Bersama UNTAN Membangun Negeri dan Bangsa Indonesia

Bersama UNTAN Membangun Negeri dan Bangsa Indonesia Bersama UNTAN Membangun Negeri dan Bangsa Indonesia   - Pada ulasan kali ini, pe...

Cerpen : Alenia Senja

;
Jika alasanku menulis adalah kamu, maka aku rela menghabiskan setiap kata yang ku ucapkan menjadi kalimat dalam karyaku. Jika alasanku mencintaimu adalah setia, maka aku rela menghabiskan waktuku untuk menunggumu. Jika alasanku menyukai senja adalah indah, maka aku pastikan tak ada waktu yang kulewatkan untuk melihatnya. 
Cerpen : Alenia Senja

Seperti hari ini, maka masih saja setia memenang kata suci yang pernah kau ucapkan dulu. Ya dulu, saat kamu dan aku masih satu dalam ikatan cinta dan rindu ketika terpisah jarak. Walaupun saat ini itu hanya sebauh kenangan saja bagiku, namun aku selalu menyempatkan diri, sesibuk apapun tentang hidupku saat ini, ketika senja datang aku selalu menatapnya dengan indah, seperti saat aku menatap kepergianmu saat itu. 

Kini dan selanjutnya, aku tak pernah merasa jika setia yang aku pegang atas namamu itu berat bahkan mengusik orang-orang yang berada di sampingku. Aku tau itu tak adil bagiku dan juga mereka yang berada di sampingku saat ini, namun aku selalu berkata, jika itu tak mudah untuk aku lenyapkan dan aku terus berusaha semampu manusiawiku untuk melupakan segala tentangmu, tapi aku tak bisa, jadi apa boleh buat. 

Aku juga merasa tak adil dengan keberadaanmu saat ini, bersama mereka yang telah membuatmu bahagia disana, namun haruskah aku mengaku kalah dengan kata cinta yang pernah kau ucapkan dulu kepadaku. Kau selalu bilang, cinta itu tak akan pernah membuat orang menderita, hanya saja mereka sendiri yang membuat cinta itu menderita. 

Kata-katamu itulah yang selalu menjadi alasanku untuk menjadi diri yang kuat dan selalu tabah dalam menghadapi omongan orang tentang seberapa buruk aku di mata mereka. Aku bukanlah orang yang mampu untuk mengusik kebahagian orang dan aku juga tak bisa berkata mereka itu benar, namun aku hanya ingin egois seperti ini, egois mengenang satu harapan cinta yang pernah meninggikan derajatku dalam bahasa rindu. 

Lelah, tak harus aku berkata seperti itu. Bahkan ketika aku lenyap pun diatas dunia ini, aku akan tersenyum dengan caraku sendiri, bahkan aku juga tak akan bertanya kepada Tuhan, kenapa aku menjadi pria yang begitu cengeng dengan cinta, karena hal itu aku sendiri yang melakukannya, jadi, wajar saja jika aku begitu rentan dengan kesedihan. 

Kamu juga tak harus meratapi kesedihanku kehilanganmu. Sejak saat itu, kau pergi tanpa ada kabar dan penjelasan yang kuat kenapa kau memilih pergi pun sebenarnya aku sudah sangat paham. Aku segaja menyibukan diri untuk mengetahui penjelasan itu, agar kau paham dan mengerti jika aku tak ingin kau pergi begitu cepat saja. 

Namun itu tak terkabul sepertinya, Aku mencoba menghubungimu kesana kemari, bahkan aku jadi lupa diri sampai saat ini pun aku masih saja bertanya kepada waktu, apa alasanmu pergi tanpa pamit. Padahal kau selalu bilang, jika nanti kita tak bisa bersama, aku akan jelaskan apa yang harus kita lakukan. 

Namun, aku jadi binggung, sejenak ku berpikir itu benar, namun sejenak lagi ku meratapi, itu kan sudah takdir, kenapa aku harus bertanya lagi, padahal aku sudah mengerti jika kita memang tak jodoh. Terus terang ya, aku tuh Cuma pengen banget, pengen sekali malahan untuk bertanya kepadamu tentang kejutan yang kau berikan ketika itu, iya kejutan di saat aku berjuang menyelesaikan kuliahku untuk bisa hidup bersamamu. 

Aku sangat ingat, ketika aku siding skripsi, di waktu yang bersamaan kau melangsungkan pernikahan. Hal itu seakan sudah di tulsikan dalam sebauh kamus hidupku tanpa aku mengetahuinya terlebih dahulu. Seadainya saja aku duluan membaca, maka aku tak akan menghabiskan waktu sidangku itu, aku pasti akan pulang menemukanmu jika aku sangat menginginkanmu, bahkan lebih dari itu. 

Tapi sayang, aku kesibukan untuk menyusun skripsi sehingga apa yang telah tertulis dalam kamus hidupku itu lupa untuk aku baca dan lupa untuk aku buka sehingga apa yang tertulis di dalamnya lupa untk aku hafal dan aku pelajari dengan baik. 

