Jejak Rindu Di Telaga Nurani 3 : Ambisi Hati

Begitu lama ingin aku curahkan hasrat hati yang telah lama bergelora memendam rasa rindu, rasa ingin selalu melihatnya tersenyum bahagia seperti yang aku lihat hari ini. Namun apa daya lisan ini tak mampu berucap tegas untuk menyatakan jika aku menyukainya dan memang menyukainya sejak hadirnya ada disini.
Tertegun aku memandangmu, terlena dalam pesona paras indahnya dirimu. Ingin rasanya diri mengadu Kepada sang kuasa akan perasaan ini yang resah setiap hari akan dirimu yang duduk manja di sampingku namun diri ini tak mampu berbuat apa-apa, diri ini terlalu mengagumimu hingga aku lupa jika aku jatuh cinta kepadamu.

Bolehkah aku pinjam senyummu agar aku mampu terlelap dalam tidur atas namamu, bolehkah aku pinjam waktumu agar sepinya waktu dapat terobati.

Gejolak rindu yang semakin mengebu seakan memancing diri untuk melakukan hal yang aneh, diri ini terasa berlaku kaku jika kau ada didekatku. Andai saja kau paham dengan keadaanku saat itu maka kau tak akan biarkan aku berlaku seperti itu. Tingkah lakuku seperti membencimu namun taukah engkau jika aku hanya ingin dirimu tau betapa menderitanya aku berbuat sedemikian itu kepadamu namun aku tak ada pilihan lain agar kau bisa menyapaku dan melihatku ada di dekatmu.

Aku berusaha untuk tidak menyapamu lagi. Mendiamkanmu dan berusaha untuk menjauh saja namun semakin aku lakukan semua itu, hati ini semakin menderita, jiwa ini semakin gelisah kenapa aku tega berbuat seperti itu kepada orang yang aku kagumi dan telah memberiku cinta, akunya malah tampil buruk terhadapnya.

Pada hari itu, aku tahu kau menangis karena sikapku. Kau sangat sedih ketika lisanku tak mampu aku tahan menyapamu dengan kata kasar. Tapi taukah engkau, jujur dari hatiku, aku tak bermaksud berlaku sedemikian untuk menyakiti hatimu hingga air matamu mengalir deras dipipimu.

 Ingin rasanya aku bilang jika aku tak bermaksud seperti itu dan ingin rasanya aku memelukmu namun apa daya aku tak sanggup berbuat demikian karena aku sadar kau bukan muhrimku. Saat itu hanya mampu mencoba mengungkapkan rasa maaf agar hatimu beranjak dari kesedihan.

Rasanya tak ingin aku melihatmu menangis kembali. Kau pernah bilang kepadaku jika dirimu orang yang gampang sedih dan gampang mengeluarkan air mata. Namun bagaimana lagi, Menurutku jika dunia kerja tak mampu aku berbuat yang harus aku lakukan untuk membuatmu tak menangis kembali. Aku berusaha menghindar dari dirimu dengan menjawab apa yang kau tanyakan kepadamu dengan jawaban seadanya agar aku tidak lagi membuatmu menangis karena ucapanku.

Aku begini adanya, entahlah, Aku sebenarnya orang yang sama denganmu, sangat gampang sedih dan sangat gampang terluka perasaan dan sangat tak mampu melihat orang menderita. Namun kadang keadaan dan lingkungan membuatku  menjadi orang yang beda dan berubah seketika tak seperti apa yang ada dalam diriku.

Mungkin saja hal ini terjadi karena kehidupanku yang terlalu keras untuk aku jalani hingga perlahan perubahan diri semakin aku rasa jika aku sangat merindukan aku yang dulu. Tak membuat orang menangis dan mampu membuat orang tersenyum karenaku.

Aku sangat paham akan diriku yang jauh berubah semenjak kejadian itu. Hantaman badai kehidupan dan waktu yang sulit membuatku menjadi orang yang kasar dan sering berdiam diri. Entahlah, apa yang aku rasa saat ini aku merasa ada yang hilang dariku, ada yang berubah dariku dan ada yang pergi dariku.

Seperti seseorang yang baru saja meninggalkanku disana. Sudah bertahun-tahun aku jalani hubungan dengan dia namun perlahan dia tak mampu lagi menahan waktu untuk menungguku kembali menemui dia hingga dia lelah lalu pergi tinggalkan sejuta kisah dalam hati yang kini sulit untuk aku bernafas.

Aku sangat mengerti, sangat memahami sekali apa yang menjadi penyebab dia yang disana lelah menungguku. Jawabanya sudah pasti karena dia ingin bahagia sedangkan untuk menungguku butuh waktu lama dan mungkin sangat sulit bagi dia yang juga jauh dariku untuk bertahan.

Aku merelakan keputusanya dan memaafkan apa yang menjadi pilihanya dia disana. Aku harap putus mungkin hanya cinta dan rasa namun aku berharap silaturahmi tetap akan selalu terjaga hingga nanti walaupun dia bukan bersamaku lagi. Teriring doa mungkin hanya itu yang mampu aku berbuat untuknya disana agar dia bahagia menjalani hidupnya bersama orang yang dia pilih dan semoga Allah SWT selalu merindhoi jalan hidupnya agar bahagia selalu dalam harapanku.

Melupakan sesuatu yang pernah mengisi waktu kita pastinya butuh waktu. Namun bagiku, seiring waktu berjalan Walau aku terseok-seok seorang diri menghapus rindu yang kadang datang tak kenal lelah akan dirinya disana, aku berusaha untuk selalu kuat dan tegar agar semua baik-baik saja dan aku mampu bertahan hingga aku temukan orang yang mampu menghapus lara dihatiku ini.

