Jika Bencimu Bentuk Maaf Untukku, Aku Menerimnya Jika Itu Bisa Membuatmu Kembali Tersenyum

Aku dan kamu bagian dari putaran waktu diatas dunia ini. Tak mampu kutebak dan tak mampu kau hindari pada saat itu ketika mata saling menatap dalam rasa yang sama hingga kita menuangkannya dalam sebuah cerita indah dalam hari penuh warna bertemakan cinta. Kita begitu sering bercerita tentang cinta, berbagi duka cinta bahkan bermimpi untuk selalu mengisi disetiap ruang kosong yang ada dihatiku dan dihatimu dengan satu tujuan yang sama yaitu masa depan bahagia dengan ikatan yang pasti yaitu halal dalam ikatan suci illahi.

Saat itu, dimana waktu yang aku punya hanya terisi penuh dengan syair indah tentangmu, begitu juga denganmu, aku seakan menjadi tempat terakhir yang kau tuju dalam hidupmu. Aku sangat bahagia dan apalagi dirimu, bisa aku mengerti jika kau begitu inginkan hadirku selalu menyinari jalan hidupmu. Pada saat itu, semua berjalan indah, sangat indah bahkan hingga hari ini walaupun cerita itu telah lama berlalu dimana kau juga tak mengenalku dengan baik lagi dalam hatimu sebagai pria yang pernah kau puja sebagai pria pilihan terakhir dalam hidupmu, tapi nuansa indah bersamamu sulit untukku taklukan menjadi tiada.

Ku sadari semua jika itu salahku, bahkan aku telah merasakan kesalahan itu sejak aku menyakiti hatimu, hingga kini aku sangat mengerti jika kau seorang wanita tangguh yang pernah aku miliki dalam hidupku. Karena kecerobohanku, karena ulahku, aku biarkan kau meneteskan air mata, aku biarkan kau bersedih ketika cinta itu dalam tahap yang begitu mekar dan mewangi tumbuh subur ditaman hati.

Aku meninggalkanmu tanpa alasan yang kuat, saat itu begitu terdengar jika permintaanmu begitu kuat kepadaku agar aku tak meninggalkanmu sendirian dalam cinta yang tertulis atas namaku dalam relung hatimu. Namun aku begitu egois dan jahat kepadamu, Aku redam semua sedihmu tanpa aku berpikir sehat jika suatu hari nanti aku akan merasakan sesuatu yang lebih hebat dari rasa sedih yang kau rasa saat itu.

Aku berpaling hingga perlahan rasa cinta yang kau rasa berubah menjadi benci yang begitu mendalam dalam dirimu bahkan saat itu dimana aku bertemu denganmu, seakan aku tak pernah kau kenal dan tak pernah ada dalam hidupmu. Kau sangat membenciku, jangankan berkata kepadaku, untuk senyum saja sulit, apalagi ingatkan namaku dalam hidupmu bagaikan sebuah ujian dan cobaan yang berat dalam waktumu.

Aku sangat menyadari semua itu, aku sangat memahami kondisi diri dan hatimu. Hanya saja aku tak punya pilihan lain ketika itu, pilihan yang begitu berat untuk aku jalani dimana kondisi aku saat itu tidak lah baik. Dimana aku melewati waktu yang begitu sulit untuk aku ungkapkan dalam kehidupan yang nyata. Aku lemah dan aku merasa kalah untuk bisa melangkah bersamamu lagi ketika itu.

Saat itu, pikirku hanya satu, jika tak berbuat seperti itu kepadamu, maka kau akan sulit untuk melepasku pergi dari hidup dan hatimu. Jujur ingin kukatakan kepadamu, jika aku bukanlah seseorang yang bisa kau banggakan, yang bisa kau andalkan untuk bisa membuatmu bahagia. Jangankan untuk bisa membimbingmu menjadi orang yang paling bahagia didunia ini, untuk hidup sehari-hari saja aku sulit saat itu. Tak ingin melihatmu selalu meneteskan air mata ketika aku bercerita tentang kisah hidupku, maka aku lakukan sesuatu agar kau bisa merasakan bahagia tanpa duka yang selalu menyelimuti gaduhnya hatimu dan lebih baik kau membenciku sebagai seorang yang tak punya hati saja.

Hingga kau membenci mulai saat itu, aku bahagia tapi menderita sebetulnya. Namun dibalik itu semua aku hanya ingin kau hidup layak dengan orang yang bisa membuatmu bahagia. Bersamaku, kau memang bahagia secara hati dan perasaan, namun hidup tetaplah hidup yang harus dipenuhi dengan kebutuhan jasmani dan rohani juga dan aku sangat lemah disisi jasmani saat itu.

