Revolusi Mental Lewat Pendidikan Di indonesia

Bertepatan dengan Dimulai ajaran baru untuk semua jenjang pendidikan di Indonesia ini, Maka tak ada salahnya jika saya mengeluas sedikit pengetahuan saya mengenai pendidikan di negeri kita tercinta yang hingga saat ini saya anggap masih butuh pembenahan mulai dari indidu generasi itu sendiri, tenaga penagajar hingga sarana prasarana yang mendukung terbentuknya pendidikan yang baik tersebut.
Dalam tulisan ini saya segaja mengambil subtema yang berjudul revolusi mental melalui pendidikan yang saya pikir hal ini dapat memberikan masukan positif demi kemajuan pendidikan di Indonesia ini baik itu secara diri saya pribadi sebagai pelajar maupun untuk generasi bangsa yang akan bertanggungjawab meneruskan bangsa ini kedepan yang lebih baik melalui jalur pendidikan yang baik ini pastinya.

Hal yang ingin saya bahas dalam hal ini adalah mengenai keadaan fisik dalam pendidikan Indonesia yang hingga saat ini sudah menjadi budaya pendidikan yang salah kaprah sebetulnya. Sebut saja hal yang baru-baru ini terjadi ketika semua jenjang pendidikan dimulai dimana disetiap sekolah menerapkan budaya pendidikan katanya yang dinamakan MOS (Masa Orientasi Sekolah).

Masa Orientasi Sekolah ini pada awalnya di canangkan untuk hal yang baik sebetulnya yaitu untuk memperkenalkan kepada siswa-siswi baru pada lingkungan sekolah yang barunya ketika lulusan SD masuk ke SMP, SMP masuk Ke SMA dan SMA masuk ke jenjang perkulihan. Hal ini tentunya akan terasa baru dan terasa nyaman untuk mereka nikmati karena merasakan sesuatu yang baru bagi perkembangan kehidupan mereka para siswa tersebut.

Namun yang menjadi permasalahannya adalah ketika MOS tersebut menjelma menjadi sebuah ketakutan yang nyata akan hadirnya untuk menyambut para siswa-siswi baru tersebut. Para senior mereka bukannya menerapkan hal yang lumrah seperti apa diadakannya MOS tersebut namun sebaliknya diluar apa yang telah menjadi ketentunya daripada Kegiatan MOS tersebut.

Pihak sekolah sebenarnya memberikan instruksi kepada mereka yang berlaku dengan baik sebetulnya namun di lapangan mereka seakan lupa diri yang mengatasnamakan dendam pribadi terhadap siswa-siswi baru yang pernah mereka alami dulu ketika mereka masuk pula. Jika hal ini terus memberikan efek buruk seperti itu maka tradisi ini bukan menjadikan pendidikan mental generasi ini bagus namun akan berdampak buruk dan tidak akan pernah berakhir baik tanpa harus ada turun tangan dari pihak yang bertanggungjawab dalam negeri ini.

Sudah berapa kali kejadian yang terjadi ketika Kegiatan ini dilakukan. Bukan saja kerugian secara fisik dan raga namun nyawapun pernah melayang akan kegiatan yang mengatasnamakan pendidikan mental untuk siswa-siswi baru generasi bangsa ini. setiap tahun dilakukan, setiap tahun pula nyawa para siswa-siswa baru melayang. Belum lagi perlakukan yang tidak senonoh dan kasar dilakukan oleh mereka yang bertindak sebagai senior yang katanya lebih berpendidikan, namun kenyataannya lebih buruk dari apa yang menjadi gelar mereka tersebut.

Ikan dukungan kepada presiden terpilih Joko Widodo akan adanya revolusi mental melalui pendidikan yang pada saat diluncurkan mendapat respons positif dari berbagai kalangan, baik dari teknokrat, agamawan, maupun para pendidik dalam negeri ini. Ide revolusi mental tersebut tercipta dan bermula dari kejadian dan kegalauan yang dirasakan masyarakat di berbagai ruang kehidupan dalam bangsa Indonesia yang dinilai akan berdampak buruk untuk masa depan bangsa jika tidak ada pembenahan yang serius yang dimulai dari dunia pendidikan.

