Cerpen : Janji Kok Bangga!

Suaramu begitu lantang terasa hingga menusuk jauh dalam relung sanubari. Hingga terbuai lalu menuai rindu menghinggapi pikiran jika kau adalah seorang yang dirindukan hadir dalam negeri penuh tanda Tanya ini. Tingkah laku lisanmu yang begitu merdu ingin rasanya menyelamai lautan dalam kesungguhanmu agar aku dapat merasakan betapa janjimu memang suci bukan benci.

Belum lagi kau begitu pandai beradegan lincah dalam menaklukan prasangka buruk menghinggapi masa lalu hidupmu. Kau bilang itu aku manusia yang tak luput dari kesalahan, betul, memang betul kau berkata, namun kau selalu mengulangi kesalahan yang sama dimana kau berpijak disitu kesalahan kau buat lagi.
Ini Tidak Pers, Tidak lazim sepertinya. Orang sepertimu seharusnya tak berbuat seperti itu. Lihat dirimu sama seperti mereka, sama seperti aku yang tidak menufik dengan jabatan, kedudukan bahkan ijo jika melihat uang. Untuk apa kita berpura-pura dengan semua kemewahan yang ditawarkan. Tak ada yang salah, tak ada yang marah jika itu memang milikmu dan hasil kerja kerasmu.

Bahkan jikapun kau ambil sebagian dari harta negeri ini dengan cara yang tak sewajarnaya. Tidak ada yang tahu juga, paling tidak kau hanya terdakwa lalu sembunyi dalam jeruji besi berbalut dinding kaca, beralas kasur empuk, berlantai permadani dan bisa jalan-jalan kemana saja kau mau. Enak kan.

Coba saja yang melakukan kesalahan itu adalah kami, padahal kesalahannya tak setimpal dengan apa yang terjadi disana, namun tetap saja hukuman berat itu kami juga yang rasakan. Tak salah memang jika hokum harus ditegakan, hukum harus dijalankan, namun sering hukum dijalani oleh mereka yang memiliki jalan untuk mengendalikan itu hukum.

Lalu datanglah sang pemberani dengan suara yang begitu tegas bergetar membahana lautan samudera pasifik. Bersuara akan mengembalikan apa yang telah dicuri dari kami, dari negeri ini. Namun kenyataan yang ada mereka hanya berparas melaikat saja namun bertubuh kesalahan yang sama. Janji itu pasti, bisa ini pasti bahkan jika langit dan bumi ini bisa dibalik, mungkin mereka akan berjanji jika mereka bisa.

Ada ya, sekedar janji saja kok mereka bangga, sekedar bisa bicara dengan tegas saja kok bangga, gusur sana sini saja kok bangga. Kenapa bisanya kok bangga saja, namun pernahkah merasa bangga jika janji memang terbukti dijalani sebagaimana sumpah yang telah dibebankan dibawah kitab suci itu ketika kau dilantik. Seakan kau berada dibawah pohon yang rindang ketika sumpah itu kau ucapkan. Ditemani dengan angin yang sepoi-sepoi lalu tertidur pulas hingga terbangun kau ingat apa-apa lalu pergi tinggalkan sejuta harapan yang pernah kau ucapkan itu.

Berjanji berarti hutang, hutang harus dibayar dan jika tidak dibayar maka kau ngutang. Kau berlaku sepertitak memiliki utang padahal utangmu banyak, utang janji yang pernah kau ucapkan dimana saat ini masih menyertai hidupmu. Bukankah kau begitu mengerti jika hutang itu harus dibayar karena hutang merupakan dosa besar yang harus dilunasi dan jika tidak, kau boleh hidup bahagia dengan segala sesuatu yang kau dapatkan diatas dunia ini, namun percayalah jika perkataan kita suci itu tak akanmemang benar adanya dari tuhanmu dan jangan harap itu bisa lupa, cepat ataupun lambat utang itu akan ditagih, bukan diatas dunia melainkan ditempat terakhirmu kelak.

Tak perlu merasa takut, tenang saja dengan ancaman dari isi dari kita suci sang pencipta itu. Biasanya juga begitu. Tak perlu merasa cemas, biasanya juga seperti itu. Tak perlu merasa bersalah karena kesalahan kau sendiri yang buat maka kauharus bertanggungjawab pastinya dengan janji-janji yang pernah kau ucapkan dulu.

Tak perlu merasa berdosa,biasanya juga gali lobang tutup lobang kau melakukannya. Hari ini baik dan bertaubat, belum juga esok kau melakukannya lagi. Aku juga tak merasa heran dan juga akan terusik dengan sikapmu dan janjimu yang terus memeras suaraku dan mereka untuk mendukungmu menjadi orang yang kau inginkan.

Aku dan kami juga tak merasa keberatan jika hanya soal tusuk menusuk fotomu dikala pemilihan itu nanti. Namun paling tidak kami menusuk foto yang benar karena jika kami menusuk foto yang salah, maka kami juga akan mendapatkan perihal dan dosa yang sama sepertimu. Jadi, kami mohon jangan lakukan itu untuk berdosa berjamaah dalam negeri ini. Jadilah pemimpin yang memang tak sekedra janji, tak sekedar lantang bicara namun lantanglah dalam sikap da tindakan yang dirindukan dalam negeri ini. Semoga bermanfaat untuk anda semuanya, terima kasih.

Artikel Terkait

Cerpen : Janji Kok Bangga!
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email