Pasar Sarolangun, Pasar Tradisional Penuh Sejarah

Sarolangun merupakan salah satu kabupaten yang berada di provinsi Jambi. Kabupaten ini memiliki luas wilayahnya 6.174 km² dengan populasi kira-kira 300.000 jiwa. Kabupaten Sarolangun resmi berdiri pada tanggal 10 Oktober 1999 yang berdasarkan pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 1999 tentang pembentukan kabupaten Sarolangun, kabupaten Tebo, kabupaten Muaro Jambi, dan kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Sebelumnya, kabupaten Sarolangun dan kabupaten Merangin tergabung dalam Kabupaten Bangko. Namun selanjutnya berdasarkan keputusan DPRD Provinsi Jambi Nomor 2/DPRD/99 tanggal 9 Juli 1999 tentang pemekaran Kabupaten di Provinsi Jambi, maka kabupaten sarolangun dan merangin berdiri sendiri.

Sejarah Terbentuknya Kabupaten Sarolangun yaitu Setelah Proklamasi kemerdekaan Indonesia dicetuskan oleh Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, kota Sarolangun yang pernah menjadi basis patrol Belanda menjadi bagian dari Kabupaten Jambi ilir (Timur) dengan pusat pemerintahannya berkedudukan di Jambi dengan Bupatinya pada masa itu adalah M. Kamil.

Pada tahun 1950 sampai Jambi menjadi Propinsi tahun 1957, Sarolangun menjadi kewedanaan bersama kota-kota lainnya yaitu Bangko, Muaro Bungo, dan Muaro Tebo yang tergabung dalam Kabupaten Merangin dengan Ibukotanya semula berkedudukan di Jambi yang selanjutnya berpindah ke Sungai Emas Bangko. Sejak saat itu, Kota Sarolangun menjadi Kewedanaan selama kurang lebih 20 tahun.

Dengan dilintasi Sungai terpanjang di sumatera yaitu sungai tembesi, maka sarolangun merupakan pusat perdagangan pada masa penjajahan belanda dan itu terbukti adanya pasar tradisional yang dekat dengan pelabuhan sungai tembesi tersebut dengan sejarah keberadaan jembatan beatrix yang melintasi diatasnya. Pasar tradisional yang dekat dengan sungai tembesi yang dilintas jembatan beatrix tersebut memiliki banyak sejarah pastinya karena pada kala itu pusat perdangan rempah-rempah pernah terjadi disini.

Pasar Sarolangun terbagi menjadi dua, pasar atas dan pasar bawah. Pasar atas digunakan pusat kebutuhan pokok seperti sayuran, beras dan peralatan dapur lainnya sedangkan pasar bawah yagn berada didekat sungai merupakan tempat pakaiam, toko emas dan barang berharga lainnya.
Mengenai Keberadaan Jembatan Beatrix atau yang kerap di sebut masyarakat sebagai Beatrix Brug, sudah tak lagi asing  bagi masyarakat Jambi, terutama di Kabupaten Sarolangun. Karena Jembatan ini menyimpan cerita penderitaan rakyat Jambi saat penjajahan Belanda saat itu. Karena mengadung banyak sejarah maka jembatan ini terus dibenahi untuk mempertahankan cerita sejarah sekaligus mempercantik daerah sarolangun yang kini berganti nama dengan Ancol sarolangun.

Jembatan ini memiliki panjang kurang lebih 100 meter dengan lebar lima meter, menjadi satu penghubung alternatif Kampung Sri Pelayang dan Pasar Bawah Sarolangun. jembatan ini dibangun hampir belasan tahun lamanya yang dimulai sejak 1923 hingga diresmikan pada tahun 1939. Penamaan Beatrix sendiri, menurut cerita turun temurun, kemungkinan disadur dari nama Beatrix Wilhelmina Armgard, yang menjadi Ratu Belanda yang mendiami sarolangun kala itu.

Jika suatu hari kelak anda memiliki waktu dan uang lebih maka tak ada salahnya untuk mengunjungi sarolangun daerahku ini. Semoga memberikan manfaat untuk anda semuanya, terima kasih.

Terima Kasih Atas Kunjunganya Dan Semoga Bermanfaat Untuk Anda

Facebook Comment