21 Agt 2015

Film Love You Love You Not ! : Kisah Yang Menghangatkan Hati

Seperti yang tertulis Detikhot.com, Kisah ini bermula dan berawal dari Film yang Rilis di pengujung 2014 di Thailand, ‘I Fine... Thank You... Love You’ jadi salah film komedi romantis paling sukses di sana, dan rupanya tak butuh waktu lama bagi studio MVP Pictures untuk membuat ulang versi Indonesianya. Materi filmnya memang berpotensi besar untuk dibuat ulang ke versi negara mana pun di dunia ini. MVP Pictures membeli hak untuk bisa membuat ulang film tersebut, lantas mendapuk sutradara Sredhar Jetty (‘Eiffel I'm In Love’) dan penulis naskah Mira Santika (‘Mika’) untuk berkolaborasi menerjemahkannya menjadi tontonan bercitarasa lokal.
‘Love You... Love You Not...’ memiliki jalinan cerita yang sama persis dengan film aslinya, namun ada juga tambahan beberapa adegan yang memang “asli”. Improvisasi itu menambah nilai lebih pada film ini, menjadikannya tampak segar untuk ditonton walaupun kisah yang diusungnya sesungguhnya pernah kita saksikan sebelumnya, dan belum lama-lama amat.

Amira (Chelsea Islan, ‘Di Balik 98’), cewek kece nan menggemaskan level peserta pemilihan ratu kecantikan sedunia, mengajar les bahasa Inggris di sebuah tempat les yang sepertinya ia miliki sendiri, berlokasi di dalam gedung sebuah mall. Ia tinggal seorang diri di sebuah rumah mewah berkolam renang yang saya taksir berharga belasan miliar, mengendarai mini cooper keluaran terbaru, berpakaian trendy bak supermodel kondang ibu kota, menjadikan pekerjaannya sebagai guru les tampak sebagai sekedar hobi saja. Tapi, film ini tak menceritakan lebih jauh lagi tentang asal usulnya, dari awal kita hanya diberitahu bahwa Amira amat menikmati pekerjaannya mengajar di kelas, dan kita melihat interaksinya yang manis dan hangat dengan murid-muridnya.

Semuanya berjalan normal-normal saja dan menyenangkan bagi Amira, hingga datanglah Suchin (diperankan dengan amat menggoda oleh RR Melati Pinaring), salah seorang muridnya yang berkebangsaan Thailand, meminta tolong agar Amira dapat membantunya putus hubungan dengan Juki (Hamish Daud, ‘Supernova’), cowok Betawi turunan bule yang kampungan sekali. Suchin hendak pergi ke Amerika, dan karena itu ia ingin putus dengan pacarnya yang tak bisa berbahasa Inggris itu. “Lantas selama ini bagaimana kalian berkomunikasi?” tanya Amira keheranan. Suchin dengan raut muka malu-malu menjawab, “Seks!&rdquo.

Suchin membuat pesan suara dalam bahasa Inggris untuk kemudian diterjemahkan oleh Amira kepada Juki. Pada saat Amira menerjemahkan kata per kata perpisahannya, Juki marah dan remuk hatinya hingga ia pun memaksa Amira untuk mengajarinya bahasa Inggris agar dapat menyusul Suchin ke Amerika. Dari sini cerita film makin menarik dan seru untuk diikuti.

Tak butuh kecerdasan tinggi untuk bisa menebak bahwa Amira dan Juki ini bakal saling jatuh cinta pada akhirnya nanti, dan film ini --sama dengan versi aslinya tentu saja— menerapkan rumus-rumus baku film komedi romantis secara paripurna. Lengkap dengan tambahan karakter prince charming jahat, Taufan (Miller Khan, ’Cintapuccino’) sebagai penghalang kisah cinta mereka.

Bila ada “pesan moral” yang bisa digali dari film ini, salah satunya adalah, bahwa seks merupakan bahasa pemersatu bangsa. Orang berbeda budaya, berbeda bahasa, dan berbeda bangsa dapat saling memahami satu sama lain dengan seks. Karena itu pulalah, Juki mati-matian ingin kembali ke pangkuan Suchin, agar ia dapat ngeseks, eh, “berkomunikasi” kembali dengannya

Genre komedi romantis bukanlah genre yang populer dalam khazanah perfilman Indonesia, bahkan di ranah Asia sekali pun. Genre ini amat lekat dengan Hollywood, dan sudah terbukti bahwa merekalah yang paling jago membuatnya. Dari tahun ke tahun sejak era perfilman Indonesia bangkit selepas ‘Petualangan Sherina’ tak banyak film komedi romantis yang diproduksi. Kalau pun ada satu-dua film yang mencoba genre ini, biasanya gagal. Terakhir saya menonton film komedi romantis yang paling berhasil dan paling baik di genre ini adalah ‘Kapan Kawin?’ dan ’Cinta/Mati’ (keduanya garapan Ody C Harahap), setelah lebih dari satu dekade hampir tak ada satu film dari genre ini yang tampil memuaskan.

‘Love You... Love You Not...’ terlepas bahwa ini merupakan film buat ulang, berhasil mengocok perut saya, membuat saya tersenyum bahagia, dan pada saat yang bersamaan juga berhasil mengisi hati saya. Pembuat film ini bekerja dengan amat baik, dan bahkan bisa melampaui capaian film aslinya. Saya sendiri lebih menikmati film ini ketimbang film aslinya.

Yang paling membuat film ini berhasil, selain naskah tulisan Mira Santika dan penyutradaraan Sridhar Jetty, adalah performa gemilang dari duo Chelsea Islan dan Hamish Daud. Tanpa mereka film ini bakal berakhir jadi cerita lain. Tak pernah Chelsea Islan sepanjang kariernya berakting tampil semenggemaskan dan secantik ini. Dan, sekedar catatan saja, para sutradara dan penata kamera perlu belajar banyak kepada pembuat film ini, khususnya kepada penata kamera Rei Supriadi (‘Eiffel I'm In Love’, ‘Apa Artinya Cinta’) tentang bagaimana caranya membingkai para pemain jadi sebegitu sedap untuk dipandang mata.

Di negara yang tingkat peradabannya lumayan maju, film sejenis ‘Love You... Love You Not...’ ini semestinya bisa meraih jutaan penonton. Sebab, selain menghadirkan kisah yang menghangatkan hati, film ini juga sangat menghibur, penuh canda yang dapat mengusir segala penat. Senyum saya tersungging lebar selepas menyaksikannya.

Terima Kasih Atas Kunjunganya Dan Semoga Bermanfaat Untuk Anda


EmoticonEmoticon

Hosting Unlimited Indonesia