Mengkaji lebih jauh akan permasalah yang terjadi dalam negeri ini, tentunya akan banyak hal ayng harus dibenahkan, Namun hal yang utama yang harus dibenahkan terlebih dahulu adalah masalah pendidikan yang kita tahu pendidikan akan mempengaruhi setiap sepakterjang setiap insan dalam melakukan hal dalam kehidupannya. Jika pendidikan seseorang itu baik, maka perbuatannya akan baik. Untuk itulah kenapa harus dimulai dari pembenahan pendidikan ?, Berikut ulasannya :
  • Pembenahan Harus Dimulai Dari Pendidikan Itu Sendiri (Revolusi Pendidikan)
Mengingat peran pendidikan yang dimiliki oleh diri seseorang maupun berbangsa dan bernegera sangat strategis dalam kemajuan bangsa yang akan mepengaruhi Pengembangan kebudayaan maupun karakter bangsa yang diwujudkan melalui ranah pendidikan tersebut adanya. Pendidikan tersebut akan pengembangan karakter yang memiliki proses berkelanjutan dan tidak pernah berakhir. Selama sebuah bangsa ada dan ingin tetap eksis dalam waktu yang lama, maka pendidikan harus menjadi bagian terpadu dalam negeri tersebut, Jika tidak maka negera tersebut akan sulit berkembang dan berkelanjutan baik di masa yang akan datang.

Pendidikan membutuhkan komitmen dan integritas para pemangku kepentingan di bidang pendidikan untuk secara sungguh-sungguh menerapkan nilai-nilai kehidupan di setiap pembelajaran. Pendidikan seahrusnya tidak sekadar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi juga menanamkan kebiasaan menjadi sebuah hoby tentang hal mana yang baik. Dengan alasan begitu, anak didik menjadi paham dan mengerti tentang mana yang baik dan salah serta mampu merasakan nilai yang baik, perilaku yang baik, dan biasa melakukanya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Untuk apa ada pendidikan jika bukan mendidik adanya, Adanya pendidkan untuk mereka bisa belajar bukan hanya sekedar kurikulum saja yang mereka harus ikuti tetapi kehidupan yang benar-benar mampu menghidupi mereka dengan ilmu yang mereka peroleh dari sekolah mereka tersebut, Namun yang terjadi sekarang, banyak nilai atau ajaran yang sudah ada itu dikaburkan, ditutup-tutupi dengan kebohongan yang dikemas dalam sebuah ikon berupa iklan yang justru menyesatkan yang membuat mereka segan untuk bersekolah.
  • Hal Utama Yang Harus Dijalankan Dalam Proses Revolusi Mental Melalui Pendidikan
Pendidikan karakter, Pendidikan yang mendasar yang harus ada dalam pendidikan berbangsa dan bernegara pastinya berdasar atas hukum moral yang artinya sikap hormat dan bertanggung jawab. Nilai tersebut mewakili dasar moralitas utama yang berlaku secara universal. Sebab, itu memiliki tujuan dan merupakan nilai yang nyata bahwa terkandung nilai-nilai baik bagi semua orang, baik secara individu maupun sebagai bagian dari masyarakat.

Pembentukan karakter pendidikan akan menjurus pada rasa tanggung jawab yang merupakan suatu bentuk lanjutan dari rasa hormat. Jika menghormati orang lain, itu berarti kita menghargai mereka. Jika menghargai mereka, kita merasakan sebuah ukuran dari rasa tanggung jawab kita untuk menghormati kesejahteraan. Tanggung jawab secara literal yang Artinya, tanggung jawab berorientasi terhadap orang lain, memberikan bentuk perhatian, dan secara aktif memberikan respons terhadap apa yang mereka inginkan. Tanggung jawab menekankan kepada kewajiban positif untuk saling melindungi.

