Jejak Rindu Di Telaga Nurani Bagian 1 : Nada Indah Hadirmu

“Aku dengar detak langkah kakimu berirama indah
Menelusuri lorong waktu mendekatiku,
Kau bawa sejuta kisah cinta bersenandung rindu.
Dalam senyum kau menyapa indah, Dalam gelisah Aku bertanya, Benarkah itu cinta datang untukku?,
Atau hanya resah yang menganggapmu ada…”
Ruang gelisah mungkin telah lama menunggu rasa tentram dalam hati yang sempat redup tanpa cahaya menerangi diri yang menanti. Sepertinya hadirmu bukan saja soal cinta ataupun perasaan kosong memenuhi penatnya hariku saja namun hadirmu telah menolongku dari amukan sepinya waktu dan juga memberiku kehidupan baru dimana gelapnya waktu akan pahitnya janji tanpa tanda pasti dari mereka yang telah meninggalkan goresan luka dihati.
Disela rasa yang hampir punah, diwaktu hampa menyerang ruang hati, kau datang bagai malaikat penyejuk jiwa, kau datang bak mentari pagi bersinar terang hangatkan jiwa yang sedang menanti.
Sebentar saja kau hadir, rasanya ingin aku jalani kehidupan ini seribu tahun lagi. Entah aku bahagia atau tidak namun aku percaya kau mampu mengisi bait demi bait cerita bahagia itu dan aku rasa sudah cukup bagiku untuk melangkah pasti menuju masa depan.
Tak mampu aku tebak jika suatu hari kelak dirimu akan bersenandung indah dalam dekap bahagia seorang imanmu, namun kehadiranmu hari ini telah mengubah duniaku dan aku sangat berharap itu akan menjadi kenyataan dimana suatu hari kelak kau akan tersenyum kembali seperti yang pernah aku lihat pertama kali waktu itu.
Walaupun adamu disini bukan untukku, namun patut aku ucapkan terima kasih atas hadirmu karena dalam keadaan diriku yang hilang kendali akan hati yang patah di terjang badai keputusasaan oleh mereka yang meninggalkanku tanpa pernah kembali untuk datang menjenggukku, kau datang memberiku pesan jika bahagia itu masih ada untukku raih.
                Ada disampingku, berbicara denganku, walau hanya tentang hal yang tak pasti kau bertanya namun aku sepertinya sangat inginkan dirimu akan selalu ada dalam waktuku, esok dan selanjutnya. Aku harap kau tak meninggalkanku saat ini.
Mungkin hal ini terlalu singkat untuk aku tuliskan disini namun dalam diri tak kuasa menahan rindu bergejolak pasti setiap waktu. Hampa tak bertuan ingin dirimu selalu hadir dalam hariku dan inginkan senyum itu tetap menjelma abadi dalam bayang malamku, makanya aku selalu tuliskan tentangmu setiap hari.
Semangat yang dulu pernah hilang, kini kembali bergelora tangguh seperti sosok sang pahlawan yang berjuang di waktu itu untuk menjadikan negeri tercinta ini merdeka Seperti yang kita rasakan saat ini. Semangatnya diriku setiap hari walau kadang badan terasa lelah dan lemah, namun karena dirimu ada maka diriku tak mampu beranjak jauh dari dekapan wajah sholehamu ingin aku lihat setiap hari.
Aku sadar dengan apa yang aku ucapkan atas dirimu. Aku sangat memahami apa yang telah aku perbuat untuk dirimu karena mungkin indahnya matamu telah membuatku berbuat sedemikian sibuk akan hal yang ingin aku tulis dalam kalimat tulisanku ini.
Hanya saja waktu tak banyak untuk aku habiskan untuk bercengkrama bersamamu karena waktu yang terlalu formal untuk bisa hilangkan rasa rindu yang semakin hari semakin mengajakku pergi temukan dirimu disana.
