Jejak Rindu Di Telaga Nurani 2 : Rindu Yang Selalu Membayangiku

Tak terasa waktu terus berjalan, seiring kata terangkai menjadi sebuah kalimat. Seiring lisan yang terucap membuat hati kadang tak mampu menepi untuk bersikap ada apa dengan diri hingga tak mampu lepas dari sosok sempurna yang menghampiri diri hingga lemah tak berdaya.
Membohongi diri lalu bertingkah kasar hingga lari dari kepercayaan diri yang selama ini tertanam dihati membuat diri tak mudah untuk melupakan paras ayu yang ada di dekatku ini.
Mencoba menghindar hingga jauh dan mencoba diam mendekam dalam ruang rindu agar diri dapat menyadari apa yang pernah terlintas dalam pikiran untuk berjuang menuju kata akhir dari kisah ini namun tetap saja bayangmu menggoda manja mengisi ruang dihati.
Sempurna seperti apa kau ini hingga dimanapun aku berada kau selalu mengisi sepiku, kau selalu menampakan diri dalam ketikdapastian hadirmu.
Membencimu saja, aku telah mencoba cara itu namun rasa itu tak mampu keluar dari jasadku agar kau lenyap dari pikiranku, agar kau pergi jauh hingga menghilang tak pernah kembali dalam ceritaku namun kenapa kau hanya diam saja disana, setiap hari kau datang membawa senyum rindu yang tak berujung menjadi ada.
Amarah hati yang aku lampiaskan ke dirimu seakan hanya berdampak pada diriku sendiri. Aku telah coba semua cara agar kau membenciku agar hati ini tak bisa kau isi dengan lembutnya suaramu, agar pikiranku ini tak mudah kau hanyutkan dengan rindu yang menyita waktuku.
Namun entah kenapa aku selalu gagal menghapus itu semua, kenapa aku tak memiliki nyali untuk meredan tingkah laku manjamu dalam hariku.
Dirimu seakan seperti nafas yang aku hirup, seakan dirimu seperti malaikat yang selalu mengawasiku, dimanapun aku berada paras wajahmu selalu ada dalam ruang waktukku.
Kau masuk kejam tanpa permisi menggerogoti diri hingga lemah tak berdaya. Tak mampu aku tahan, Aku tak sanggup seperti ini terus menerus dan aku tak kuasa seperti padang pasir yang kering yang berharap hujan turun tak pasti kapan akan datang agar dapat menyirami keringnya ranah jiwa.
Berbagai alasan telah aku kunci dalam diri, berbagai sikap buruk telah aku nampakan kepadamu agar kau tak bersikap seindah senyummu, namun setiap kali aku melakukan hal itu lagi, setiap waktu semua akan berbalik menghasut diri setengah mati dalam hati.
“Ya Allah, Sungguh aku tak kuasa menahan rindu akan ciptaanmu ini. Sungguh aku sangat rindu akan hadirnya di dekatku ya robb. Aku Mohon jangan jadikan aku lemah akan hasut dunia ini karena rasa cinta kepadanya melebihi aku mencintaimu ya Robb. Jadikan dia seseorang yang melengkapi kehidupanku bukan melupakan sujud syukurku kepadamu Ya Robb.
Aku Binggung Ya Robb, bantulah aku ya Allah, Kenapa aku sangat menginginkanya sedankgan diri ini tak mampu ungkap rasa itu, diri ini sangat sadar akan keadaan diri yang tak mampu meraihnya.
 Berikan aku jawaban dalam gelisahku dan tunjukan kepadaku sebuah jawaban jika aku bukanlah orang yang dia tungu-tunggu hadir dalam hidupnya. Namun Jika dirimu ya Allah mengharuskanku untuk menjalani kisah ini, Aku ingin bertanya kepadamu ya Allah, kenapa aku dipertemukan dengan sesuatu yang tak mampu untuk aku gapai, kenapa kau hadirkan dihadapaku dia yang hanya mampu tersenyum lalu pergi tinggalkan bekas luka dalam hati hingga aku merasa lemah tanpa dirinya.
Kenapa aku begini tak seperti mereka yang secara leluasa hingga menjadi tenang mampu ungkapkan rasa yang gelisah dalam hati, Kenapa aku jadi orang yang pengecut yang hanya mampu membenamkan rasa tak bersuara hingga rasa itu perlahan membunuhku datang dan kenapa aku tak mampu berkata dihadapanya jika aku bertemu dengannya ya Allah.
Apakah memang akunya yang tak berusaha atau memang takdir yang mengikatku hingga aku selalu saja bersikap seperti ini, hanya mampu menikmati keindahanya namun tak pernah mengungkapkan isi hati.