Hingga waktu berjalan kejam, aku harap dapat dipertemukan lagi dengan orang yang dapat menghiburku seperti dia yang saat ini ada dalam garis ceritaku setiap hari. Bukan waktu yang mudah untuk aku mencoba membuka hati kembali dan bukan hal yang mudah untuk aku mencari sosok yang dapat menghapus luka dalam hati ini, namun kehadiran dia saat ini sepertinya akan mampu mengisi kosongnya hatiku dari hancurnya perasaan karena cinta yang tak tergapai bahagia bersamanya.

Aku tahu ini bukan yang pertama bagiku, namun dalam cerita karyaku, dia adalah orng pertama yang pernah aku tulis dalam tulisan indahku ini. Aku tak peduli sejauh mana aku mampu bertahan untuk menunggu waktu bersamanya. Entah dia yang pergi, entah aku yang pergi dari tempat itu, aku tak tau karena semua bisa saja terjadi dalam kehidupan didunia ini dan itu tak ada yang abadi dan insan manapun tak akan pernah mengetahui sedetikpun seperti perasaan ini akan dirinya.

Sebenarnya gambaran pilunya hati akan kepergianya sudah aku dengar dari dia waktu itu, jika dia tak merasa betah berada disana dengan alasan yang aku sendiri tak mengerti secara jelas.
 Namun aku pernah dengar jika dia ingin fokus meneruskan kuliahnya dan aku pernah menjawab jika itu hal yang baik dan dia berhak mendapatkanya karena dia memiliki orang tua yang masih mampu untuk dia meneruskan pendidikanya yang lebih baik. Tak seperti aku yang harus berjuang untuk bisa sekolah sampai seperti aku saat ini.

Waktu terus berputar, semua seperti tak diinginkan namun semua telah berlalu. Satu tempat di ibukota tercinta ini aku memulainya serba sendirian. Singkat kata dalam cerita, bukan waktu yang gampang untuk aku lewati. Berbagai hal banyak yang harus aku hadapi. Namun keinginan yang kuat untuk tetap mengeyam pendidikan membuatku terus semangat hingga aku bisa meneruskan pendidikanku.

Aku berusaha untuk menerima dan menjalani dengan baik dan semangat hingga aku bisa kuliah dan bekerja aku jalani semua hingga saat ini.

Saat ini, perjuanganku belum selesai. Saat ini aku harus menjelma menjadi seorang kakak bagi adik-adikku yang masih kuliah bersamaku disini dan disisi lain aku harus berperan sebagai sebagai tulang punggung keluargaku.

Dari SMP hingga masa skripsi saat ini semua aku berjuang sendirian. Saat ini aku harus relakan waktu untuk  adik-adikku dalam masa kuliahnya. Entah aku mampu bertahan hingga mereka lulus nanti atau tidak, yang jelas saat ini aku berjuang dalam ikhlas untuk mereka agar tak mengalami nasib sepertiku yang harus berjuang hanya ingin mendapatkan pendidikan dengan melewati waktu yang sulit.

Dan Aku Berharap juga untuk dia yang masih menjalani kuliah Saat ini agar tidak meninggalkan kuliahnya begitu saja karena aku yakin pendidikan sangat penting dalam kehidupan didunia ini, apalagi seperti zaman sekarang.

Melihat keadaan seperti ini, sebenarnya aku sangat malu sekali ketika harus berkata kepada siapapun yang ada didekatku karena aku takut mereka menghilang tak mau kembali lagi karena keadaanku yang tak jelas kehidupannya. Bukan aku tak mampu berkata dan bukan aku tak mampu untuk bilang jika aku menyukaimu namun melihat keadaan diriku sendiri kadang aku merasa malu dan sedih karena aku takut seandainya mereka tau sudah menghindar dengan keadaan hidupku yang sangat keras.

Aku tak ingin mereka pergi dan aku tak ingin mereka tau jika sebenarnya aku sangat menderita walaupun dalam hariku aku tak pernah tampakan kepada mereka jika aku sedang sedih. Aku berusaha untuk tetap bergurau dalam canda sepinya hati dan tersenyum dalam air mata yang tak pernah aku tampakan mengalir dipipiku.

Aku ingin bersamanya, ingin sekali menjaganya dan ingin sekali bahagia bersamanya, Namun yang jadi pertanyaan dalam hati, mampukah aku membuatnya bahagia?, sedangkan aku tau, aku kesulitan bernafas dengan hidupku sendiri.

Berambisi memang sangat berambisi diriku untuk mendapatkanmu, namun ambisi itu mungkin hanya sebatas angan yang tak akan pernah bisa aku wujudkan dan dirimu mungkin saja hadir untuk pergi kapanpun kau mau.

Jika memang itu yang terjadi, mungkin cerita yang ada disini akan kau abaikan dan juga tak pernah kau tau apapun itu yang aku lakukan untukmu namun percayalah walaupun dirimu akan pergi dan senyum indahmu itu tak pernah aku temukan lagi, cerita tentangmu akan tetap mengalir dalam nadiku karena apapun alasannya, dirimu akan selalu indah dalam kisah indah hidupku.

Jika ada yang bertanya, sampai kapan aku akan berlaku diam seperti ini dengan memendam perasaan terhadapmu dan hanya mampu menulis indahmu hanya dalam sebuah tulisan saja, Maka aku akan menjawab dengan tegas jika dirinya terlalu indah untuk aku cintai hanya dengan sebuah perkataan saja.

Terima Kasih Atas Kunjunganya Dan Semoga Bermanfaat Untuk Anda

0 Response to "Jejak Rindu Di Telaga Nurani 3 : Ambisi Hati"

Posting Komentar