sekolah terpilih. Dari perubahan yang belum menentukan tersebut, maka terdapat efek negatif sebuah perubahan kebijakan pastilah tidak separah saat ini yang mengesankan dipenuhi unsur politis ketimbang alasan untuk bicara mengenai pendidikan dan kebudayaan di Indonesia. 

D. Pendapat Tentang Pendidikan dan Budaya di Indonesia 

Dunia pendidikan hal yang mampu memberikan efek pasti dalam perkembangan dan kemajuan sebuah negera. Dengan mendidik membawa orang untuk melangkah jauh dalam menghadapi tantangan jaman yang terus berjalan. Pendidikan memberikan pelajaran yang sangat penting bagi mereka yang berkekurangan menjadi mutiara yang terus bersinar. Pendidikan tak mengenal batas, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa sampai tua bahkan harus terus dididik. Dalam arti keseluruhan pendidikan sangat penting bagi setiap manusia. 

Dalam Negara Indonesia pendidikan tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa. Melihat fakta sejarah telah menunjukkan bahwa pendidikan begitu penting di Indonesia, para bapak dan ibu pendiri bangsa melihat pendidikan adalah syarat menuju Indonesia yang makmur, adil, dan sejahtera. Indonesia yang memiliki keanekaragaman suku, ras, budaya yang sangat banyak. Perlu mengemas pendidikan dalam bingkai kebudayaan. Hal tersebut untuk memperkuat identitas bangsa, menunjukkan kekayaan budayanya. 

Namun sayang, belakangan ini paham-paham intoleransi dan radikalisme mulai masuk dalam kehidupan bermasyarakat, budaya-budaya lokal sudah mulai hilang, moral dan etika masyarakat mulai berkurang. Intoleransi yang terus dibina akan mengarah ke terorisme. Dalam lingkup sekolah sudah jarang dilihat murid yang menggunakan bahasa daerah serta menunjukkan kebanggaan terhadap daerahnya. Terjadi kecenderungan budaya digunakan hanya pada kontes-kontes, pesta yang sifatnya seremonial. 

Untuk menghadapi kondisi tersebut, maka sebagai orang Indonesia harus tahu akan tanggung jawabnya sebagai Warga Negara Indonesia. Sebagai generasi penerus bangsa pemuda harus memberikan ide dan gagasan baru dengan inovasi dan kreatif. Sejarah telah menunjukkan bahwa pemuda sangat berperan dalam rangkaian merebut, memerdekakan, dan mempertahankan Negara. Itulah sebabnya generasi pemuda harus ditempatkan di garda terdepan sebagai pengawal dinamika kehidupan berbangsa, bernegara, beragama, dan bermasyarakat. 

Pemuda memiliki semangat serta jaringan yang kuat sehingga memampukan untuk melakukan kunjungan-kunjungan dalam kampung melihat kondisi sosial bermasyarakat. Banyak kegiatan yang dapat dilakukan dengan membuat taman bacaan di setiap kelurahan, dengan mengendarai kendaraan membuat perpustakaan keliling. Disinilah sebenarnya rasa bela berkorban diterapkan. 

Untuk membumikan pendidikan berarti harus menempatkan pendidikan yang dapat diterima oleh setiap orang. Semua orang dapat menerima tanpa mengenal status sosial, ras, suku dan juga latar belakang. Dalam sebauh keluarga misalnya, dimana sosok ayah dan ibu harus berperan aktif dalam mengajarkan norma tata krama, keagamaan, dan rasa saling tolong-menolong antar keluarga serta mengajarkan budaya yang menjadi kekayaan Republik Indonesia ini. 

Seharusnya keluarga dapat menjadi pintu gerbang utama dalam memperkenalkan dunia dengan cara yang kreatif melalui pendidikan yang baik. Komunikasi dan interaksi harus terus-menerus dilakukan dengan baik agar melatih anak untuk dapat berbicara terhadap sesame dengan mengerti mana yang tua, mana yang muda. 

Dengan mengandalkan peran keluarga sebagai kunci utama dalam melatih diri generasi muda untuk dapat memiliki jiwa dan pribadi yang baik dan kerkembang, barulah dilaksanakan dengan mengedukasi masyarakat menggunakan internet atas peran yang sukses anda lakukan terhadap keluarga tersebut. 