 Inginkan dirimu mengikat rasa namun kadang rasa ini terlalu semu untuk bisa ungkapkan isi hati yang kini semakin waktu semakin terasa berat aku rasa jika dirimu terlalu indah untuk aku lewatkan begitu saja. Perkataan ini Mungkin berlaku juga bagi mereka yang semenjak hadirmu, dalam diam mereka telah mengagumimu dalam dan ingin berkata seperti apa yang aku rasakan saat ini.
Aku memang tak mengenali mereka yang mengagumimu. Mungkin saja saat ini dan semenjak aku bertemu dengamu, hatimu telah terisi oleh seseorang yang selalu kau nanti hadirnya. Namun aku tak akan berhenti dalam keadaan seperti ini karena orang bilang sebelum janur melengkung didepan rumahmu maka kesempatan itu masih ada untuk aku perjuangkan dan aku ingin berjuang seperti itu untuk mendapatkan hatimu.
Mereka yang mengenalmu sejak kau dilahirkan diatas dunia ini sudah pasti akan bilang jika kau wanita yang terlalu cantik untuk dicintai. Menurutku itu benar apa yang mereka katakan, karena dari sudut pandangku menilai memang seperti itu adanya. Lihat saja senyummu hari ini, terlalu sulit untuk aku tepis menjelma indah masuk dalam pikiranku.
Jika mangacu pada kejujuran diriku sendiri yang baru saja mengenalmu sangat ingin bersamamu, apalagi bagi mereka yang telah lama mengenalmu, mungkin saja telah mengungkapkan rasa hati mereka untuk memiliki dirimu. Dalam pikiranku kadang muncul pertanyaan, Apakah aku terlambat bertemu denganmu?, mungkin saja iya bukan saja tidak karena aku belum tau terlalu jauh tentang dirimu yang sesungguhnya semenjak aku mengenalimu.
Terlambat atau tidak itu tak perlu aku pikirkan saat ini namun menyadari jika aku memang terlambat atau memang kau yang terlambat itu tak perlu dibahas karena saat ini aku hanya ingin menuliskan ini untukmu, dimana pikiranku hanya tertuju tentangmu.
Sulit untuk aku ungkapkan atau hanya menjadi bagian kisah gelap yang tak bersuara hingga diam ketika kau pergi nanti, aku harap tak begitu kejadianya. Paling tidak aku sempat utarakan rasa dalam hati ini Kepadamu, walaupun hanya sebuah tulisan yang aku tuliskan tentangmu saat ini.
Rasanya terlalu dini untuk aku nilai tentang rasa apa yang aku rasa saat ini, terlalu cepat untuk aku jadikan pedoman untuk ungkapkan apa yang membuat aku rindu akan dirimu, dan mungkin juga terlalu cepat untuk aku bilang jika aku jatuh cinta kepadamu.
Aku sangat menikmati keberadaanmu, aku sangat suka walau hanya melihatmu dari kejauhan dan aku hanya ingin mengenalmu lebih dari apa yang aku tahu tentangmu agar aku paham dan mengerti jika aku memang pantas untuk ungkapkan rasa ini atau hanya sebatas mimpi yang hadir dalam tidurku hingga aku terbangun dirimu menghilang tak kembali.
Membiarkan rasa ini tumbuh berkembang begitu adanya, membiarkan rasa ini mendulang banyak cerita tentang waktumu disini, membiarkan hati ini mengenalmu lebih agar suatu kelak mampu menjelma menjadi nyata untuk dapat ungkapkan betapa aku mencintaimu, ingin bahagia bersama, ingin sengsara bersamamu dan aku ingin mencintaimu dengan kekurangan dan kelebihan yang kau miliki.
Aku harap rencana bahagia ini berjalan dengan baik. Semua berjalan bersulam indah seiring waktu aku mengagumimu dan menunggumu hingga suatu hari kelak mampu memberiku sebuah jawaban.
