Untukmu Rindu, Biarku Saja Yang Menanggungnya

Mungkin bagimu, Apalah arti hadirku dalam waktumu. Aku bukanlah seseorang yang selalu mengisi ruang rindu dihatimu, bukanlah seseorang yang berdiri kokoh dalam pikirkanmu, bukanlah seseorang yang selalukau tunggu disetiap sepi mengikatmu hingga menjadi ramai berseling canda tawa bahkan aku bukanlah seseorang yang kau inginkan hadir disetiap air mata yang kau teteskan, segala resah yang kaurasa hingga kau bangkit lagi dalam tegar kau anggap aku segalanya bagimu.

Aku bukanlah bintang yang mampu memberi indahnya malam kepadamu dan aku juga bukanlah pelangi bahkan senja yang dapat memberimu warna ramai hingaa kau merasa nyaman lalu tersenyum dalam bahagia dihatimu. Mungkin juga separuh dari menit yang ada dalam waktumu hanya untuk sekedar merasa adanya aku, itu terlalu indah kurasa bahkan permintaan yang terlalu besar untuk dapat kau terima dalam hatimu.

Nyatanya, jika aku bukanlah orang yang kau harapkan dan cari dalam hidupmu. Menurutku itu jawaban yang masuk akal yang dapat aku terima dengan baik dan mungkin itu jawaban benarnya. Lihat saja apa yang terjadi ketika waktu mempertemukan kita dalam ruangan yang sama. Hanya aku saja yang tak tahan melihat senyum indahmu itu sementara dirimu tak peduli seberapa hebat senyummu itu mengalirkan energy dalam dadaku hingga berdetak kencang penuh rasa ingin melihatnya sekali lagi.

Kau tak peduli seberapa hebatnya dirimu dalam membangun puing-puing harapan dalam hatiku yang pernah hancur diterpa badai cinta yang kandas hingga tinggalkan luka yang begitu dahsyat menyelimuti hati yang begitu rentan akan rasa sakit hingga menembus ruang dada mengalir deras dalam aliran darahku hingga menuai iba beruraiair mata terjatuhkan.

Kau takpeduli seberapa besar rasa cinta ini aku tanamkan dalam hati. Malam kau begitu hangat untuk ku kenang, siang menjadi beku untuk ku pecahkan menjadi cair hingga kadang menjadi diri bukanlah diriku sendiri, dimana aku begitu sering bersikap aneh dan tak karuan hanya karena ingin mendapat perhatian lebih dari apa yang pikirkan tentang aku saat ini.

Hingga kondisi tubuh ini tak kuasa menahan beban sesaknya rasa didada, jiwa ini layu hingga terjatuh dalam sakitnya hati menunggu celah pintu hatimu terbuka untuk sejenak aku singgah agar kesembuhan luka ini bisa terobati. Namun tak jua ada, bahkan aku berteriak sekuat tenaga pun seakan itu tak bisa memberimu tanya kepadaku, yang ada hanya kehampaan yang ku dapat hingga aku mulai bosan dengan diriku lalu bertanya, jika hadirmu memang takdirdari tuhanku untuk sekedar singgah memberiku rasa, rasa sabar dalam bersikap, mungkin akan aku akan terima walaupun aku tak tahu butuh berapa lama untuk bisa aku melakukannya agar aku bisa beranjak menjauh darimu, tak lagi mendekatimu, tak lagi menatapmu bahkan mungkin tak menyapamu dengan baik sepertiyang begitu sering aku lakukan kepadamu setiap saat bertemu denganmu.

Atau, Jika itu tak bisa juga dapat ku berpikir untuk mencari alasan menjauh darimu, melupakan rasa yang melekat dalam hatiku, melupakan malam tanpa rindu sendumu, bahkan aku berhenti menulis tentangmu seperti waktu sebelumnya jika tulisanku selalu tentangmu. Aku akan melakukannya, aku akan melakukan sesuatu yang dapat kau benci saa atatupun sebaliknya biarku ubah rasa cinta itu menjadi rasa sakit dihati hingga aku membencimu hingga rasa mengerti dalam diriku dapat aku raih.

