Goresan Rindu Seorang Sarjana

 “…Resah hati diterpa kata, lelah jiwa ditelan rindu
dalam dekapan Tanya penuh lelah
gerogoti jiwa tanpa iba.
Lihat dirimu, seakan warna itu hilang
Mati rasa, mati kata ketika matamu tak mampu lagi mencegah
Datangnya malam menjadi siang dan siang menjadi hilang.
Lihat dirimu, pergi entah kemana kau beranjak
Jauhi tanya mengikutimu.
Lihat Dirimu, terkucil jauh dari peradaban waktu
Ketika hari tak memikirkanmu lagi.
Kenapa kau hanya diam saja,
Relakah dirimu diam kaku Ketika suara berharap
Jawab pastimu.
Kenapa kau hanya duduk diam dalam gelisah
Senyum tumbuh bercampur ketidakpastian.
Sudikah Warna kosong terus menyelimuti dirimu?
Ataukah memang warna itu
Tak pernah kau buat menjadi ada…”
     
Pagi menjelang pergi begitu saja tanpa ada warna terselip satu katapun dalam sebuah kalimat. Tak ada jera lewati waktu tanpa laku dan tak ada rindu menjamu dalam hati hingga menerjang waktu untuk kembali dalam pelukan menuju masa depan yang lebih baik. Entah kau bosan ataupun kau jenuh hingga kau tak dengarkan pertanyaan mereka akan masa depanmu hingga kau abaikan waktumu hingga kau acuhkan janji akan jerih payah mereka agar kau menjadi orang yang lebih berwarna.

Tak tersadari atau memang keraguan diri telah mengacau dalam jiwa hingga tak ada kata iya tergores dalam hatimu untuk segera berpaling dekat dengan rencana masa depanmu agar mereka bersembunyi lama tak memberimu komentar Tanya akan skripsimu. Lihat keadaanmu saat ini, kau seperti waktu yang berjalan tanpa kaki, kau kosong dalam dunia begitu ramai, kau layu dalam taman penuh dengan bunga dan kau seperti gelap padahal kau disinari mentari setiap hari.

Kegelisahan dirimukah yang membuat dirimu lari dari masa depanmu yang pernah kau bilang akan mendapatkanya, Rindu itu yang kau eja dalam helaan nafasmu, kenapa kau tak ungkapkan saja dalam helaian kalimat skripsimu agar kau mampu temukan sedikit peluang untuk bernafas lega dan mampu katakan kepada mereka jika kau bukan pecundang yang mereka tancapkan dalam gelar waktumu saat ini.

Lihat orang tuamu, lihat sanak familimu, lihat sahabatmu dan lihat mereka yang mendukungmu, mereka terlalu yakin kepadamu hingga mereka kadang lupa akan perasaanmu dengan pertanyaan mereka “kapan wisuda” itu. Mereka bukan melemahkan hatimu, bukan menjatuhkanmu untuk pergi namun pertanyaan itu mereka bangun dengan hati didalamnya terkandung rasa prihatin penuh perasaan tulus agar kau bersemangat untuk segera lulus menjadi seorang sarjana.

Janganlah kau membenci mereka karena mereka selalu bertanya seperti itu, Jangan salahkan mereka karena pertanyaan itu datang silih berganti kepadamu. Mereka berhak bertanya seperti itu karena mereka pikir kau adalah bagian dari hidup mereka dan kau begitu berharga dalam waktumu mereka makanya mereka selalu bertanya akan apa yang sedang terjadi dalam hidupmu. 

Seperti orang tuamu, tak kenal lelah dan tak kenal waktu dalam setiap sujud mereka selalu berdoa agar dirimu segera menyelesaikan skripsimu. Lihat orang tuamu, dalam helaan nafas yang tersisa dalam lelah mereka tak peduli, dalam resah mereka tak segan untuk tersenyum dan dalam kalah mereka selalu merasa menang agar setiap kata-kata yang ia berikan kepada kita dapat menjadi sebuah makna dalam hidup kita agar suatu hari kelak menjadi seorang anak yang berguna.