Sikap hormat dan tanggung jawab adalah dua nilai karakter dasar dalam membentuk mental anak yang harus diajarkan di sekolah. Jiak karakter tersebut telah tertanam dalam pendidikan seseorang maka akan menghasilkan nilai kejujuran, keadilan, toleransi, kebijaksanaan, disiplin diri, tolong-menolong, peduli terhadap sesama, keberanian, dan sikap demokratis dalam dirinya. Namun, nilai-nilai khusus tersebut masih simpang siur terjadi dlaam dunia pendidikan di dalam negeri kita ini karena keadaannya masih jauh dari persepsi tersebut yang adanya hanya karena uang dalam sebuah bisnis saja adanya.
  • Revolusi Mental Dalam Dunia Pendidikan Harus Dijalankan Sepenuhnya Bukan Hanya sekedar Gosip Saja
Revolusi Mental mengandung arti segala sesuatu menyangkut cara hidup diri seseorang. Mental tidak dipisahkan dari hal-hal material. Mental pelaku dan struktur sosial dilihat berhubungan secara integral, tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Mental pelaku dan struktur sosial dijembatani dengan memahami dengan baik dan penuh dengan pengertian yang luas. Revolusi mental melibatkan semacam strategi kebudayaan. Hal yang dibidik oleh revolusi mental adalah transformasi etos, yaitu perubahan mendasar dalam mentalitas yang meliputi cara berpikir, cara merasa, cara mempercayai yang semuanya ini menjelma dalam perilaku dan tindakan sehari-hari.

Dengan adanya Pendidikan formal melalui sekolah dapat menjadi lokus untuk memulai revolusi mental ini. pendidikan diarahkan pada pembentukan etos warga negara. Proses pedagogis membuat etos warga negara ini tumbuh atau dapat menjadi tindakan sehari-hari. Cara mendidik perlu diarahkan dari pengetahuan diskursif ke pengetahuan praktis yang artinya, membentuk etos bukanlah pembicaraan teori-teori etika yang abstrak, tetapi bagaimana membuat teori-teori tersebut memengaruhi tindakan sehari-hari. 

Pendidikan diarahkan menuju transformasi di tataran kebiasaan. Pendidikan mengajarkan keutaamaan yang merupakan pengetahuan praktis. Revolusi mental membuat kejujuran dan keutaamaan yang lain menjadi suatu disposisi batin ketika siswa berhadapan dengan situasi konkret.

Pendidikan di sekolah hanya salah satu kantung perubahan saja. Revolusi mental yang menjadi gerakan berskala nasional perlu dilakukan di setiap kelompok-kelompok di kehidupan sehari-hari. transformasi sejati terjadi dalam kesetiaan bergerak dan menggerakkan perubahan dalam hal-hal yang rutin.

Berdasar keadaan dan kejadian yang terjadi dalam dunia penddikan dalam negeri ini maka revolusi mental yang dmulai dari pendidikan yang perlu diperbaiki berkenaan dengan revolusi mental teseebut adalah :
  • Terapkan Disetiap Aspek Pendidikan Untuk Tidak Sekedar Membacanya Saja Namun Menghafalkannya
Ilmu pengetahuan tidak akan lahir hanya sekedar membacanya dan menulis saja, tanpa usaha menghafal suatu peristiwa yang terjadi dalam proses belajar tersebut maka seorang pelajar akan kesulitan untuk berkemabang untuk menjadi anak yang pintar. Namun Menghafal akan menjadi masalah juga apabila dilakukan tanpa mengetahui konsep yang sesungguhnya. Jika Para pelajar hanya menghafal rentetan kata dan kalimat tanpa tahu makna yang sesungguhnya maka itu tidak akan menjadi lebih baik juga karena apa yang tertanam ddalam diri tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan yang ada.

Bagaimana caranya agar merevolusi mental dalam konsep menghafal ini bisa di gunakan dengan baik bagi pelajar kita dan Perlu ada perbaikan dalam metode mendidik kita ini ?. Hal tersebut tentunya dimulai dan dijalankan oleh setiap instansi sekolah yang mengharuskan anak didiknya untuk menghafal suatu peristiwa penting setiap jenjang pendidikan agar tertanam dalam diri mereka yang akan menubuhkan ajaran yang diperoleh di sekolah agar sungguh dapat diterapkan dalam praktek hidup.
  • Ijazah adalah Inti dari Pendidikan Bukan Sekedar Gelar Semata Tanpa Ada Ilmu Yang didapatkan
Masyarakat yang memandang ijazah sebagai tujuan pokok dari seluruh proses pendidikan kehilangan makna dari pendidikan itu sendiri. Menurut mereka Jika Bersekolah itu hanya usaha untuk mendapatkan ijazah saja. Agar mendapatkan ijazah dengan keterangan yang memuaskan, nilai-nilai ujian perlu digenjot. Ijazah menjadi golden ticket untuk meneruskan perjuangan hidup berikutnya. Ijazah digunakan untuk melamar pekerjaan dan mendapatkan jabatan sehingga kesejahteraan hidup pun terjamin. Apa bahaya dari pandangan yang terlalu gila ijazah itu ?

