Janjiku Untuk Ibu

Tulisan ini mewakili diriku, Karena aku tau tak  selamanya aku berada di sini, ya disini didunia yang telah memberiku waktu untuk melakukan apa yang bisa aku lakukan. Tak peduli apa yang aku lakukan ini baik ataupun buruk, namun inilah aku, aku yang hanya bisa melakukan dan menjalankan apa yang telah digariskan oleh tuhan dalam hidupku.
Aku tak mengetahui banyak tentang kehidupan ini, namun aku yakin separuh dari ceritaku mungkin sama apa yang pernah kau rasa. Aku juga tak ingin membuat kalian yang membaca tulisanku ini terbuai akan kisah yang dapat melenyapkan mimpi kalian, namun tulisan ini mungkin saja dapat memberikan sedikit celah untuk dapat kau berpikir jika hidup itu kadang tak berpihak pada kalian.

Cepat ataupun lambat semua akan kalian mengerti betapa kehidupan ini memang benar kata orang tua ketika kita kecil dulu dimana mereka pernah bilang jika hidup ini tak mudah nak, hidup ini tak segampang membalikan telapak tangan nak, dan itulah yang menjadi pertanyaan ketika kita mendengarkan perkataan itu dari orang tua kita.

Namun percayalah kawan, apapun itu, apapun yang terjadi dalam hidup kalian, semua sudah pasti aka nada cerita dibalik semua itu, akan selalu ada senyum dibalik derita yang kau rasa, akan selalu ada bahagia dibalik air mata yang pernah kau tumpahkan itu.

Memang tak mudah jika kita hanya melihat dari sisi mata saja ketika mata kita tertuju kepada mereka yang hidup yang begitu bahagia dengan kemewahan yang mereka miliki, namun percayalah kawan, semua itu bisa kau miliki dengan cerita yang berbeda pastinya dan aku sangat yakin jika kau mengikuti apa kata hati dan keyakinan kepada tuhanmu jika kau juga bisa sukses dalam hidupmu.

Seperti itulah apa yang sedang terjadi saat ini kepadaku dimana keadaanku begitu sulit untuk mampu aku lewati. Berbagai masalah datang silih berganti, berbagai kesedihan silih berganti menyerang waktuku tanpa kenal lelah. Jika kau bertanya, apakah aku sangat sedih dan terpukul?, Kau tak perlu meragukannya lagi karena sudah pasti aku akan menjawabnya iya.

Saat ini kehidupanku begitu sulit, sangat sulit, entah apa yang terjadi dengan hidupku aku tak mengerti, yang jelas sejak aku tamat SD pergi ke kota Jakarta ini semua berubah. Masa anak-anak yang aku rasakan begitu bahagia bersama teman-temanku di kampung halaman hanya tinggal cerita saja ketika aku berada di Jakarta ini.

Tak ada yang salah dengan kehidupan yang aku jalani karena aku sangat mengerti dan paham betul ketika aku bersisih keras harus sekolah sementara orang tuaku tak mampu untuk mewujudkan keinginanku itu karena keadaan ekonomi orang tuaku saat itu sangat sulit dan aku memilih jalan itu, jalan yang bukan pilihan namun hanya itu carasatu-satunya yang aku miliki untuk bisa mengenyam pendidikan seperti anak-anak seusiaku waktu itu.

Berada di Jakarta ini bukanlah waktu yang aman untuk anak seusiaku, berada jauh dari orang tua dan tinggal dengan pamanku disini bukanlah waktu yang bahagia untuk aku lewati. Namanya juga orang lain sudah pasti aku seperti kekurangan kasih sayang dan kehidupanku begitu menyakitkan ketika aku harus hidup mandiri dan bekerja keras untuk bisa bertahan agar aku bisa sekolah disini.

Tak memiliki teman, tak memiliki seseorang yang aku kenal dan itu bertahan untuk waktu yang lama. Aku hidup berkawan batu nisan setiap hari dan malam karena kebetulan pamanku disini bekerja sebagai perawatan kuburan dan aku harus tinggal di kawasan kuburan pastinya. Rasa takut sudah pasti jangan ditanya lagi, sudah pasti aku sangat takut. Setiap malam kadang aku menangis karena takut dan ingin sekali rasanya pulang saja ke kampung halaman, Namun jika aku pulang sudah pasti aku tidak bisa melanjutkan sekolah dan juga harus menanggung rasa malu dari orang kampung karena pamanku ternyata tidak mampu juga menyekolahkan aku padahal mereka bercerita jika pamanku itu orang kaya disini.