Memikirkanmu sebuah karya bagiku yang tertanam indah dalam pikiranku. Sebuah karya yang akan membuatku tenang jika nanti rasa itu tak pernah kau tau. Sebuah karya yang akan membuatku menjadi lebih baik lagi karena mungkin sebelumnya aku pernah membuat mereka sakit hati karena sikap dewasaku yang belum ada.
Mungkin juga aku pernah membuat mereka membenciku karena sikapku yang tak kunjung memberikan mereka kepastian akan akhir dari kisahku, Namun dibalik aku mengagumimu karena Tuhanku, aku akan berusaha menjadi sosok yang lebih baik lagi.
Menyesali mereka yang telah meninggalkanku, atau aku yang pernah meninggalkan mereka itu tak akan membuatku semakin baik dan hanya membuat hati ini menjadi semakin terpuruk. Ingin rasanya diri ini untuk dapat memperbaiki semuanya jika waktu bisa kembali, namun itu tak akan pernah bisa sepertinya karena waktu yang telah lewat tak akan pernah kembali temukan cerita yang pernah ada.
Kemarin biarlah menjadi sebuah kenangan untuk dijadikan bahan untuk menelusuri masa depan yang lebih baik dan memperbaiki kesalahan yang pernah terjadi. Seperti apa yan aku lakukan hari ini, Menyulam sebuah cerita indah tentunya tentangmu.
Menulis tentangmu hal yang indah bagiku. Bukan kagum karena akan keindahan parasmu saja, bukan kagum karena senyummu saja dan bukan pula kagum karena kau berhijab seperti mereka yang diluar sana namun aku mengagumimu karena kau telah membuatku sadar dan bangkit dari keterpurukan waktu yang saat ini penuh dengan cobaan yang datang silih berganti tanpa rasa kasihan kepadaku.
Memusatkan perhatian kepadamu dalam masalahku itu tidak benar adanya, mengambil kesempatan akan hadirmu untuk menghapus kenangan masa lalu tentu terlalu jahat untuk aku lakukan terhadapmu dan tak adil bagimu.
Demi Allah, aku mengagumimu, inginkan dirimu atas dasar sujudku kepadaNYA, Dimana dirimu mahkluk ciptaanNYA yang datang menghampiriku saat ini. Sujud syukur kepadaNYA karena masih mampu melihat salah satu keindahan dunia yang pernah diciptakan indah seperti dirimu.
Atas Nama Cinta Anugerah dariNYA, Aku lantunkan dalam doa kasih sayang jika Aku masih diizinkan untuk bertemu dengan seseorang wanita yang indah saat ini dan mampu menenangkan hampanya diriku dari keadaan sulit akan cinta yang datang silih berganti dengan akhir yang tak berbuah kebahagiaan.
Hari ini hingga waktu yang tak mampu aku tebak, aku mungkin akan selalu melakukan ini, menulis tentangmu dalam rindu yang belum sempat aku ungkapkan, dalam resah hati yang belum berikan jawaban yang pasti.
 Aku akan menunggu saat itu, dimana hati dan gerakku mampu melakukan apa yang menjadi tuntutan hati. Aku akan menunggu dimana waktu mempersilakanku untuk ungkapkan rasa ini kepadamu dan aku akan menunggu hingga kata iya kau lantunkan dari bibirmu sebuah jawaban apa yang aku utarakan kepadamu.
Tak mudah memang untuk melakukan ini, tak gampang memang untuk aku jalani, namun izinkan aku untuk berusaha agar dapat membuktikan diri dalam sebuah cinta dengan caraku sendiri. Hingga suatu saat nanti perasaaan ini belum mampu juga untuk aku ungkapkan, jangan pernah kau bertanya tentang semua yang aku lakukan karena sudah aku akan sulit untuk menjawabnya.

Terima Kasih Atas Kunjunganya Dan Semoga Bermanfaat Untuk Anda

Artikel Terkait

Jejak Rindu Di Telaga Nurani Bagian 1 : Nada Indah Hadirmu
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email