Lihat keringat orang tuamu yang bercucuran keras setiap hari mencari nafkah demi sebuah tujuan masa depan indah untuk dirimu, mereka tak pernah lelah dan peduli entah apa yang terjadi dalam waktumu, mereka hanya ingin anak-anak mereka menjadi anak yang memiliki masa depan yang lebih dari pada mereka. 

Tegakah kau berbuat seperti itu kepada kedua orang tuamu yang selalu menanti kata senyum darimu, relakah dirimu melihat mereka duduk meneteskan air mata karena hanya kau tak mau bergerak jelas dalam harap mereka menjadi seorang sarjana. Terlalu sedih rasanya kau membuat mereka lelah menunggumu hingga mereka tak bisa melihatmu sukses kelak nanti, pikirkan itu.

Keluargamu, Jangan kau anggap mereka membencimu karena selalu melontarkan pertanyaan itu dan itu lagi, tahukah engkau mereka sangat prihatin dengan hidupmu dan sangat peduli dengan masa depanmu makanya mereka setiap bertemu denganmu mereka selalu bilang kapan kau wisuda karena mereka tak melihat kerja keras terpanpang dalam bait ceritamu.

Sahabatmu, Lihat mereka yang selalu memberi waktu dan luang untuk kau bisa berjalan dengan mereka. Kenapa mereka mengusik dengan pertanyaan itu karena mereka ingin kau melihat celah masa depanmu akan jauh lebih baik jika kau segera menyelesaikan skripsimu itu. Sahabatmu akan selalu mendukungmu dan akan selalu ada disetiap helaan nafas disaat kau terluka dan disaat kau meneteskan air mata. Jadi aku harap kau tak menjauh dari mereka karena hanya pertanyaan kapan wisuda itu.

Teman-temanmu, Walaupun ucapan mereka terlalu berat untuk kau terima akan pertanyaan itu dengan penuh ledekan, namun kau tak perlu beranggapan mereka serius dengan ledekan tersebut. Perlu kau kaji dan kau telusuri disetiap ledekan mereka tersebut ternyata tersimpan kata semangat untuk dirimu agar kau mampu melewati batas penghalang dalam hidupmu yaitu menyelesaikan skripsi secepat mungkin dan setelah itu mereka tak akan berisik lagi, percayalah, mereka itu orang baik tak perlu kau marah dengan ucapan mereka itu.

Seperti ceritaku dan sahabatku hari ini, Mengejar mentari pagi hingga sore dalam dekapan resah tak kenal lelah demi menjawab sebuah pertanyaan mereka kapan wisuda tersebut. Berawal dari sini cerita ini akan menjadi rindu dihati jika suatu hari kelak tidak ada lagi tawa diantara kami karena masa depan yang berbeda. Namun kami pastikan setiap goresan yang tertera dalam tulisan ini akan menjadi bukti jika kami pernah melakukan hal ini.

Aku, Denias dan Sendy yang tersisa dalam pertarungan dalam misi menuju wisuda saat ini masih tertahan dalam rasa rindu yang belum temukan tetesan jawaban pasti. Namun gerak langkah saat ini pertanda baik jika kami akan berlaku garang untuk buktikan diri jika kami bukan wisuda asal-asalan namun penuh perjuangan.

Bermodalkan resah kelana dalam hati, kami pastikan disetiap gerak ini tak akan kami lewatkan sejenak jua walaupun kami tak tahu jika suatu waktu salah satu dari kami pergi menghilang dari gemuruh pecah adab perjuangan ini. Namun kami tak akan biarkan alasan sia-sia menyita waktu hingga persahabatan yang terjalin menghilang pergi temukan amarah hingga menuai protes alam semensta akan arti persahabatan itu.