Dengan terselubung dan berkesinabungan yang jelas, maka akan melahirkan cita rasa sikap gotong royong dalam membangun negeri lewat investasi pendidikan untuk masa depan Indonesia tercinta ini. Dengan menyatukan segala perbedaan, maka sarana yang dapat digunakan adalah untuk menyebarluaskan melalui jaringan sosial, dan terbukti saat ini sudah banyak buku-buku yang tidak perlu di cetak dalam bentuk tumpukan kertas tetapi bisa dibaca dan di akses melalui jaringan online. 

Memanfaatkan perkembangan dunia digital seperti saat ini, maka semakin memudahkan semua orang untuk membaca dalam genggaman pastinya. Menyatukan budaya dan pendidikan dalam penggunaan internet dapat juga dilakukan dengan membuat game online dengan mengusung tema budaya lokal, lagu-lagu daerah hadir di Play Store yang dapat di unduh secara gratis. 

Namun dalam penggunaan dan pengaksesannya juga harus diawasi, baik itu secara keluarga, masyarakat dan juga mereka yang terlibat dalam penyedia konten tersebut, Karena kita sangat mengetahui jika saat ini marak dengan situs-situs porno, cyber crime, hacking, menyadap transmisi data orang lain. 

E. Revolusi yang Harus dikembangkan dalam Pendidikan dan Kebudayaan di Indonesia 

Perjuangan para pahlawan Indonesia menjadi poin utama dalam segala bentuk perayaan kemerdekaan, senantiasa perlu dikembalikan dengan seutuhnya. Apalagi Usia Indonesia yang telah menginjak telah usia yang lagi yaitu sudah 72 tahun bukanlah waktu singkat untuk bercerita tentang masa lalu perjuangan dan terbenam di dalamnya. Namun, seketika itu menjadi hal yang betul-betul terlampaui ketika menyaksikan generasi yang ada pada zaman sekarang ini, belum sepenuhnya mengerti dan memahami dengan baik apa arti dari kemerdekaan itu sendiri. 

Jika melihat secara menyeluruh dimana Pendidikan dan Kebudayaan yang lahir di negeri ini adalah hal yang patut diperhatikan secara mendalam. Budaya bukanlah sebuah tempat untuk bercerita atau sekedar pelabuhan dari rasa penat. Berbicara mengenai fakta tersebut tentunya terlihat jelas ketika pendidikan dan kesadaran akan kebudayaan hanya menjadi pajangan tanpa usaha pelestarian yang lebih mendalam dan terselubung dengan baik. 

Tak ada kata terlambat dalam Mewujudkan dan memajukan dunia pendidikan dan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia saat ini. Mulailah kita mengepakan sayap untuk bersama memberikan keleluasaan kepada masyarakat dalam mengelola nilai-nilai pendidikan dan kebudayaan. Jika dilakukan dengan seksama, maka hal ini akanmenjadi kontradiksi, ketika masyarakat sendiri diberi kewajiban oleh pemerintah untuk ikut serta dalam berpihak pada kepentingan bersama. 

Terlaksana pendidikan dan kebudayaan atas dasar pengertian dan pemhaman yang luar biasa, maka akan melahirkan generasi-generasi sepanjang masa bangsa ini yang semakin hari semakin memberi dampak yang baik bagi pertahanan kemerdekaan Indonesia. Nilai-nilai patrioitisme akan lahir dan tidak bisa dipungkiri akan tumbuh dengan sendirinya, ketika kebudayaan sejak dini dan terus menerus menjadi bagian dalam pembelajaran, baik secara formal maupu non-formal. 

Keterpaduan kebudayaan dalam sebuah pendidikan teramat diperlukan. Sisi yang mendapat poin utamanya adalah menumbukan sifat kepedulian lingkungan dan megenal sebuah nilai luhur dari para pencetus pendidikan dan kebudayaan yang pernah lahir di Indonesia ini. Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kesenian menjadi dua mata pelajaran yang disuguhkan untuk peserta didik. Pembelajaran ini bukannya tidak menuai, namun hanya mampu tertuangkan dalam sebuah nilai rapor setiap akhir semester tanpa perluasan makna dengan baik. 

