Atas Nama Dan Cintamu, Aku Pernah Memedam Setia Dalam Hidupku Walaupun Pada Akhirnya Kau Hancurkan Dengan Luka

Pada hari itu, dimana kabar itu sampai juga kepadaku, kabar tentangmu yang akan melangsungkan pernikahan dengan seseorang yang tak aku kenal dirinya. Tak sempat memang aku bertanya tentang semua yang terjadi saat itu, namun perasaanku jelas terluka, air mataku tak mampu aku bendung mengaliri perlahan tapi pasti dicelah-celah pipiku.

Tak mampu aku berkata tidak dan juga tak mampu aku berkata jangan, namun kenyataannya semua sudah terjadi, semua telah pergi disaat rasa itu memegang teguh janji suci yang pernah kau titipkan kepadaku atas namamu dan cinta itu disaat kita jauh. Kenapa setia ini begitu mudah aku serahkan kepada rasa yang hampir saja membuatku hilang kendali oleh sikapmu yang seakan tak mengenalku sama sekali.
Kenapa setia itu begitu mudah untuk aku berikan kepadamu, sementara janji sucimu telah kau berikan kepada dia yang mengambil peran itu dariku. Tak lelah aku bertanya disaat hati mulai berontak, kenapa aku yang harus merasakan pahitnya setia itu, sementara kau bahagia disana.

Merindukanmu, bukan waktu yang sebentar untuk aku tahan ketika dirimu tak berada didekatku, Aku begitu kokoh berdiri didalam janji setia yang pernah kau berikan kepadaku. Aku begitu kuat menahan gempuran wajah yang menyapaku setiap hari. Tapi, kenapa kau tak melakukan hal yang sama sepertiku disana, kenapa kau begitu tega melepas setiaku dengan memberikannya kepada orang lain.

Hingga saat ini, luka itu masih saja gentayangan dalam waktukku, bahkan ketika aku mulai belajar untuk melupakan itu semua, belajar untuk membukan hati dan merasakan cinta yang sama ketika aku mencintaimu, namun aku begitu kesulitan untuk mencari dimana aku harus percaya lagi kepada seseroang yang mampu meredam gejolak rasa percayaku yang pernah sirna diterpa hujan air mata.

Aku mencoba, bahkan hari ini, aku masih berusaha untuk merasa melepas kecewa itu dengan tatapan mata yang berani, namun ketika aku bertemu dengan seseorang aku menjadi lemah dihantui rasa jemu  akan rasa yang pernah aku titpkan kepadamu pada akhirnya harus terluka.

Aku mohon, bantu aku disini untuk belajar melupakanmu, belajar untuk tidak meningingatmu dalam kesalahan hidupku. Jangan kau ingat aku lagi jika keputusan pada hari itu telah membuatmu bahagia. Jika kau selalu meningingatku dengan kata salah darimu, maka aku sangat sulit untuk bisa memaafkan diriku sendiri.

Biarkan aku bernafas lega agar aku dapat mencari celah hati untuk dapat aku percaya membangun setia yang pernah kau hancurkan itu. Beri aku keluluasan untuk lenyap peprgi dari pikiranmu agar kau mampu melangkah sedikit demi sedikit menuju cinta yang mungkin masih tersisa untukku dalam dunia ini.

Disini, Aku berusaha untuk melupakan tentangmu, tentang kisah yang pernah aku dapatkan darimu. Disini, aku telah memaafkanmu bahkan sejak aku mendapatkan kabar itu. Jujur, tak mudah bagiku untuk melewati masa-masa dimana kau tak lagi ada dalam waktukku, ketika kua tak lagi ada dalam setia yang aku gengam dalam hatiku. Namun aku akan selalu belajar dan berusaha untuk bisa melewati keadaan itu hingga nanti.

1 Response to "Atas Nama Dan Cintamu, Aku Pernah Memedam Setia Dalam Hidupku Walaupun Pada Akhirnya Kau Hancurkan Dengan Luka"