Jika kau bertanya siapa yang salah, ya aku sich boleh bilang tak ada yang salah, kan aku bilang semua itu sudah takdir. Apapun yang ku tau dan ku rasa tentang bahasa kepergianmu saat itu, aku selalu menyikapi dengan baik. Entah rindu, entah sangat, aku hanya bisa merasakan sekarang tanpa mampu berkata, yang jelas di setiap alenia senja yang hadir, aku selalu berkata, Jika saat ini aku sangat merindukanmu, mungkinkah kau masih merasakan hal yang sama?. 

Aku harap jangan, karena itu tak adil bagi orang-orang yang ada dalam hidupmu saat ini. Jangan kau lakukan itu kepada mereka, cukup aku saja yang harus menanggung semua rindu itu kepadamu. Beri mereka apa yang seharusnya mereka dapatkan darimu. Rindu, cinta, air mata bahkan pengorbananmu, curahkan segala itu kepada mereka, karena itu adalah tanggungjawabmu untuk bisa bertahan hidup diatas dunia ini. 

Tentang kita, biarlah itu hanya sebait kalimat yang pernah tertulis dalam kamus cinta. Dan saat ini aku sedang membacanya tanpa harus menuntut apa arti dibalik semua yang tertulis di dalamnya. Aku hanya ingin membaca, karena kamu pernah ada di dalamnya, dalam sebauh kisah yang tak mampu kita selesaikan dengan indah. 

Aku bahagia, tentu sangat bahagia bisa memiliki cerita dari orang sepertimu, sepertimu yang pernah membuatku bangkit, orang yang dewasa dan orang yang kuat seperti saat ini. Jika kau bilang aku membencimu karena kau telah meninggalkanku dalam waktu yang kurang baik, itu pikiranmu saja yang kurang baik. Aku tak akan melakukan itu kepadamu, karena aku tak menjadi seseorang yang luar biasa seperti saat ini, jika aku tak pernah bertemu denganmu saat itu. 

Jadi, aku bangga bisa bertemu dengan seseorang yang luar biasa sepertimu dalam hidupku, hanya saja aku tak sempat bilang terima kasih kepadamu saat itu, karena saat itu aku terlalu bahagia dimiliki kamu, jadi hal yang seharusnya ku katakan kepadamu, hilang tanpa berpikir itu akan menjadi Tanya dalam rindu seperti saat ini. 

Namun percayalah, Aku selalu bilang itu semua kepada senja, di setiap alenia senja yang selalu ku tulis dengan kalimat ucap untuk bilang apa yang aku rasa tentangmu, semoga saja kau dapat membacanya ketika senja datang. Kau tau, Apa yang sering aku lakukan saat senja datang, melakukan hal bodoh yang pernah membuatmu tertawa dulu yaitu bicara sendirian kepada langit tentang apa yang aku inginkan katakan. 

Jika suatu saat nanti, senja tak lagi mampu aku lihat karena mataku tak mampu lagi menatap langit yang jauh, maka aku selalu berasa jika senja selalu berbisik kepadaku bahwa ada pesan rindu untukmu, yaitu pesan yang selalu kau tuliskan dulu dia mengetahuinya dan dia bilang itu terlalu indah untuk kau lakukan. 

Semoga saat ini kau bahagia bersama mereka yang sudah selayak memberimu bahagia, bahkan aku selalu berod’a agar lebih dari bahagia yang pernah kau dapatkan dariku. Tentang aku disini, kau tak perlu bertanya bahkan aku tak pernah mencoba untuk berpikiran agar kau mengingatku, karena itu tak baik untuk bahagiamu saat ini. Jika kau ingat, biarlah itu menjadi omongan angin saja yang akan berlalu tanpa permisi. 

Aku dan kamu memang cinta, namun dalam bahasa cinta tak ada kata paksa memaksa, harus dan jangan. Yang Jelas, kita sangat memahami arti cinta dalam hidup kita, jika pun itu salah, maka kau tak boleh bertanya kepada kita tidak bisa bersama, karena aku takut bahagiamu dan bahagiaku saat ini menghilang hanya karena kita megusiknya. 

Teruntuk kamu yang pernah ku tulis di setiap alenia senja saat itu, maafkan aku jika setiap senja aku masih melakukan hal yang sama, bahkan sampai saat ini. Bukan karena susah move on darimu, bukan pula ingin membuat hatimu gaduh dan juga memngharapkanmu kembali, itu permintaan yang terlalu sulit untuk aku harapkan. 

Aku melakukan itu semua hanya ingin membuktikan kepada cinta, cinta yang pernah aku perjuangan dengan sangat sempurna dalam hidupku dan wajar saja jika aku selalu mengenang itu semua dengan senyum untuk sekedar melepas lelah dalam hidupku hingga berujung senyum dan bahagia jika terikat itu semuanya, tentang kamu.

;

Baca Juga :

Loading...

0 Response to "Cerpen : Alenia Senja"

Posting Komentar