Jika memang kau tak bisa mengenalku dengan baik dalam hidupmu dan jahatku, kenali saja aku sebagai orang gila yang tergila-gila mengharapkanmu.Jika itu berat bagi hatimu untuk memberi gelar itu kepadamu, abaikan saja  segala sapaku agar aku perlahan mampu berpikir untuk pergi dari itu semua tak melakukannya lagi. Tak perlu kau merasa jika dirimu terlalu jahat jika selama ini aku begitu peduli dengan segala yang terjadi dalam hidupmu, aku begitu sering menyapa walau kadang kau tak menginginkan sapa harapku itu. Aku akan bisa melakukan semua dengan baik walau aku tak tau harus bagaimana lagi untuk dapat menemukan cara agar aku bisa melepas segala rasa yang tertulis atas namamu ini.

Lihat saja, aku akan melakukannya dengan baik, kau dapat merasakan adanya aku tak pernah kau anggap lagi sebagai orang yang baik, adanya aku perlahan akan ku ubah menjadi senja yang sesaat hadir lalu menghilang ditelan gelapnya malam, lau datang kembali esok hari dengan suasana yang berbedaagar dapat kau melewatinya tanpa terganggu kehadirankudalam waktumu.

Kenapa aku terlalu berharap kepadamu, kenapa aku begitu ingin kau tahu jika aku mencintaimu sejak hari itu, sejak pertama kali kau berada dalam waktukku. Kenapa kau tak pernah memberiku celah kosong dalam waktumu agar aku bisa mencoba untuk menata lisan agar aku dapat berkata tentang rindu yang kini begitu dalam aku rasa, begitu sesak memenuhi hati. Kenapa tak memberiku sedikit sapa agar aku dapat merasakan betapa dirimu memang nyata bukan sekedar rindu berbalut sendu yang datang ketika malam seakan ingin membunuhku teringat kepadamu.

Tahukah engkau, jika aku begitu ingin mengatakan kepadamu jika aku sudah tak sanggup lagi menghadapi serangan rindu yang semakin melekat dihati, aku tak mampu lagi memikul beban dahaga rasa kepadamu. Beri aku pertanyaan agar dapat menjawab, walaupun aku adalah jawaban yang salah, namun paling tidak kau pernah bertanya tentang rindu yang mengikat diriku.

Kenapa kau tak marah saja, kenapa kau tak benci saja jika hadirku memang tak kau inginkan ada dalam hidupmu. Mungkin aku bisa mengabulkan permintaanmu itu dengan aku pergi saja dari ruang waktumu. Atau biarku saja yang membencimu hingga aku tak lagi menanam cinta itu dalam hatiku, agar rindu pergi dari jiwa atau biar ku katakan saja jika aku tak menyukaimu walaupun aku harus harus melukai perasaanku saja.

Kenapa kau tak bilang saja jika aku bukanlah orang yang kau inginkan hadir dalam hatimu hingga kau tak peduli dengan hatiku yang tertulis atas namamu ini. Jika tak bisa kau berkata seperti itu, katakan semua itu dengan sikapmu saja agar aku dapat mengerti jika kau tak menginginkan hadirku dalam waktumu.

Kenapa kau tak melakukan itu semua, kau takut aku terluka jika kau melakukan itu kepadaku. Jika kau merasa takut terjadi padaku, aku mohon, jangan kau siksa aku dengan tingkah lakumu yang seakan memberi harapan yang tak mampu kau wujudkan menjadi nyata. Jika kau tak berani mengungkapkan jika kau tak menyukaiku, maka jangan biarkan senyummu mengalir dibibirmu lagi kepadaku, pasang saja wajah bencimu, dengan begitu aku tahu jika hatimu memang tak akan pernah ada celah untuk aku berlabuh.