Aku menjadi korban kebohongan diantara mereka, namun itu menjadi bagian dari takdir hidup yang harus aku terima apapun yang telah digariskan oleh tuhanku kepada hidupku ini. Aku tidak pernah menyesal dengan apa yang telah aku jalani karena aku pikir hidup ini hanya sekali dan waktu sudah pasti akan beranjak pergi dan aku berharap keadaan akan berubah menjadi sebuah penantian untuk mimpi yang pernah aku lukiskan pada sebuah tembok rumahku dikampung.

Melewati waktu bersama pamanku bukanlah perkara yang mudah untuk aku lewati,berbagai duka dan kesedihan sering menghinggapi diriku. Aku harus menjadi anak yang tegar dan kuat dan tak kenal kata manja karena aku sadari jika pamanku memiliki watak yang kurang baik dimana aku sering dimarahi hingga memukulpun tak segan kepadaku. Namun itu semua aku jalani, aku pikul dengan kesungguhan hati yang kuat jika suatu hari kelak aku bisa menjadi orang yang kuat akan segala hal yang datang kepadaku.

Hidup katanya pilihan, sementara aku tak punya pilihan karena pilihannya Cuma satu dan aku harus menjalaninya. Pilihan itu bukan pilihan yang baik untukku karena pilihan itu bagaikan sebuah jurang yang sangat dalam dimana aku harus melewatinya dengan baik yang didalamnya tersimpan duri dan ranjau yang begitu tajam bahkan binatang buas yang sipa menerkamku kapan saja.

Selam 4 tahun aku berada di rumah pamanku dimana aku harus melewatinya dengan suka dan duka dan duka yang sangat menyedihkan dalam hidupku dan hingga saat inipun aku tak mampu menerimanya dengan baik ketika Ayahandaku pergi untuk selamanya waktu aku duduk di kelas dua SMP. Aku merasa sangat sedih waktu karena aku tak bisa pulang ke kampung untuk melihatnya untuk terakhir kalinya karena tak ada ongkos untuk pulang karena aku tau pamanku ternyata bukanlah orang kaya seperti yang pernah mereka ceritakan itu.

Kesedihanku begitu sesak aku rasa, namun aku tak bisa berbuat banyak ketika itu selain berdoa untuk Ayanda tercinta agar dia tak marah kepadaku dan memaafkanku atas kesalahanku yang pernah aku lakukan kepadanya ketika aku masih di kampung bersamanya dulu. Aku hanya bisa melihat bintang disana agar tuhan memberikan tempat yang indah seperti bintang yang selalu tersenyum memberiku semangat ketika aku dalam keterpurukan saat itu.

Tak banyak yang bisa aku perbuat, hanya pesan dari ibunda dan saudara dari kampung agar aku tabah dalam menghadapi kenyataan yang ada. Aku memang kuat namun disisi lain aku juga manusia yang kadang aku harus terjatuh ketika hati dan jiwa ini tak mampu lagi membendung keadaan yang begitu menyanyat hati.

Jatuh bangun telah menjadi bagian dalam perjalanan hidupku ketika berada bersama pamanku, pagi aku harus bekerja membantu membersihkan halaman teras pemakaman disana, setelah semua selesai aku harus berangkat sekolah. Jarak antara rumah pamanku dengan sekolah cukup jauh, kadang aku bisa menggunakn jasa bus kota untuk aku berangkat ke sekolah namun jika bibiku tak ada uang aku harus berjalan kaki menelusuri rek kereta api untuk bisa datang kesekolah.

Jujur saja, jika aku hanya bisa bertemu teman hanya disekolah saja yang sebayaku, jika aku aku pulang maka aku kesepian tak ada teman dirumah pamanku dan didekat sana perkampungan terlalu jauh. Jadi aku harus membiasakan diri harus berteman dengan orang tua yang ada disana. Tak heran jika aku banyak belajar hidup dari mereka karena mereka sudah pasti sudah sangat memahami bagaimana bisa bertahan hidup dikota Jakarta ini.

