13 Mar 2016

Review Film Dreams : Kisah Perjalanan Fatin Shidqia Lubis Menjadi Seorang Bintang

Memulai karier dari sebuah ajang pencarian bakat, bukan lagi informasi baru. Mungkin, hanya segelintir orang saja yang tak tahu tentang hal itu. Lantas ketika sebuah film berjudul Dreams mencoba mengangkat karakter Fatin yang tengah mengikuti sebuah ajang pencarian bakat, apa ada hal baru yang ditawarkan dari film ini?.  Untungnya, Dreams, yang disutradarai oleh Guntur Soeharjanto ini memiliki banyak hal lain yang bisa ditawarkan pada penonton. Caranya cukup cerdik, yakni memadukan karakter asli Fatin beserta masa lalunya, dengan kisah fiksi.

Dalam Dreams pelantun Aku Memilih Setia ini memerankan seorang remaja biasa bernama Fatin. Di kampus, ia berteman dengan sekelompok anak band Krosboi yang berpenampilan gondrong nan sangar. Sementara di rumah, ia adalah putri tunggal di keluarganya, yang kerap mengajari anak-anak sekitar rumahnya mengaji di masjid. Hobi menyanyi membuat Fatin kerap mengikuti ajang pencarian bakat dan kerap bersinggungan dengan Karina (Ardina Rasti) yang memandang Fatin sebelah mata.

Dilihat dari intisari plot utama Dreams ini, film tersebut sebenarnya mengangkat hal ringan dan sederhana yang dekat dengan keseharian remaja. Soal persahabatan, hubungan dengan keluarga, dan cita-cita. Bagaimana dengan cinta? Hal ini dikupas secara samar saja, dalam hubungan Fatin dengan seorang blogger muda bernama Rama yang dimainkan oleh Morgan Oey.

Bahasa yang digunakan pun begitu ngepop dan meremaja, yang untungnya tak jatuh menjadi bahasa alay. Di beberapa bagian, adegan terasa bagai keluar dari novel teenlit bacaan para ABG yang mungkin akan membuat penonton dewasa merasa sedikit geli. Misalnya saja kala Fatin dan Rama hendak menerbangkan harapan mereka ke angkasa. Tapi mengingat Fatinistic sebutan bagi penggemar Fatin kebanyakan adalah kalangan remaja, tak apalah bila film ini terasa begitu difokuskan untuk anak baru gede.

Toh film ini juga menyampaikan satu problem yang sedikit lebih berat dibandingkan dengan masalah klasik anak muda tadi. Yakni, permasalahan yang dihadapi ayah Fatin, Bahar, yang diperankan oleh Mathias Muchus. Dalam subplot ini, masjid yang telah lama dilindungi oleh Bahar, terancam dibongkar. Pasalnya, tanah wakaf tempat masjid tersebut berdiri, hendak dijual oleh cucu pemilik tanah.
Walau tergolong lebih berat, problem yang dialami Bahar dalam film ini pun tak lantas membuat kening terlalu berkerut. Apalagi pemecahan masalah ini ternyata sederhana, bahkan mungkin terasa sedikit utopis. Meski baru sekali ini bermain sebagai pemeran utama, Fatin tergolong melakoni perannya secara mengalir. Termasuk saat beradu akting dengan Mathias Muchus. Memang di beberapa bagian film, ia terlihat begitu sadar bahwa ia tengah berakting. Namun setidaknya, hal ini pun tak lantas mengganggu keasyikan menonton.
Sementara yang tampil menonjol dalam Dreams, justru para anggota Krosboi yang hadir sebagai comedic relief, alias karakter yang bertanggung jawab terhadap nuansa komedi dalam film ini. Terutama, dua anggota Krosboi Indra Wijaya dan Verdrian Yos Rizal yang berhasil mengeksekusi adegan dengan natural. Padahal, seperti Fatin, ini adalah pengalaman pertama mereka bermain film.

Ini tampaknya adalah buah dari kelas akting yang dilakoni oleh Fatin dan anggota Krosboi selama sekitar dua bulan. Pengajarnya, adalah seniman teater dan aktor peraih Piala Citra, Yayu Unru. Film yang mulai tayang pada 10 Maret ini, juga tak menyia-nyiakan posisi Fatin sebagai salah satu penyanyi populer di Tanah Air. Bersama dengan Sony Music, label yang membawahi Fatin, dirilis pula sejumlah lagu baru yang menjadi soundtrack film ini.

Terima Kasih Atas Kunjunganya Dan Semoga Bermanfaat Untuk Anda


EmoticonEmoticon

Hosting Unlimited Indonesia