Pendidikan, dalam masyarakat yang demikian, tidak lagi merupakan usaha untuk membuat manusia yang sungguh menjadi manusia. Nilai ujian dan ijazah dikejar demi nilai ujian itu sendiri. Nilai ujian dan ijazah bukan lagi menandakan kualitas dari peserta didik. Pendidik dan peserta didik sama-sama dituntut untuk menjalani pendidikan sekedar sebagai formalitas untuk memperoleh nilai yang baik, lalu segera lulus dan mendapatkan ijazah. Dosen yang membutuhkan waktu lama untuk membimbing satu skripsi, misalnya, tidak jarang dianggap terlalu kolot dan didesak segera meluluskan mahasiswa tersebut dengan kemampuan yang seadanya.

Revolusi terhadap mental gila ijazah ini memang tidak mudah sebab perbaikan tidak hanya melibatkan sistem pendidikan melainkan juga sistem ekonomi dan politik. Sistem penilaian dalam pendidikan perlu dibuat agar tidak terlalu mementingkan kuantitas. Lapangan pekerjaan juga perlu diperluas agar orang tidak khawatir akan kesempatan yang ia dapatkan untuk mengembangkan diri di suatu lapangan pekerjaan tertentu. Dengan demikian, pendidikan yang ia jalani juga sungguh berkualitas.
  • Standarisasikan nilai Siswa-siswi Dengan Ujian Mandiri Bukan Hasil Dari Contekan
Ujian Akhir Nasional (UAN) yang selama ini dilakukan menuai banyak kritik. UAN dilakukan dengan alasan standarisasi kemampuan pelajar di seluruh Indonesia. Pelaksanaan UAN memiliki asumsi dasar bahwa peserta didik berangkat dari modal yang sama sehingga dapat mencapai standar kemampuan akademis tertentu yang sama. Kenyataannya, peserta didik tidak memiliki modal yang sama. Mereka memiliki modal pengetahuan, budaya, kualitas sekolah dan lingkungan masyarakat yang berbeda. UAN sebagai standarisasi kemampuan akademis tidak lagi relevan mengingat modal yang berbeda ini.

Peserta didik di Jakarta tidak memiliki latar belakang budaya, kualitas sekolah dan lingkungan serta kebutuhan yang sama dengan peserta didik di makassar, sehingga standarisasi pun tak dapat dilakukan. Syarat suatu perbandingan dapat dilakukan ialah hal-hal yang diperbandingkan memiliki prinsip yang sama.
  • Harus Hapus Slogan Jika Pendidikan Itu Bukan Hanya Formalitas Saja Namun Untuk Hidup lebih Baik
Pendidik dalam menjalankan aktivitas mendidik tidak hanya berurusan dengan peserta didik dan materi yang ingin disampaikan saja dalam sekolah tersebut. Seorang Pendidik juga harus disibukkan juga dengan rencana pembelajaran dan target materi yang harus tersampaikan. Target ini tentu berkaitan juga dengan materi UAN. Apabila target materi tidak terpenuhi maka peserta didik terancam tidak lulus UAN nantinya. Apabila ada siswa yang tidak lulus UAN, maka nama baik sekolah pun akan tercemar.

Namun yang menjadi persolan itu yang membuat setiap sekolah harus memberikan contekan kepada siswanya agar lulus dengan nilai tinggi namun upayakan memberikan pelajaran yang lebih baik agar mereka paham betul untuk bisa siap dalam menghadapi ujian dan mendapatkan nilai baik. Setiap sekolah harus menerapkan kepada seluruh anak didiknya agar mengarah kepada pendidikan yang sesungguhnya bukan sekedar hadir disekolah saja lalu pulang namun upayakan dalam diri mereka jika ada pelajaran yang masuk dalam pikiran mereka untuk bekal mereka kelak di masa depan mereka.
  • Jangan Biarkan Orang Miskin Tidak Bisa Sekolah
Di Negeri kita jika ingin bersekolah tentunya harus memiliki banyak uang, Jika tidak maka tidak ada sekolah untuk kita. Jika hal itu terjadi perlu kita Bayangkan berapa uang yang harus cari dan kita dikeluarkan untuk menyekolahkan anak dari pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi nantinya. Mungkin bagi mereka yang memiliki harta yang berlimpah mungkin bisa menyekolahkan anak mereka tanpa harus berpikir dua kali, namun jika kita prang yang pas-pasan tentunya akan pusing tujuh keliling bukan kepalang untuk biaya anak kita untuk bisa bersekolah.