Waktu terus berjalan dan tak aku sadari aku telah lulus dari SMP waktu itu. Lulus dari SMP aku tak lagi bersama pamanku itu. Bukan aku tak suka dengan sikapnya yang setiap hari memarahi tanpa sebab, namun aku berpikir jika aku harus bertahan disana, maka aku tak mungkin lagi bisa meneruskan sekolahku ke jenjang SMA karena aku sangat mengerti jika keadaan pamanku waktu sangat sulit juga. Jangankan untuk membiayai sekolahku, untuk makan saja kadang harus gali lobang tutup lobang untuk mendapatkannya.

Aku tak mau menambah penderitaan pamanku karena kehadiranku dan dengan tamat SMP saja aku sudah berterima kasih kepadanya karena dia mungkin jalan hidup yang telah digariskan dalam hidupku. Tamat SMP aku bersama Kakak sepupuku yang kebetulan juga berada di kota Jakarta ini. Melalui Bos paman dan kakak sepupuku itu aku diberi izin untuk bekerja disebuah perumahan pejabat negera yang ada dikawasan Jakarta ini. Pekerjaanku waktu itu adalah menjadi tukang kebun.
Tak pikir panjang aku aku mengambilnya karena aku tau tak ada lagi pilihan yang harus aku tunggu seperti yang sudah terjadi dalam hidupku. Lagi-lagi aku tak sempat memilih karena pilihanya Cuma satu dan itu satu-satu jalan yang harus aku ambil. Namun aku selalu bersyukur kepada tuhan yang maha kuasa karena aku selalu yakin jika Dia tak akan pernah memberikan cobaan dalam hidup manusia melebihi dari batas kemampuannya.

Aku pergi meninggalkan pamanku dan tinggal bersama kakak sepupuku waktu itu. Mengenai kakak sepupuku ini, dia orang yang sangat baik kepadaku dan aku sangat bahagia bisa tinggal bersamanya. Bersama kakak sepupuku ini, tak mampu aku pungkiri jika dia memang orang yang baik dan aku tak akan pernah melupakan kebaikan yang pernah dia berikan untukku.

Bersama kakak sepupuku ini, aku meneruskan sekolahku ke jenjang SMA. Seperti yang pernah aku aku lakukan bersama pamanku jika aku harus bekerja ekstra keras lagi untuk bisa meneruskan sekolahku ini. Suka dan duka sudah pasti terjadi disini, susah senang sudah menjadi makananku setiap hari, namun aku selalu berusaha untuk tegardan tabah karena aku yakin semua akan baik-baik saja.

Empa tahun juga aku bersama kakak sepupuku, aku akhirnya aku menyelesaikan sekolahku untuk jenjang SMA. Oh Ya, sejak aku tamat SD, Aku selalu memiliki waktu satu tahun untuk bisa melanjutkan ke SMP dan SMA, maka tak heran jika aku sedikit lebih tua dengan teman dikelasku waktu itu, walaupun sedikit agak malu, namun aku tak pernah mempersoalkan itu karena aku sadar hanya ini yang bisa aku lakukan untuk bsai seperti mereka, sekolah dan memiliki pendidikan.

Hingga tamat SMA, Kakak sepupuku tak lagi bersamaku karena dia harus kembali ke kampung halaman untuk menikah dan tak kembali lagi ke Jakarta ini. Dari sinilah aku hidup sendirian tanpa saudara lagi menemani waktukku. Walalupu masih ada pamanku, namun sejak aku tamat SMP waktu itu aku tidak lagi mau kesana karena suatu alasan yang membuat aku tak ingin kembali untuk waktu yang dekat saat itu.

Aku jalani waktu tanpa orang yang mengenaliku dengan baik disini, namun aku masih memliki tuhan yang selalu memberiku keyakinan jika aku bisa melewati waktu saat itu. Keadaanku bukanlah keadaan yang baik untuk aku jalani waktu itu. Terusterang saat itu aku hanya digaji 150.000 untuk satu bulan dan aku harus bisa mengelolah uang sebesar itu hidup dikota Jakarta ini untuk bisa bertahan. Untung saja aku tinggal di rumah pejabat waktu itu yang memperbolehkan aku tidur disana jadi aku tak bayar kost ataupun kontrakan. Hanya saja aku harus beli makan.

