Cerpen : Andaiku Sepertimu

Jejak langkahku hari ini terpati pada sebuah keramaian ibukota Jakarta ini. Dari lorong jembatan, terpaku mataku pada sebuah pemandangan yang tak asing lagi jika kita berada di Ibukota ini yaitu mereka yang terpaku duduk terdiam dalam harap menerima bantuan dari setiap kaki yang singgah memberi mereka rejeki. Mereka bukan pengemis ataupun gelandangan yang tak mau berusaha mencari pekerjaan yang lebih mulia dari pinta meminta, Namun mereka memang tak dapat bergerak dalam hidup mereka, jangan untuk memikirkan masa depan dan kehidupan yang layak di dunia ini, Untuk hidup hari saja mereka kesulitan sekedar mencari sesuap nasi.

www.pexels.com

Bukan Ingin mereka tentunya dan juga bukan ingin dunia jika mereka harus melakukan itu semua demi bertahan hidup di dunia ini sampai waktu yang telah digariskan dalam hidup mereka berada dibumi ini. Namun perlu digariskan bawahi, mereka tak pernah menyerah, tak pernah putus asa dan tak pernah mengusik siapapun, menyalahkan siapapun di dunia termasuk mereka yang mungkin telah meninggalkannya terbengkalai dalam kejamnya ibukota ini.

Pada hari itulah aku bertanya kepada mereka, mereka yang aku lihat begitu tegar menghadapi teriknya matahari, begitu kuat menahan dinginya malam tanpa tempat tinggal yang jelas dan mereka yang begitu gagah menerima caci maki dunia tentang apa yang telah lakukan hari ini. Belum lagi harus diburu para tata tirtib ibukota, kadang pula mereka tertahan dalam jeruji besi yang menuntut mereka untuk berkata jujur, Apakah kalian memang pengemis buatan atau memang hidup yang menuntut kalian untuk melakukan ini semua?.

Terlihat jelas dari raut wajah itu memandangku dengan sendu, lalu mendekat kepadaku, hingga berkata kepadaku, Andaiku sepertimu, Mungkin aku tak akan seperti ini, hidup tak memiliki arti apa-apa di dunia ini. Andaiku bisa sepertimu, maka akan aku katakan kepada dunia, jika aku terpaksa melakukan ini semua demi bertahan hidup, bukan mauku berada didaratan ibukota ini, namun entah kemana lagi aku harus berada, sementara keluarga saja aku tak punya.

Melihat kondisi tersebut, rasanya air mataku tak tahan mendengar penjelasan itu, tak mampu menahan gejolak sedih dalam hati, ternyata aku belum terbangun juga dari tidurku tentang hidup yang aku jalani saat ini. Dimana aku begitu sering mengeluh, mengeluh dengan kehidupan yang aku dapatkan saat ini, padahal jauh lebih baik daripada mereka, kenapa aku tak bersyukur dengan apa yang aku nikmati dalam hidup ini.

Tapi mereka, mereka yang tak sempat memikirkan hari esok harus kemana, harus makan apa dan harus tinggal dimana lagi, tak pernah membenci matahari kenapa terlalu kejam menyinari badan mereka hingga terasa panas, dan mereka tak pernah menyalahkan hujan dikala membasahi tubuh mereka tanpa ada pelindung dan mereka tak pernah menganggap Tuhan itu tak adil, padahal mereka begitu kesulitan dalam hidup.

Kenapa aku yang masih bisa tertawa lepas, masih meragukan keberadaan Tuhan atas nikmat yang telah DIA Berikan untukku, kenapa begitu mudah untuk menyerah dalam waktu, sementara aku masih bisa memikirkan, mau makan apa hari ini, masih dapat aku pilih dan kenapa aku begitu mudah untuk bilang Tuhan itu tak adil, sementara kemudahan begitu sering aku temukan dalam jalan hidupku.

Aku merasa begitu malu dengan mereka, Mereka yang hanya mengandalkan insting saja untuk sekedar bernafas hari ini, masih bisa berkata jika mereka masih punya Tuhan dan mereka tak pernah berkata jika hidup mereka terlalu sulit, sementara aku begitu hanyut dalam bujuk rayu rasa ingin yang tak berarti puas dan bersyukur.

Hinggga matahari terbenam, Aku kembali pulang dari menelusuri lorong-lorong waktu ibukota hanya sekedar ingin mengetahui apa yang Tuhan tunjukan kepadaku tentang hidup yang sebenarnya agar aku dapat memahami dan belajar banyak dari segala hal yang terjadi diatas dunia ini agar aku tak lupa jika masih ada mereka yang memerlukan bantuan dari aku dan kau yang mungkin memiliki hidup lebih dari mereka.

Tuhan menitipkan sesuatu kepada menusia dimuka ini bukan karena mereka memang orang kaya, orang pintar dan orang sukses, namun setiap keberadaan sesuatu yang DIA titipkan kepada manusia tentunya ada maksudnya dan termasuk saling berbagi kepada mereka yang membutuhkan bantuan kita semua, mereka yang mungkin saat ini sedang mengumandangkan lapar dan lapar, sementara kita masih sempat membuang nasi dan menolak dan memilih makanan yang kita inginkan.

Mereka, mereka tak begitu sulit menghadapi hari ini saja karena kehidupan yang begitu sulit, bukan karena mereka tak mau berusaha untuk beranjak pergi dari kesulitan itu, namun setiap detik langkah yang mereka jalani selalu terbentur keadaan diri yang tak memiliki apa-apa dan mereka sangat membutuhkan bantunya kita semua. Semoga kita membuka mata untuk mereka yang sedang berduka.

Artikel Terkait

Cerpen : Andaiku Sepertimu
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email