Gelandangan Tamat Sarjana

Desaku tak ramah dengan kehadiranku sejak itu. aku dilahirkan ditempat yang salah atau benar ya. Namun takdir itu telah bicara sejak aku belum mampu bicara seperti ini. Jadi wajar saja jika aku menjadi orang yang keras kepala menantang matahari yang begitu panas diluar sana, hujan yang terlalu dingin menggelitik jiwa.
Tak peduli seberapa besar harapan orang tua yang ku perankan untuk menjadi seseorang yang berguna, namun aku masih saja bandel berada ditengah jalan berliku penuh tanda tanya.

Sukses, omong kosong bagiku. Orang kaya itu cuma mimpi siang bolong, atau jadi orang yang berguna, terlalu jauh rasanya waktu yang harus aku habiskan untuk menepati janji itu.

Lihat kerikil tajam menusuk di sepatu lusuhku ini, tergores luka terasa sakit dikaki. Tak sempat aku buang, kerikil demi kerikil menusuk kembali.

Lain kali, biar paku, pecahan gelas atau piring sekalian biar aku tak sadar jika kakiku berlumuran darah, terus berhenti berjalan, untuk tau apa yang aku temukan dan apa yang aku dapatkan.

Ah..., aku ini tidak bersyukur sepertinya. Siapa bilang?, Jangan mengajari aku, rasanya kau butuh waktu untuk sampai pada tahap waktuku ini.

Aku punya Tuhan, dan kau kira aku ini gila dan tak pernah mengenal Tuhan. Sudahlah, kau urus saja Tuhanmu, jangan ajari aku untuk menyalahkan Tuhanku, karena aku tak akan sanggup menantangnya walaupun aku ini orang sukses, kaya ataupun punya ilmu kebal, itu tak kan bisa.

Coba saja kalau berani dan bisa, paling-paling hidup kau makin sengsara. Lalu kenapa aku diam saja seperti daun-daun kecil yang jatuh, diinjak-injak orang, berlumuran tanah liat membusuk?, ah itu pertanyaan anak kecil.

Hidup ini aku yang jalani, mau seperti sampah sekalipun kau menghinaku, ya aku tak bisa bilang kau itu salah, itu benar perkataanmu.

Kau terlalu memujiku seperti sampah, itu kan kau sebagai manusia tapi aku harap tidak dengan Tuhanku, semoga saja dia tak berkata liar sepertimu.

Terlantar katamu!, apa emang iya aku seperti itu?, sepertinya benar perkataanmu, dari awal aku mengeja jalan hidupku, aku paham jika aku memang seperti itu, terlantar tak tau arah, mengikuti jarum jam yang berputar tanpa ada persinggahan yang pasti.

Atau kau bilang aku malang?, tunggu sebentar!. aku lihat kondisiku saat ini atau kau boleh lihat sendiri saja biar kau lega jika aku memang malang melintang mencari sesuap nafas untuk hari ini saja sulit.

Setelah kau lihat semua tentangku, kau bolehlah berkata seenaknya, wajar saja orang sesuai fakta kok. Takut aku marah?, kenapa harus mesti marah orang benar kok, aku memang malang, bodoh atau buruk nasib?, bolehlah!, tak apa, itu kan cuma gelar saja untukku.

Kenapa?, takut kau berdosa mencelaku seperti itu. Tak usah takut, emang salah ya kalau bicara sesuai fakta, aku saja tak masalah kok. Terus saja kau pandangi aku seperti itu atau boleh kau ajak orang sekampung tertawa didepan nasibku, aku malah bangga kok.

Lah kok bisa bangga?, la iya, bangga saja kau telah membuat banyak orang mengenal muka desoku ini, muka meles, muka buruk nasib atau muka kasihan, aku jadi artis dadakan rasanya.

Dasar orang gila!, wong edan!, kau kuberi perkataan seperti itu malah ketawa-ketiwi, nyengir seperti sapi, seharusnya kau marah atau memukulku atas hinaanku itu.

Tak perlu begitu,aku ini memang gila tapi masih waras. Jika aku marah dan emosi dengar celoteh burukmu tentangku, itu sama saja aku gila sepertimu.

Gila pujian, gila dunia, gila jabatan atau gila beneran. Aku nggak ngomong lo ya, itu kan sesuai fakta juga, kenapa kau begitu bising dengan kehidupan orang lain.

Lihat keadaanmu, hidup saja masih numpang didunia ini, masih bangga juga dengan roda duamu atau roda empatmu?, seketika bisa saja musnah ditelan keburukanmu.

Lo kok kamu nyumpahin aku?, lah itu benar kok. Lihat saja gayamu peteta-petenteng depan orang banyak, lebay.