Masalah makan itu hal yang biasa menurutku, kadang makan, kadang tidak dan itu tak menjadi persoalan dalam waktuku. Namun tetap saja kadang membuatku harus bersedih ketika dikantong tak ada lagi uang tersisa dan sering aku mengucapkan kenapa bukan mereka yang merasakan kehidupan seperti ini, kenapa harus aku.

Jika tak ada uang untuk membeli makanan, kadang aku harus berhutang diwarung makan dan kadang pula ketika gajian tiba, uang gajianku hanya bisa menutupi utangku yang ada diwarung tersebut. Aku tak berpikir itu akan berakhir karena butuh waktu yang lama dan mungkin saja masih aku rasakan hingga saat ini.

Iya,masih bertahan seperti apa yang pernah aku rasakan sejak itu. Saat ini aku telah berusaha keras hingga akumampu lulus S1 dalam karir sekolahku, namun itu bukanlah perkara yang mudah untuk dapat aku sampai kesini. Berbagai masalah dan cobaan tak luput dari apa yang telah aku dapatkan. Aku kehilangan Ayah dan Kakakku tercinta ketika aku harus mendapatkan semua ini. Seakan ini semua ini tak ada artinya bagiku jika harus mereka yang pergi tanpa aku berada disisi mereka untuk terakhir kalinya.

Kenapa aku tak pandai bersyukur dengan apa yang telah tuhan berikan kepadaku, lalu kenapa aku selalu tak memiliki pilihan seperti mereka yang memiliki pilihan dalam hidup ini. Sementara aku memiliki hanya satu pilihan, suka tidak suka harus aku jalani. Kenapa aku ini, kenapa dengan hidupku ini. Bisakah sedikit saja memerbiku celah untuk memilih?, atau memang hidupku ini memang digariskan seperti ini dan apakah aku boleh membenci diriku sendiri sementara aku tak mengenal siapa aku sebenarnya.

Hingga saat ini pun, aku begitu sulit, aku begitu binggung harus bagaimana, aku tak ingin mereka yang telah memberiku semangat seperti ibuku harus kecewa dengan sikapku yang kadang menjadi orang yang beda. Maafkan aku ibu, keadaanku saat ini sangat buruk, sangat buruk, dimana aku sangat sulit untuk bernafas, adakah mereka yang mau menggantikan aku disini agar aku sedikit meminjam kehidupan mereka sekedar untuk bisa menenangkan hati ini.

Atau memang tak ada jalan dan pilihan lain yang bisa aku tempuh agar bisa tersenyum yang pernah ibu berikan untukku waktu kecil dulu. Aku tak bisa, sungguh aku tak bisa lagi saat ini harus kemana untuk bisa sedikit bersembunyi dari keadaan yang begitu sulit untuk aku pikul.

Aku telah berusaha untuk menjalankan tugasku sebagai kakak untuk adik-adikku yang sedang menjalani masa sekolahnya bersamaku, namun sungguh aku takmau melihat mereka menderita seperti apa yang aku rasa saat ini, apakah aku harus berteriak ke langit agar tuhan mendengarku, atau memang aku harus diam hingga kesedihan ini datang menggerogoti diri hingga jatuh tak berdaya.

Ibu, Jika kau bertanya apa yang aku rasakan saat ini, maka aku sudah pasti akan menjawab, jika keadaanku sangat buruk. Hanya keberadaan ibu yang masih mampu membuatku bertahan disini, walaupun begitu pahit untuk aku rasa, namun aku percaya ibu akan selalu ada untukku. Maafkan aku ibu jika hingga saat ini aku belum bisa memberimu yang terbaik, namun aku janji kepadamu ibu jika aku bisa melewati semua ini dalam hidupku, jadi aku mohon kepadaku tetaplah tersenyum kepadaku agar air mata kesedihan hidupku ini dapat terhapus hingga aku tertidur pulas dan bangun dengan semangat nasehatmu. Aku janji Ibu, Aku akan menjalani tugasku sebagai kakak untuk adik-adikku semampuku bisa dan percayalah jika aku tak akan meminta apapun dari mereka jika mereka sukses karena aku yakin ibu bahagia itu lebih baik dari seisi alam fana ini dan aku percaya tuhan mendengarkan itu. 

Terima kasih ibu, Aku sangat merindukanmu saat ini.

0 Response to "Janjiku Untuk Ibu"

Posting Komentar