Memang tak seindah pelangi yang terbit ketika hujan pagi menyapa langit biru, memang rasa itu tak seindah bintang ketika muncul tersimpan satu cerita dalam hati untuk memilikinya. Namun cerita ini dari hati yang mengalahkan keindahan yang ada dimuka bumi ini karena kami menuliskan ini sesuai dengan fakta dan kisah nyata yang kami rangkum menjadi sebuah kalimat abadi dalam deraian air mata perjuangan menuju satu tujuan untuk menjadi seorang sarjana.

Mungkin diluar sana masih banyak lagi cerita tersimpan dalam lubuk hati mereka tentang bagaimana rasa menempuh perjuangan menuju sarjana. Anggapan orang mungkin enteng namun dalam tahap menuju seorang sarjana mungkinlah perkara mudah bagiku dan kedua temanku ini. Resah gulana mungkin menjadi hal yang lumrah dalam tahap ini dimana setiap waktu bahkan detik dalam pikiran dan hati selalu menjadi beban dalam melewati hari karena tak jarang tak segan dimana keadaan terlalu memojokkan diri dengan pertanyaan yang menurutku terlalu memukul diri tanpa mereka berpikir sejenak atas pertanyaan mereka tersebut dengan perkataan kapan Sarjana atau kapan wisuda?.

Apalagi aku dan temanku ini tak banyak waktu untuk fokus menyelesaikan pertanyaan itu menjadi tiada, karena aku dan temanku ini juga sibuk dalam dunia mencari nafkah setiap harinya, mungkin waktu untuk menyusun skripsi sedikit terganggu dengan lelahnya hari dipenuhi sesaknya pekerjaan. Namun jika dibiarkan saja mengalir menunggu keajaiban datang itu tak akan mungkin terjadi karena sejatinya setiap sesuatu yang kita inginkan sudah pasti ada perjuangan didalamnya dan begitu juga dalam tahap menuju sarjana sudah pasti harus ada perjuangan didalamnya jika ingin menjadi seorang sarjana.

Alhasil setiap perjuangan yang dilakukan dengan baik dan penuh semangat tentunya akan membuahkan hasil yang baik pula dan begitu jgua akhir dari kisah singkat aku dan temanku ini, walaupun hanya aku dan temanku yang satu saja yang berhasil melewati untuk menjadi sarjana, namun tidak dengan temanku yang satunya lagi dimana dia harus berhenti ditengah jalan karena alasanya waktu yang tak menungkinkan ada untuk dia beranjak menyelesaikan skripsinya.

Bagiku itu pilihan dia, dan aku sebagai teman dan sahabat sekalipun hanya mampu memberikan masukan motivasi agar dia bisa menyelesaikan skripsinya nanti dan aku bersama temanku ini mungkin telah melewati tantangan itu dimana kami saat ini sedang menunggu waktunya memakai baju toga dengan kepala tegak karena kami begitu bangga dengan perjuangan yang begitu lama dan masalah demi masalah datang ketika dalam tahap penyusunan skripsi ini.

Lalu bagaimana dengan anda yang mungkin saat ini sedang menyusun skripsi untuk menuju wisuda menjadi seorang sarjana. Jika anda hanya mendiamkan diri saja mungkin sampai kapanpun itu tak akan pernah selesai dan hal ini telah saya rasakan sendiri dimana saat itu aku berharap ada keajaiban datang agar skripsiku selesai namun pada kenyataannya tidak akan pernah ada keajaiban jika kita hanya berlaku diam tak mengerjakannya.

Semoga saja kalian yang sedang menyusun skripsi saat ini tak terbebani dengan adanya pertanyaan kapan wisuda dan lain sebagainya, tetap fokus dan semangat dalam diri apapun yang terjadi Karena jika tidak maka kau tak akan pernah menjadi seorang sarjana. Semoga tulisan ini memberimu semangat dan motivasi agar skripsimu ce[at selesai dan menjadi seorang sarjana bukan saja kebanggaan untuk diri sendiri namun juga keluargamu yang telah lama merindukan itu. 

Semoa bermanfaat dan terima kasih.

Terima Kasih Atas Kunjunganya Dan Semoga Bermanfaat Untuk Anda

Facebook Comment