 Jangankan sampai untuk aku ungkapkan kepadanya, menatapi matanya lalu mendekat aku tak pernah sanggup. Sadar memang, apa yang terjadi pada diriku hingga aku tak mampu berlaku dan berkata apa-apa kepadanya hingga aku kadang bersikap aneh yang tak ketolongan. Namun sebenarnya sikap tersebut bukan aku ingin lukai hatimu dan bukan ingin membuatmu terluka namun aku hanya ingin kau paham dan tau jika aku sangat ingin berkata kepadamu jika aku jatuh cinta padamu.
Cinta ini bukanlah cinta sesaat karena keindahan yang kau miliki, namun dalam hati yang tulus ini selalu berkata jika rasa ini jujur ingin bahagia bersamamu. Aku menyukaimu karena memang ingin bahagiakan hidupmu dalam naungan ilahi.
Mengenalmu bukan alasanku untuk pergi lalu menghilang tanpa kesan. Mengagumimu bukan alasanku untuk menyakitimu dan menyukaimu bukan alasanku untuk membuatmu terluka dan mencintaimu bukan karena penasaran akan dirimu namun semua itu karena tulusnya hati inginkan dirimu dalam ikatan halal bahagia hingga nanti.
Kelebihanmu akan melengkapai kekuranganku dan keindahamu akan mengisi ruang hampa taman hatiku dan kekuranganmu akan mengisi ruang kosong yang ada dalam diriku hingga menjelma menjadi sempurna.
Aku Menyukaimu bukan karena indahmu saja, aku menyukaimu karena agamamu dan keyakinanmu atas nama Allah SWT. Jadi aku berharap niat baikku suatu waktu akan dapat engkau tau dan kau rasa jika aku tak main-main dengan perasaanku ini.
Jika ditulis dengan kalimat mungkin terlalu pendek untuk aku katakan namun secara rasa yang aku rasa kau mungkin tak pernah tau jika aku sangat menharapkanmu saat ini. Taukah engkau jika Aku selalu Memikirkanmu seperti saat ini hingga waktu yang tak mampu aku batasi.
Saat ini mungkin hanya rindu semumu saja yang mampu menghapus sepiku akan hadirmu. Berharap kau disana juga merasakan hal yang sama sepertiku saat ini.
Mungkin permintaan ini terlalu dini dan terlalu berat untuk kau terima, namun paling tidak diriku pernah terlintas dalam pikiranmu walaupun hanya pudar menyala seperti lentera namun akan tetap menyala walaupun angin kegelisahan bertiup kencang dan itu aku rasa sudah cukup bagiku untuk bisa bernafas untuk berjuang demi sebuah bahagia dalam hidupku akan dirimu.
Hanya duduk diam saja mengagumi seseoarang seperti ini memang sangat berat untuk dirasa, berbagai rasa menghinggapi disetiap celah ruang hati yang terbuka terutama ruang cemburunya hati ketika dirimu didekatkan oleh orang lain.
Sebenarnya ingin rasanya diri ini menarik tanganmu dan mengajakmu pergi jauh dari mereka agar dirimu tak tersentuh oleh seorangpun yang mampu mendekatimu namun apa daya aku ini belum siapa-siapanya dirimu dan sangat aneh rasanya jika aku berbuat sedemikian itu.
Betapa bodohnya aku berpikiran seperti itu, aku tak berpikir jika aku bukanlah siapanya dirimu saat ini. Soal rasa memang aku rasa, namun apakah rasa itu kau juga rasa?, itu belum ada kepastianya karena hingga saat aku masih menunggu kapan aku bertanya dan jawaban apa yang kau berikan untukku.
Menunggu, aku memang sedang menunggu, walaupun menunggu bukanlah pekerjaan yang gampang dan membosankan. Namun Jika boleh bilang, menunggumu, itulah yang bisa aku lakukan saat ini.
Menunggu sesuatu yang indah tentunya tak akan lelah untuk aku nanti  dan menunggu waktu kau bisa menjawab menjadi semangat hidup dan motivasi untuk melakukan sesuatu hal yang baik.
Masih membuatku bertahan walaupun hanya mampu menulis hingga larut malam tak hiraukan kesibukan apa hari ini dan kelelahan apa yang aku rasa namun tetap saja menulis cerita tentangmu menghapus segala gundah serta lelah dalam diri.
Semoga suatu waktu nanti kau bisa membaca tulisan ini walaupun dirimu tak pernah lagi aku lihat seperti hari ini tersenyum manja didekatku. Namun kau cukup bilang aku pernah menyukaimu walaupun hanya dalam tulisan ini, itu aku rasa sudah cukup bagiku untuk terus berkarya dalam dunia yang tak pernah aku tau kapan aku harus meninggalkan semua cerita indah tentangmu ini.

Artikel Terkait

Jejak Rindu Di Telaga Nurani 2 : Rindu Yang Selalu Membayangiku
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email