Untukmu Yang Pernah Membuatku Meneteskan Air Mata

Seandainya saja aku mampu memilih atas segala yang terjadi dalam hidupku, Maka satu hal yang tak ingin aku pilih adalah bertemu denganmu. Bertemu dengan sosok indah sepertimu sangat menyakitkan bagiku. Bukan karena kau telah meninggalkanku hingga melukai hatimu namun karena aku begitu ingin bersamamu, Namun pada kenyataannya rasa itu hanya mampu ku pendam saja tanpa ada keberanian dalam hatiku untuk mengungkapkannya.

Saat itu dimana hari mempertemukanku kepadamu, Kamu yang saat ini masih bertahta riang dalam bayang rindu siang dan malam dalam waktuku. Entah apa alasan tuhanku memperkenalkan mahkluk ciptaannya yang bernama indah itu kepadaku, hingga saat ini aku belum mampu menelaah apa yang sedang diuji kepadaku.

Waktu yang sulit, Jelas itu adanya yang aku rasa. Bukan saja menyita banyak energi dalam tubuhku namun juga memberi dampak negatif dalam hidupku hingga aku hampir saja melakukan sesuatu yang bukan tugasku didunia ini. Lihat saja aku saat ini dimana aku begitu lalai dengan waktu, aku begitu sering termenung hanya terpaku akan bayang kau yang merajai waktuku.

Tak sampai disana saja, hingga aku tak sanggup lagi menanggung rindu akan rasa hati ini, tak aku sadari jika air mataku sering aku teteskan atas namamu. Lihat saja aku yang saat ini begitu sering murung, murung dilanda pikiran akan dirinya yang tak mau pergi dari hatiku.

Aku telah mencoba untuk berbuat sesuatu yang aneh agar aku bisa tidak mengingat dia lagi, atau tak terlalu baper jika mendekati ataupun ketika mata ini melihat senyum indah yang sering menari didalam hariku. Aku telah belajar untuk melupakan rasa itu, untuk melupakan sejuta kisah dan puisi yang pernah aku tuliskan untuk sekedar membohongi diri akan hadirmu, namun itu tak berhasil sepertinya justru apapun yang aku lakukan seakan itu percuma rasanya, aku semakin rindu akan dirimu yang kini masih menjadi tanda Tanya untuk bisa aku raih.

Kenapa aku seperti ini, kenapa aku tak mampu berbuat banyak ketika dirimu ada didekatku, kenapa aku tak mampu berkata cinta ketika kau melihatku tajam. Kenapa aku menjadi pria yang cengeng ketika rindu itu melanda diri hingga aku tak mampu menahan, menahan air mata ini menjadi pelampiasannya.

Hingga Menuai kecaman dan protes dari nurani tak sedikit, sesaat aku memikirkanmu, maka rindu itu membuat hati ini bertanya, kenapa aku hanya mampu diam saja, kenapa aku begitu takut mengungkapkan perasaan itu sementara jiwa sudah lelah menunggu sejak lama tindakanku menjadikan sebuah Tanya menjadi sebuah jawaban. Paling tidak aku pernah mencobanya, namun entah kenapa aku tak melakukannya dengan baik.

Begitu sakit aku rasa, begitu sulit untuk aku jalani untuk sekedar melewati hari ini saja. Berbagai rasa berkecambuk datang menghampiri diri, apalagi saat kau bersama mereka, jelas aku mati cemburu padahal aku sangat mengerti siapa aku ini dan aku menjadi pria yang begitu egois dengan dia yang tak mengetahui apapun tentangku yang saat ini begutu ingin memilikinya, memiliki bukan saja karena nafsu dunia namun inginku dirimu halal bagiku.

Kenapa aku begitu sulit bernafas ketika kau tak memperdulikanku sehari saja, padahal aku sangat memahami jika ku bukanlah seseorang yang special dalam hidupmu, Teman saja masih sebatas kenal, bagaimana kau bisa bertanya denganku soal rasa itu. Sungguh aku tak kuasa menahan semua ini, sungguh aku tak mampu membendung rasa ini hingga aku mulai bosan dengan diriku sendiri.

Entah berapa lagi aku mampu bertahan menjadi diri seperti ini, dalam rasa yang tak pernah sampai ini. Entah berapa lama lagi aku harus meneteskan air mata hanya karena rindu yang tak berujung datang menawarkan diri untuk sekedar bertanya kenapa aku begitu rindu. Entah berapa lama aku mampu menunggu sementara hati mulai rapuh untuk mampu menampung sesaknya hadirmu dalam hariku.

Haruskah aku membencimu saja karena aku terlalu mencintaimu. Haruskah aku pergi jauh karena aku tak ingin berpisah dari rasa sakit ini. Atau haruskah aku membenci diriku sendiri yang tak mampu turun tangan lalu berkata jika aku sering bercerita tentangmu kepada tuhanku, kepada bintang, kepada bulan bahkan kepada angin malam yang selalu setia menemaniku hingga dia mulai bosan mendengar celotehku yang tak bertuan.

Namun sebelum semua itu terjadi, aku hanya ingin melihatmu sekali lagi tersenyum indah yang pernah aku lihat dulu, yang pernah membuatku bangkit dari keterpurukan yang pernah melanda hingga tak mampu mengenal cinta itu dengan baik lagi. Atau jika semua tidak ada yang menjawab, maka biarkan air mata ini tetap menetes seperti semula dimana menetes karena ulahku sendiri yang tak mampu memilikimu pada kenyataan yang ada. Namun seeblum itu aku capkan pada diriku, maka tak ingin hadirmu hanya sebuah kata dan air mata bagiku, paling tidak aku sempat ucapkan terima kasih kepadamu yang terindah karena telah menampung rasa yang pernah aku curahkan atas namamu walaupun bagiku itu sulit untuk aku lewati namun percayalah kau pernah membuat hidupku penuh dengan cerita, cerita yang akan aku kenang ketika aku tak lagi mampu melihatmu ada disini.

0 Response to "Untukmu Yang Pernah Membuatku Meneteskan Air Mata"

Posting Komentar