Bahasa Rindu Dalam Berkas Cinta

“Ketika Hati berusaha membuang jauh angan mengggapaimu,
Namun entah kenapa rindu semakin pekat menyesatkan mendulang emosi dalam diri.
Ketika diri berusaha untuk membenci hadirmu,
Namun entah kenapa senyummu selalu merayu engan pergi melepas rasa dalam hati.
Ketika kata lelah hingga menyerah memilikimu tertuang dalam keputusasaan mengharapkanmu,
Namun entah kenapa kau selalu berupaya mencegah itu semua dengan tingkah manja yang kau berikan.
Kau kenapa, maumu apa dariku, Segala kata yang aku rangkai, Segala ucap yang terucap, Seakan hanya perantara semu yang semakin membuatku menderita,
Menderita menunggu kata pasti darimu.
Apa salahku, apakah memang tidak ada ruang untuk cinta saling menyapa,
Untuk saling bercerita dalam resahnya hati menunggu kepastian yang tak kunjung terungap”


www.pexels.com

Tak menyimak dari awal hadirmu menyapa waktuku hingga hati ini sulit mengerti tentang rindu yang semakin pekat terasa hingga meminta pertanggungjawaban hati untuk berlaku nyata dalam ungkap, berlaku pasti dalam ucap hingga menuai jawaban yang menenangkan jiwa. Tak berpikir itu tiada, kenapa kau tersenyum penuh tanya kepada waktu hingga membuat diri terlalu berharap kau nyata, padahal kau tiada memberi kata pasti akan resah hati memikirkanmu di setiap waktuku.

Kau kenapa, maumu apa dariku, Kenapa kau selalu berupaya untuk mendekatiku, berupaya untuk selalu berada disekitarku, padahal kau tak mengerti, tak peka dengan perasaan yang sedang melanda emosi hingga diri kadang berkata kasar memikul penatnya waktu menyembunyikan itu semua darimu.

Aku telah berusaha untuk menjauh darimu hingga jauh, aku telah berusaha untuk melupakanmu. Ku kira semua tindakku itu akan membuat hati menjadi tenang dalam penantian yang pasti, namun semakin aku melakukan itu semua, membuang jauh perasaan dan rindu itu, aku semakin sulit untuk bernafas teringat kepada senyum bahkan satu detik saja aku tak sanggup rasanya harus menghilangkan jejakmu dalam diriku.

Ada apa dengan cinta, kenapa dengan rindu yang selalu aku rasa hingga membuatku semakin mudah untuk menerima waktu hadirmu dalam hatiku, Padahal kau tak mengerti, Padahal kau tak memahami kehampaan yang ku rasa hingga kau mengabaikan semua yang mengikat diri tentang cinta yang kau miliki, Rindu yang kau miliki hanyalah sebuah ketiadaan yang tak pernah ada untukku dapatkan darimu.

Atau memang akunya saja yang terlalu berharap cinta bicara dalam hatimu tentangku, Tentang aku yang tak akan bisa mengubah cerita dalam hatiku hingga apapun alasan yang aku buat untuk memberimu ruang untuk mencintaimu, Seakan kata percuma yang aku dapatkan hingga akunya saja yang mati menanggung rindu sementara dirimu bertingkah palsu dalam kehadiraanku dalam waktumu.

Harapku seakan mimpi yang tak pernah terulang kembali, nyatamu seakan hanya permainan waktu yang tak pernah kembali dan cinta yang aku rasa sekaan hanya rindu yang menanggungnya ada, Sementara nyatanya hanya omong kosong yang tak membuahkan hasil kepastian darimu.

Haruskah aku pergi, atau menghilangkan dari peredaran waktu hadirmu atau aku katakan semua yang aku rasa hingga terasa pasti, terasa jelas apapun jawabmu dalam cerita cinta ini, Atau aku biarkan saja lembaran rindu yang ada, yang berkata dalam menanti jawab waktu tentang hati yang sedang terluka karenamu.

Hingga nanti, semua menjadi beku, semua menjadi lesu dan semua menjadi ranju tentang segala gundah terasa dalam hati, atau biarku saja yang menanggung semua tepuk tangan waktu mengejekku tertawa hingga diri begitu malu dan pasrah dalam kehendak diri yang berlaku kasar untuk bertahan dalam bujuk rayu menantimu.

0 Response to "Bahasa Rindu Dalam Berkas Cinta "

Posting Komentar