Untuk itulah, pada hari itu dimana aku dengan segaja melukai hatimu dengan perkataan jika aku ingin menikah dengan seseorang yang menjadi pilihan orang tuaku dikampung. Jika kau tahu, aku sangat terluka dan ingin rasanya aku menangis ketika aku mengatakan itu padamu, namun demi kebaikanmu, aku melakukannya. Tak mudah untuk aku ucapkan itu, bahkan jauh hari aku telah merangkai kata demi kata apa yang harus aku ucapkan kepadamu ketika semua harus aku akhiri.

Sejak hari itu, hari dimana aku menghancurkan semua harapanmu dan juga harapanku sendiri. AKu tak lagi bertemu denganmu, sosok indah yang selalu memberiku semangat hidup dalam ketidakmampuan ini, menghilang, lenyap bahkan tiada.

Aku pernah mencoba untuk menghubungimu, mengirimkanmu pesan singkat untuk sekedar mengatakan maafku untukmu, namun tak ada respon darimu. Aku gelisah hingga aku datang ke rumahmu, namun pada kenyataannya kau tak lagi berada disana, orang tuamu yang sangat mengenalku dengan baik mengatakan jika dirimu berada ditempat nenekmu yang jauh disana.

Perlahan aku berpikir, Jika aku harus menjumpaimu untuk sekedar mengatakan maaf kepadamu agar rasa bersalah dalam hatiku ini tak menjadi beban terus menerus dalam hidup yang ku jalani ini. Dengan Niat Hati yang tulus ingin bertemu denganmu karena pada saat itu aku tak sempat mengatakan maaf kpeadamu karena kau tak mau mendengarkan peraktaanku lagi dan langsung pergi dariku. Akhirinya aku lupakan Maluku, aku lupakan gengsiku, aku lupakan egoku untuk menyusuri keberadaamu dan hingga akhirnya aku bisa bertemu denganmu.

Namun pertemuan ini bukanlah pertemuan dengan sosok dirimu yang dulu. Banyak yang berubah darimu dimana dirimu yang dulu yang pernah aku kenal, begitu ramah dengan keberadaanku, dirimu yang begitu hangat dengan senyum manja hadirku. Dan yang lebih menyakitkan bagiku adalah jika kau tak lagi mengingat cerita itu dengan baik bahkan kau telah membuangnya jauh kedalam luka benci yang kau rasa saat itu.

Kau juga tak sendiri lagi, Kau telah berdua, berdua dengan seseorang yang pernah aku ucapkan dulu, dimana ucapanku menjadi kenyataannya agar kau bisa bahagia bersama seseorang yang bisa membuatmu bahagia. Kau menepati janjiku itu dan aku turut bahagia dengan keadaan itu. Aku hadirku untuk bertemu denganmu, bukan untuk mengembalikan cerita itu menjadi ada kembali, namun hadirku datang kepadanya hanya ingin meminta maaf, maaf yang tertunda yang tak sempat aku ucapkan kepadanya saat itu.

Tak Mudah Memang meminta maaf, apalagi maaf dari orang yang tersakiti. Itu terbukti aku rasa ketika maafku dibalas dengan kata benci darinya, namun aku anggap rasa benci itu mewakili maafnya untukku karena sebelum aku pergi dan tak akan pernah kembali bertemu dengan dia lagi, dia berkata jika maafnya tak akan pernah ada untukku, untuk orang yang pernah melenyapkan bahagia dalam hidupnya. Aku sangat mengerti dengan perkataannya karena terlihat jelas dari wajahnya jika dia telah memaafkan bahkan sejak saat itu dimana aku telah melukai hatinya namun hanya saja dia belum mampu berkata seperti itu kepadaku.

Untukmu yang terindah dari yang maha indah tercipta, dimana pun kau berada saat ini, aku hanya ingin menuliskan ini untukmu bukan untuk mengungkapkan rasa rindunya hati kepadamu, namun aku hanya ingin katakan aku mohon maaf atas tindakanku dulu yang pernah membuat hatimu terluka begitu dalam hingga kau membenciku hingga saat ini. Percayalah, Jika bencimu itu adalah maaf darimu untukku, maka aku akan memikulnya dalam hidup atas kesalahanku itu.

Tak perlu kau mengenangku dengan indah, apalagi rindu karena itu tak baik untuk orang yang telah berada dalam hidupmu, Namun bagiku, namamu akan selalu ada disetiap doa-doaku agar kau mendapatkan apa yang seharusnya kau miliki dan seharusnya kau dapatkan dalam hidupmu. Walaupun bukan aku yang berada disampingmu dan tak bisa melanjutkan cerita itu bersamamu namun aku pastikan jika dirimu bagian dari waktu yang indah untukku dan itu sulit untuk aku biarkan menghilang begitu saja dalam hidupku, paling tidak aku pernah menuliskan sebauh cerita tentang hadirmu dalam sebuah karyaku seperti tulisan-tulisan indah yang pernah kau baca dariku saat kita masih berirama sama.

0 Response to "Jika Bencimu Bentuk Maaf Untukku, Aku Menerimnya Jika Itu Bisa Membuatmu Kembali Tersenyum"

Posting Komentar