Entah bagaimana lagi aku harus berkata, bahkan hingga saat ini tulisanku tentangmu semua telah aku uraikan semua dalam bukuku. Entah berapa lama lagi aku harus bertahan menanggung rasa rindu yang semakin bergejolak dalam hati datang untuk sekedar bertanya, kapan aku bisa memberinya jawab tentang cinta yng terpending dalam hati.

Entah sampai kapan aku harus berdoa, berdoa yang pada kenyataannya aku sudah mengerti jika kau memang tak akan pernah menjadi bagian dalam hidupku. Namun doa itu tetap saja masih atas namamu, bahkan setiap waktu aku begitu sering berkata kepada tuhanku agar dirimu dapat mengerti tentang semua yang aku rasa. Kau tahu jika aku begitu ingin hidup bersamamu, bukan untuk hari ini saja, namun untuk selamanya hingga waktu didunia tak beri kesempatan lagi untukku membuka mata hingga nanti ketika aku berada disana, maka aku harap kau juga bersamaku.

Aku masih saja bandel, begitu egois padahal aku sangat mengetahui jika dirimu tidaklah sendiri lagi saat ini. Kau telah memiliki kekasih yang selalu ada dalam hatimu. Namun aku tetap saja berharap jika waktu masih memberiku kesempatan sebelum cincin itu melingkari jemarimu. Rasa inginku mengalahkan segala logika yang sering meminta agar aku menyerah saja karena takut hati menjadi korban luka yang tak sebentar untuk bisa disembuh, Namun aku tetap saja angkuh mempertahankan bisik naluriku jika aku masih ada waktu, waktu yang mungkin memang akan menjelma menjadi luka.

Bahkan Hari ini, rasa itu semakin terasa tajam semakin membuatku tak kuasa menerima hadirmu berada disetiap ruang dan waktukku. Semakin aku mencoba untuk menghilangkan semuanya tentangmu, semakin aku tak bisa beranjak pergi bahkan ketiadaanmu sering aku anggap nyata adanya.Entah sampai kapan segala yang aku rasa ini menghilang pergi dari harapku ini. Aku tak tahu, mungkin saja esok, lusa bahkan tidak bisa hingga nanti, ketika pada kenyataannya dirimu tak pernah lagi aku lihat ada dalam ruang waktukku.

Atau bisa jadi, semua akan berubah, berubah kata menjadi kalimat, kalimat yang mampu memberiku penjelasan dengan baik tentang semua yang aku rasa, tentang semua yang aku pikirkan, tentang semua yang aku harapkan dapat memberiku keluasan hatiuntuk merima kenyataan jika tuhanku tak akan pernah memberikan sesuatu yang bukan ditakdirkan untukku dan mungkin kau salah satunya. Walaupun aku terus berusaha dan berupaya menantang kekuasaan tuhanku untuk memilikimu, tetap saja itu tak pernah berhasil, tak akan pernah bisa, namun yang perlu kau tahu jika aku pernah mencobanya dengan baik untuk memilikimu.

Sebelum semua berlalu, paling tidak aku masih bisa bertemu denganmu seperti hari ini, ketika senyum itu kembali menebar pesona yang sempat menghilang dari raut wajahmu karena ulahku sendiri tak mau melihatmu lagi. Paling tidak juga aku masih sempat mengucapkan terima kasih kepadamu sebelum aku benar-benar meninggalkan tempat ini nanti. Atau sekedar memberimu ketenangan hati jika aku tak pernah menyalahkan siapapun dengan apa yang aku rasa, dirimu bahkan diriku, aku sudah memaafkannya dengan baik.

Untuk semua yang aku tuliskan ini tentangmu, Kau tak perlu merasa bersalah dan bersedih dengan apa yang aku ungkapkan disini, cukup kau merasa jika aku pernah melakukan semua ini dengan baik untukmu, pernah menuliskan semua ini tentangmu, maka aku akan merasa bahagia, bahagia jika aku pernah memilikimu dalam sebuah karya hidupku.

0 Response to "Untukmu Rindu, Biarku Saja Yang Menanggungnya"

Posting Komentar