Untuk bisa sekolah bukan Puluhan bahkan ratusan juta rupiah biaya yang dibutuhkan untuk mendukung pendidikan seorang anak. Biaya ini tidak masuk akal bagi orang tua yang memiliki pendapatan tidak lebih dari satu setengah juta rupiah per bulan, bahkan untuk yang berpenghasilan tiga juta rupiah sekalipun. Tidak masuk akalnya biaya untuk pendidikan, membuat banyak anak harus putus sekolah.

Dengan adanya Revolusi Mental dalam pendidikan tentunya perlu didukung agar pendidikan dalam negeri kita ini pada akhirnya dapat diakses siapa saja di seluruh pelosok dalam negeri ini. Apabila kartu indonesia pintar jadi diterapkan,maka mekanisme pembagian serta penggunaanya perlu dikawal agar dapat berfungsi dan tepat sasaran. Namun hingga saat ini hal dan janji itu bukan juga berjalan dengan baik dan hanya kita yang bisa bergerak untuk memberikan dukungan agar para penguasan disana bisa berjalan sesuai dengan apa yang mereka katakana tersebut demi kelangsungan masa depan generasi bangsa ini kelak hari.
  • Pelajaran Agama Harus Diperkuat dan Di Khususkan Disetiap Sekolah Walaupun Sekolah Umum
Walaupun Pada kurikulum 2013 banyak mengundang kritik dari para pemerhati pendidikan dalam negeri ini karena Kurikulum 2013 memiliki tujuan besar untuk mengubah moral peserta didik menjadi lebih baik melalui pendidikan agama yang dikhususkan dan diperbanyak Jam Belajarnya walaupun sekolah berstatus umum. Namun dengan kebijakan tersebut Kekeliruan mulai pecah dalam masyarakat kita ketika penerapan kurikulum 2013 dilakukan dengan memperbanyak ajaran agama. 

Anggapan bahwa mereka mengatakan Jika memperbanyak pelajaran agama dapat mengubah perilaku menjadi baik dan berakar dari asumsi pembedaan yang tajam antara budaya dalam bentuk pola pikir, perasaan dan tindakan yang lebih menjurus yang akan menimbulkan perbedaan satu dengan yang lainnya.

Padahal dalam kenyataan hal tersebut tidak menjamin nilai-nilai yang dipelajari di sekolah menjadi cara berpikir dalam praktek hidup para pelajar. Dalam revolusi mental, perlu diupayakan perubahan asumsi dasar dalam memandang dan mengubah budaya tersebut. Sebagaimana disarankan dalam tulisan dalam arti Revolusi Mental jika unsur budaya sebagai pola kebiasaan serta pandangan hidup untuk bisa hidup lebih baik dan terpelajar berlandaskan moral hati nurani.
  • Ubah Persepsi Pendidikan Yang Tidak Mengikat Orang Untuk Bisa Sekolah
Hal yang terjadi dalam pendidikan kita saat ini adalah masalah biaya ataupun akses lainnya yang membaut mereka tidak bisa bersekolah. Nah, Dengan adanya revolusi mental dalam dunia pendidikan ini berharap berdampak pada sesi manusianya agar berpikiran baik jika pendidikan itu bukan masalah biaay dan akses saja untuk mengurungkan niat mereka untuk sekolah namun keinginan yang kuat yang mampu mengubah tidak bisa menjadi bisa.
  • Harus Tegakan Pendidikan Yang berlandaskan Moral Bukan Kebiasaan Budaya Turun Menurun
Pada beberapa hari terkahir ini kita mungkin mendengarkan berita akan hal yang sangat mengenaskan hati setiap mereka yang memiliki anak seorang pelajar karena berit tersebut memberikan informasi jika telah terjadi kembali kekerasan dlaam dunia pendidikan kita yang menewaskan nyawa generasi muda kita Indonesia karena ulah kebiasan budaya yang tak masuk akal yaitu MOS yang menyimpang alias salah kaprah tersebut yang mereka terapkan disetiap sekolah-sekolah.