Beberapa aset budaya nasional yang butuh refleksi ingatan kembali. Refleksi ini bukan menggambarkan tentang hilangnya budaya yang ada ataukah kita sejauh ini sudah tidak berbudaya lagi. Namun, marwah Indonesia dari ragam budaya menjadi usaha sadar untuk tetap mengambil bagian dari sendi-sendi kehidupan masyarakat indonesia. 

Kebudayaan yang ada di Indonesia namun digerus oleh zaman perihal pakaian nasional: batik dan kebaya. Pakaian adalah kebutuhan yang dapat seketika berubah-ubah mengikuti dinamika moderenitas. Anak bangsa dipastikan tahu batik dan tahu kebaya. Tapi, apakah mereka mengerti bentuk dari setiap sisinya, warna, lekukan garisnya sampai pada cara pembuatan?, Inilah yang menjadi pertanyaan besar kemana nila-nilai budaya kita. Sebut saja Tanah Toraja, salah satu daerah kabupaten di Sulawesi-Selatan. Terkenal dengan adat istiadatnya, ciri masyarakatnya, dan nilai kerukunan bermasyarakat yang tinggi. 

Perjalanan batik nusantara dengan segenap prestasi yang telah dilahirkan, namun miris upaya mengenal lebih jauh kususnya kalangan pelajar. Kebudayaan pada tulisan di atas setidaknya menjadi perwakilan dari banyaknya kebudayaan nasional yang ada. Namun butuh sentuhan pelestarian yang konkrit dalam menjaga dan merawat apa yang bangsa ini miliki, khusunya para peserta didik harapan bangsa. Muatan lokal yang ada pada kurikulum hari ini sudah sepatutnya menggambarkan secara mendalam dan utuh tentang kearifan lokal Indonesia. Merawat, menjaga, dan ikut mengangkat citra kebudayaan Indonesia dimata dunia adalah bentuk dari salah satu sifat nasionalisme yang menjunjung nilai persatuan dan kesatuan negeri ini. Merdeka yang hakiki adalah masyarakat yang mempu mengenal dirinya dan mampu mengenal bangsanya. 

F. Kesimpulan Tentang Pendidikan dan Kebudayaan di Indonesia 

Dari ulasan diatas disimpulkan bahwa Pendidikan dan kebudayaan di Indonesia belum tersaji dengan baik dalam memberikan materi yang nyata, lebih banyak menyerukan daripada harus turun tangan ke dunia pendidikan itu sendiri serta masih rendahnya peran pemerintah, keluarga dan masyarakat dalam memaknai pendidikan dan kebudayaan itu adalah otak dari negera untuk maju dan berkembang. 

Pendidikan dan Kebudayaan di Indonesia harus bisa memberi dampak yang positif dan tidak boleh di campur adukan dengan dunia politik yang ada, harus ada wadah tersendiri jika ingin pendidikan dan kebudayaan ini maju. Jika terus diperdebatan, dan tidak dipisahkan dengan dunia politik, maka pendidikan dan kebudayaan di indonesia ini sulit untuk maju, dan sampai kapan pun akan terus bertahan seperti air yang mengalir dalam skenario tanpa ada wujud nyata dalam perkembangan untuk bisa memopang kemajuan negeri berlandaskan pancasila dan UUD 45 tentang pendidikan dan kebudayaan yang mencerdaskan bangsa. Semoga bermanfaat untuk anda semuanya, semoga semakin bertambahnya usia Republik Indonesia ini, semkin dewasa pula seluruh rakyat pertiwi ini jika Pendidikan dan kebudayaan itu sangat penting dalam sebuah Negara, terima kasih.

2 komentar:

  1. nggak cukup dengan sekedar skenario aja, harus ada kesadaran konkret dalam mewujudkan suatu perubahan hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, karena sekarang masih banyak berdebat saja, tapi turun ke lapangan masih minim

      Hapus

ARTIKEL BERMANFAAT LAINNYA :

loading...