Tax Amnesty Yang Di Terapkan Indonesia Tersukses Didunia

Direktorat Jenderal Pajak di Kementerian Keuangan mencatat, hingga 28 September 2016, total tebusan dari program pengampunan pajak atau tax amnesty mencapai Rp54,3 triliun atau 32,9 persen dari target yang harus dicapai tahun ini sebesar Rp165 triliun. Capaian tersebut tentunya dari sisi nilai cukup besar dan cepat didapat dalam waktu kurang dari satu bulan. Sebab, pada 7 September 2016 lalu, tebusan dari tax amnesty baru mencapai Rp6,43 triliun atau hanya 3,9 persen dari target yang harus dicapai pemerintah.

Sedangkan, jika merujuk pada data Surat Penyataan Harta (SPH) total nilainya tercatat telah mencapai Rp2.514 triliun, yang terdiri dari dana repatriasi yang mencapai Rp128 triliun, deklarasi harta luar negeri mencapai Rp666 triliun dan deklarasi dalam negeri yang mencapai Rp1.720 triliun. Cepat dan maraknya Wajib Pajak (WP) yang melaporkan hartanya kepada pemerintah bulan ini tentu akibat dorong dari sosialisasi pemerintah dan mulai mepetnya batas waktu pengenaan tarif rendah sebesar dua persen bagi WP yang ingin mengikuti program spesial ini.

Bahkan, pada sepanjang bulan ini, sejumlah pengusaha kakap berbondong-bondong mendatangani Kantor Pelayanan Pajak Besar di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. Para pengusaha tersebut mengaku terpanggil untuk mengikuti program amnesti pajak ini untuk membangkitkan perekonomian Indonesia. Sebut saja nama Sofyan Wanandi, Erick Thohir, Boy Thohir, Murdaya Poo, putra bungsu Presiden kedua Tommy Soeharto, mantan kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono, mantan Presdir PT Toyota Indonesia Johnny Darmawan dan Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta dari Gerindra Sandiaga Uno.

Maraknya WP yang mengikuti program tax amnesty tak lantas membuat Presiden Joko Widodo puas, beliau pun penasaran dan langsung melakukan sidak (inspeksi mendadak) ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Grogol Petamburan, Jakarta Barat dan Kantor Pajak Pratama Jakarta Pusat, Rabu pagi 28 September 2016.  Dalam kunjungannya, Presiden Jokowi kemudian mendapatkan banyak keluhan dan masukan dari masyarakat terkait program ini. Salah satunya adalah permohonan perpanjangan waktu untuk tarif rendah dua persen, karena beralasan mulainya program ini masih dalam suasana libur dan belum tersosialisasi dengan baik.
Atas hasil kunjungannya tersebut, Jokowi optimis dana deklarasi dan repatriasi akan tembus hingga Rp3.000 triliun dalam waktu dekat ini. Menurutnya, program yang berjalan sejak 1 Juni 2016 lalu ini cukup berhasil dibandingkan dengan negara lain. Dia mengatakan, partisipasi masyarakat yang tinggi, harus dimanfaatkan oleh pemerintah dan petugas pajak. sebab menurutnya, ini adalah momentum yang tepat dalam upaya memperbaiki sistem perpajakan. Baik itu sistem pelayanan hingga sistem administrasi.

Senada, dengan Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla pun melihat maraknya WP yang mengikuti program tax amnesty akan membuat periode pertama sukses. Dia pun memperkirakan hingga akhir September 2016 tebusan dapat mencapai Rp80 triliun dan deklarasi harta mencapai Rp3.000 triliun. Menurut JK, kepercayaan masyarakat terhadap tax amnesty pada periode pertama akan mendorong masyarakat lainnya segera melaporkan kekayaannya, sehingga dikit demi sedikit target perolehan negara sebesar Rp165 triliun dari dana tebusan bisa tercapai.

Selain itu, semakin maraknya masyarakat yang mengikuti tax amnesty juga berdampak pada penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Wapres JK, menilai menguatnya rupiah beberapa hari ini adalah imbas dari kebijakan tax amnesty yang berjalan baik, terlebih pengusaha nasional antusias ikut program tersebut. Berdasarkan kurs referensi Bank Indonesia dalam Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Rabu, rupiah dipatok pada level Rp12.926 per dolar AS atau menguat dibandingkan perdagangan sebelumnya yang sebesar Rp13.027 per dolar AS.

Kemudian, Analis PT Asjaya Indosurya Securities William Surya wijaya, juga mengamini analisis Wapres JK. Menurut dia, masuknya dana-dana tax amnesty memang sedikit mempengaruhi sentimen domestik, sehingga baik itu rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sama-sama positif atau menguat. Penguatan rupiah dalam beberapa hari tersebut, lanjutnya tercatat juga dipengaruhi oleh sentimen global, di mana dolar AS memang dalam tekanan pada seluruh mata uang dunia akibat pengaruh rencana bank sentral AS yang tidak jelas apakah akan menaikkan suku bunganya pada bulan ini.  

Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia, sepanjang perdagangan Rabu kemarin, IHSG bergerak di kisaran 5.382,24 - 5.432,98. IHSG mengakhiri perdagangan dengan ditutup menguat 0,11 persen, atau 5,73 poin ke level 5.423,24. Sebelumya, pada pembukaan pagi IHSG dibuka turun 0,53 persen, atau 28,84 poin ke level 5.390,76.

Terima Kasih Atas Kunjunganya Dan Semoga Bermanfaat Untuk Anda

Facebook Comment