Bicara Sendiri

Semakin terik ku mencoba, semakin teduh mendekam. Semakin tegar ku mengarungi, semakin gahar rintangan mencekam.

Akankah raga ini rapuh, atau jiwa yang pupus, terlantar dalam kesedihan yang kian mengaduh. Atau membiarkan alam menyiksa, Agar penghuni langit mendengar jeritan hati seorang pengaduh.
Mencoba melepas belenggu takdir mengikat diri, atau sekedar memberi jeda kepada pemberi jalan hidup. Namun perlakuan emosi tak surut mengering, meminta jawab prasangka baik.

Lihat angin mulai berputar arah, menyapu bersih dinding harapan. Hingga bersih, tak berbekas, lalu sibuk mencari penunjuk arah kemana harus memulai lagi.

Belum lagi luka parah yang mengangga dalam resah, bertanya tentang obat penenang lalu berteriak parau ingin buyarkan malam yang terikat sepi.

Kenapa terdiam membisu, membiarkan segala pahitnya hidup mengelantungi sudut-sudut raga. Kenapa hanya termenung kaku saat pasrah menyerang jiwa nurani hingga bertubi-tubi.

Kenapa tak berlaku kasar disaat kacau balau otak mulai menindih raga untuk terjatuh. Atau memang nasib memang menjadi alasan, kenapa dunia begitu sulit untuk diraih.

Doa sang malaikat tanpa sayap telah memutih seperti buih bertebaran dilautan lepas, namun prasangka masih saja miskin akan nikmat syukur.

Ada apa dengan waktu dimiliki, ada apa dengan raga dan jiwa dimiliki, mungkinkah telah terjerat dalam kubangan dosa yang mengubur nurani hingga tak tersekap bisu.

Entahlah..., tak menemukan jawaban yang pas bahkan tuntas. Detik dilalui, gersang menyapa yang terdengar. Siang terjalani, sial yang dipetik. Malam dirasa, sepi menemani.

Acchhhh...., Kenapa ini, kenapa terlalu mengaduh tentang perasaan hidup saja. Tidakkah mata melihat sekitar. Mereka tersenyum, tertawa lepas walau terkadang nasib mereka tak kunjung lepas dari kesusahan.

Linglung..., lihat mereka, mereka saja tak mengingat hari ini makan atau tidak, tapi mereka bisa menghirup udara segar dan merasakan nikmat sang pencipta itu nyata.

Sementara suaraku, hanya omong kosong diperdebatkan oleh hati. Bilang aku inilah yang paling susah, yang paling sulit, yang paling buruk nasib, yang paling..., apalah itu semua tidak penting.

Merengut dengan panas, tertindas karena hujan. Terlunta karena nasib, terkikis karena keadaan. Apalagi yang perlu aku katakan, semua telah aku borong untuk mengecap diriku yang paling hina.

Tertawa Tuhan mendengar celotehku rasanya. Ahhh..., aku ini emang ego dengan diri sendiri. Entah kenapa aku menjadi orang seperti ini, tiap hari ngedumal tak jelas, tak masuk akal atau aku ini orang gila yang masih waras.

Atau pura-pura gila, jadi berantakan semua, kumuh biar orang kasihan lalu dapat sebongkah nasi bungkus dan kepingan uang logam yang dijatuhkan orang yang lewat beringas bermuka masam.

Senang begitu?, ahhh...tidak, tidak, tidak. Aku tak mau jadi penadah, hidup dari jerih payah orang lain, padahal ragaku masih utuh, masih kece punya dan sedikit tampan.

Masa harus seperti itu, malu aku, malu aku sama tiang listrik rasanya. Tiang listrik saja tak komenter tuch, kepanasan, kehujanan, semua dia rasa tapi dia tetus berdiri kokoh untuk memberi kebaikan ke dunia ini.

Masa aku kalah sama tiang listrik, malu punya hidup, malu aku punya raga atau malu aku punya waktu.

Tapi..., bagaimana dengan nasibku ini?, sudahlah kau eja aja sendiri, kau jalani saja sendiri, biasanya juga keadaan itu yang aku makan dan santap setiap hari.

Oh iya ya, aku lupa..., aku lupa jika aku ini orang seperti itu. Ya sudahlah kalau begitu lebih baik aku jalani saja sampai mati, bukankah semua juga akan mati dan untuk apa bicara dan merenung soal nasib, Tuhan juga tau kok kalau aku ini orang susah. Susah kok jadi bangga, susah kok ngomong, diam saja orang juga sudah tau kalau aku ini orang susah. Biarkan saja begini, begini yang harus aku jalani.


0 Response to "Bicara Sendiri"

Posting Komentar