25 Mei 2015

Menjadi Penulis Media, Siapa Takut ?

Karya tulisan yang dimuat di media, nama yang tecetak indah, dan mendapatkan honor. Tiga hal yang selalu menjadi impian bagi penulis pemula. Namun sayangnya, tidak banyak yang benar-benar memperjuangkan. Sebagian hanya terhanyut dalam euforia memajang karya di sosial media. Lalu kita berbondong-bondong ingin mendapatkan hasil yang instan. Padahal, hanya kopi dan mie yang bisa dinikmati dengan instan. Sisanya membutuhkan keringat dan air mata darah. Jungkir balik dari kepala di kaki sampai kaki di kepala.

Saya pernah menjadi golongan yang menyukai yang instan-instan. Lalu tentu saja berakhir dengan mengenaskan. Saya frustasi. Beberapa karya yang saya tulis selama kurang lebih sebulan, tidak ada satupun yang dimuat. Saat itu karya saya masih campur baur. Dari artikel, cerita pendek remaja, sampai cerita anak. Sepanjang saya menulis, saya berusaha membagi pikiran saya untuk bisa menulis beragam genre.

Saya menemukan tulisan seorang penulis senior di media. Beliau berulang kali berpesan di mana saja, entah di blog pribadinya maupun di Facebook. Bahwa salah satu kunci utama menjadi penulis media ialah fokus. Minimal fokus pada satu genre selama beberapa bulan. Sampai kita menjadi ahli. Minimal sampai karya kita sudah banyak mejeng di berbagai media.

Saya menelan ludah. Beliau benar. Selama ini saya terlalu serakah ingin menguasai beragam genre. Setelah berpikir panjang dan merenungi dengan hati-hati, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi penulis cerita anak untuk media.

Langsung sukses? Oh tidak. Saya membutuhkan kira-kira waktu dua bulan untuk beradaptasi. Dari mulai mengamati banyak contoh tulisan di blog-blog penulis, memborong majalah bekas di lapak koran, sampai memburu bazar buku anak murah di gramedia terdekat. Segala macam percobaan dan kesalahan dalam penulisan pernah saya lakukan. Semuanya saya lakukan otodidak. Bolak balik membaca dan menulis.

Beberapa tulisan yang saya pajang di grup menulis juga tidak pernah lepas dari kritik yang pedas. Puluhan tulisan yang tidak ada kabar. Arrgggh, semakin membuat saya frustasi. Di titik ini saya ingin menyerah.

Tulisan pertama saya dimuat. Rasanya campur aduk. Antara tidak percaya, bahagia, dan bangga. Semuanya mampu membayar rasa lelah dan frustasi yang saya rasakan sebelumnya. Saya puas, sangat puas. Meskipun cerita anak pertama saya itu hanya menerima honor kaos dan bukti terbit.


Semenjak itu, saya menjadi lebih semangat menulis. Saya mulai mempercayai pesan para penulis senior. Banyak baca, tulis cerita, kirim ke media, lupakan, lalu kembali lagi ke siklus pertama. Begitu seterusnya. Sampai pihak redaksi tahu eksistensi kita, tahu tentang keunikan tulisan kita, tahu bahwa tulisan kita layak untuk mereka muat.


EmoticonEmoticon

Hosting Unlimited Indonesia