Masih mending aku, walaupun aku mau gaya apa saja depan orang banyak tak jadi masalah, la orang juga tau aku ini gelandangan, jadi wajar setiap hari lewat sini jadi tak heran jika aku mau pakai ini dan itupun tak jadi masalah.

Bahkan nanti nich ya, kalau aku jadi orang sukses juga orang tidak sadar karena aku tidak menyombongkan diri sepertimu.

Walah..., kamu ini sok jadi penceramah kelas wahid yang bayaran dan istrinya banyak saja. Kamu itu gelandangan, putra kelana katanya, ya sudah, terima nasib saja, jangan bawa-bawa orang lain untuk mengikuti jejakmu yang malang itu.

Terus aku harus bilang situ oke gitu?, ya nggak lah, aku ini memujimu bukankah kau yang menghinaku, malah aku yang dimarahin lagi, dasar orang kaya zaman sekarang, minta dihargai dan dihormati kok maksa, kaya copet aja maksa.

Ya sudah!, aku ini orang yang memang tak pantas untuk kau ajak bicara, aku ini gelandangan tamat sarjana yang masih sibuk cari kerja, aku akan terus berusaha mencari kerja.

Kau urus saja pekerjaanmu agar tak diambil orang atau aku yang ambil nanti jadi kau bisa merasakan susahnya cari kerja zaman sekarang.

Aku pamit yo, aku mau telusuri lagi kotaku ini yang katanya putra daerah sangat dihargai disini dan gampang cari kerja tapi kenapa aku sampai saat ini belum dapat kerja juga ya, padahal aku ini asli orang sini loh.

Ya mungkin itu perkataan orang saja jika mudah dapat kerja tapi aku tidak berpikiran seperti itu loh tentang pemimpin kita ini kenapa tak peduli dengan rakyat kecil sepertiku ini. Aku cuma merasa seperti itu sejak aku jadi pengangguran seperti ini, dulunya tidak pada saat aku masih kerja.

Jadi jangan dimasukin ke hatilah, aku juga nggak berarti apa-apa walaupun aku harus ngomong lantang didepan istana sana, paling juga diusir atau dipukuli oleh para pengawal.

Bukan aku saja, masih banyak kawan diluar sana yang masih sibuk dengan kesusahannya sampai saat ini, cari kerja dan cari nafkah.

Orang bilang negeri kita ini kaya, kaya pengangguran kelas berat. Jadi bukan olahraga tinju saja yang ada kelasnya, pengangguran juga ada, aku contohnya.

Tak cari kerja, cari malah terus. Dapat panggilan interview, giliran intetview diminta tembusan 20 juta kalau mau kerja disini.

Walah..., orang mau cari duit kok, malah dimintain duit. Kebiasaan orang pintar zaman sekarang kuy, kalau udah diatas ya seperti itu kelakuannya, semua diperes.

Aku berapa kali tes intetview di kotaku tercinta ini, alasanya banyak udah kaya menjawab pertanyaan KPK saja. Kantor sudaj banyak karyawanlah, tidak butuh lagi lah atau keuangan perusahaan lagi jeleklah, tapi pas ditanya berapa pak bos?, 5 juta, 10 juta atau semaumu dewe?, tenang itu bisa diatur. Berarti ada masih ada dong penerimaan karyawannya, cuma dikasih ongkos dulu sepertinya.

Jadi banyak banyak yang jadi pengangguran bukan tak lulus tes atau interview, namun ada ongkos yang tak bisa dibayar dengan sarjana, pintar, bertanggugjawan ataupun ulet dan rajin.

Wajar saja, orang pintar tak pernah jadi bos tapi orang bodoh bisa jadi pemimpin di negeri ini asalkan banyak duit. Jadi pengangguran tamat sarjana bukan mereka tak bisa bertanggungjawab dengan gelarnya namun untuk bekerja di negeri ini berat diongkosnya.

Ya seperti aku contohnya, cuma ngiler ingin kerja dipemwrintahan ataupun dikantor swasta dikotaku ini. Bukan aku tak punya skill dan pengalaman untuk kerja disana tapi itu tadi, aku tak sanggup jika harus menebus biaya masuk kerja puluhan juta.

Ada yang sanggup?, tentu adalah tapi itu alasan mereka untuk menjadi korupsi jika pekerhasn itu sudah ditangan. Apakah mereka salah atau khilaf, menurutku wajar karena tak ada orang yang mau dirugikan, garus balik modal dong.

Yang salah siapa?, tidak ada yang salah pastinya. Lagian jika ditanya juga tidak bakalan ada yang ngaku bersalah. Lebih baik biar seperti ini dan itu saja, ya seperti aku yang hanya mampu diam dan tertawa lepas atas ulah mereka dalam negeri ini.

0 Response to "Gelandangan Tamat Sarjana"

Posting Komentar