Hal ini tentunya sangat salah menurut saja karena budaya MOS ini merupakan kebiasaan yang turun menurun yang sejal dulu telah adan yang berlandaskan rasa dendam terpaut didalamnya. Ada yang berkata jika Hal ini dilakukan untuk mengasah mental para siswa agar kuat untuk menempuh masa pelajaran baru. Menurut saja tidak ada hubunganya dengan pelajaran dengan kekerasan yang sering mereka praktekan dalam kegitan MOS ini.

Jika hal ini terus diterapkan, maka hal ini akan semakin buruk keadaan dan pendidikan kita akan sulit menciptakan generasi yang bermoral karena didalamnya hanya akan tertanam rasa dendam dan ketidakpuasan akan perlakukan dalam dunai pendidikan mereka nantinya.
  • Tidak Mencampurkan Dunia Pendidikan Dengan Dunia Politik
Hal yang terjadi dalam negeri kita saat ini adalah apapun halnya akan berkompetisi dalam dunia politik, Apapun itu akan diarahkan dalam politik dan itu menyebabkan sulitnya berkembangkan akan hal apa yang ingin dijalankan. Kebijakan yang berlandaskan akan ikut campur masalah ini di sangkutpautkan dengan masalah itu yang pada akhirnya membuat semua terbengkalai yang berujung tanpa arah dan jawaban akan apa yang sedang ingin dikerjakan untuk negeri ini.

Dari campur baur akan keadaan tersebut tentunya sangat berdampak pada sebuah jalur pendidikan yang seharusnya dijauhkan dari kepentingan politik. Jika satu arah saja dijalankan dan juruskan dengan baik dari penataan yang pasti, mungkin pendidikan kita akan lebih baik untuk bisa menjamin keselamatan generasi muda bangsa ini nantinya.
  • Pendidikan Yang Tidak Membebani Diri
Harus Ditanamkan disetiap individu baik itu bagi seorang pelajar maupun orang tua wali mereka agar berpikiran untuk tidak membenai diri dalam hal belajar ini. Setiap masyarakat perlu mengupayakan agar pendidikan tidak menjadi beban dalam hidup mereka karena masalah dimana mereka bisa belajar dan bagaimana cara mereka mendapatkan biaya. Untuk memberikan masukan akan hal itu di Perlukan usaha akan kelompok-kelompok pendidikan informal di lingkungan tempat tinggal untuk memberikan ruang untuk mereka bisa belajar walaupun bukan sekolah formal.

Kelompok-kelompok belajar dan sanggar-sanggar belajar bagi anak-anak, yang bersifat tidak berbayar perlu diselenggarakan dan harus mulai dikembangkan oleh pemerintah agar pendidikan dapat dirasakan bagi siapa saja. Selama ini, sebenarnya banyak pendidikan informal yang kreatif dengan metode pengajaran yang mengembangkan potensi peserta didik, namun hanya saja kurang dukungan pemerintah akan kehadiran sarana pendidikan tersebut.

Program ini merupakan program yang dicanangkan oleh Pak presiden kita Saat ini, Namunbelum berjalan dengan baik bhakan tak terdengar sama sekali kabarnya. Memang butuh waktu untuk melakukan hal yang baik seperti ini, namun haruslah dimulai bukan di diamkan saja. Jika hanya janji tanpa laku didialamnya, maka apapun itu tak akan pernah terbentuk dan berjalan sesuai dengan harapan apa yang ditanamkan masyakarakat akan kepastian tersebut.

Itulah Ulasan yang dapat saya sampaikan untuk tahap dalam merevolusi mental generasi muda Indonesia yang harus dimulai dari dunia pendidikan dan harus dijalankan Jika Inginkan Pendidikan di negeri ini berevolusi dengan baik dan menjamin masa depan negeri ini agar menjadi negeri yang bebeas dari berbagai tipu daya yang kini marak yang dipraktekan oleh para petinggi negeri ini. semoga tulisan ini bermanfaat untuk anda semua khususnya untuk kemajuan pendidikan Indonesia.

Terima Kasih Atas Kunjunganya Dan Semoga Bermanfaat Untuk Anda

Facebook Comment