20 Mei 2015

KERANJANG PEMBAWA BERKAH

Semenjak ayahnya meninggal Heni merupakan tulang punggung kedua setelah ibunya, Heni merupakan anak pertama dari tiga bersaudara yang masih duduk di kelas X di sebuah Sekolah Menengah Atas ini harus berperang dengan waktu. Satu sisi dia harus melaksanakan aktivitas sekolahnya dengan baik, disisi lain dia harus membantu ibunya. Hari-harinya tak pernah luput mengatur waktu agar semua aktifitasnya tidak saling bersentuhan.

Pagi itu sudah pukul Lima Lewat Lima Menit Heni belum juga muncul dari kamarnya,biasanya pukul 03.50. Ibunya jadi bertanya-tanya dalam hati. “Biasanya jam segini sudah tampak”,tampak sedikit gelisah. Tetapi ibunya tidak menghiraukan isi hatinya, ia terus saja menggoreng kue dagangannya yang akan dibawa oleh Heni untuk dititipkan dibeberapa kantin sekolahnya. Tak lama kemudian berselang 20 menit. Terdengar detakan kaki dari arah kamar menuju keruang dapur. Di tolekkan kepala kearah tersebut, “Pagi bu, ibu sehat?” sapa heni kepada ibu, sapaan kesayangan Heni yang setiap pagi diucapkan pada ibunya dengan selalu dibumbui raut wajah yang berseri-seri. “Pagi nak, sehat,” Ibu menjawab yang disisipi senyum mungil.

Heni bergegas mengarah kekamar mandi, tak lama kemudian beranjak keluar menuju kamar kembali;

“Hen,” Panggil ibunya”
 “Iya bu” dengan nada lemah lembut.
 “Jangan lupa shubuhnya” saut ibunya.

“Iya bu”. Heni langsung saja mengerjakannya, karena itu menjadi kebiasaannya. Maka seperti sudah menjadi kebutuhan, ia pun  selalu melakukan dengan tanpa beban.

Seusainya Heni kembali menuju ke tempat ibunya memasak, setiba disana Heni merasakan heran dalam hati dan ia pun langsung menanyakan pada ibunya.

“Bu, masak kuenya hanya segini, kok tidak seperti biasanya”
Bu rena pun tersenyum mendengar protes Heni,

 “Sama hitungan banyaknya seperti hari-hari biasanya, hanya saja yang berbeda pagi ini hanya kuenya sudah ibu masukkan dalam keranjang kamu. Jadi  tinggal siap bawa deh” Sambung ibu dengan aroma canda.

“ Yang ini hanya untuk bekal kamu dan adik-adikmu disekolah”. Sambungnya kembali.

Heni memang tidak pernah dikasih berupa uang jajan, dan ia pun tidak pernah meminta karena ia sangat mengetahui keadaan ekonomi keluarganya yang sering kali tidak mencukupi begitu juga dengan adik-adiknya. Tetapi Heni tidak pernah menghiraukan tentang itu,ia selalu saja menuruti kata ibunya. Meskipun terkadang sering kali sebagian temen-temen sekolah mengejeknya, tetapi ia tak mengubrisnya dan ia pun selalu membalas ocehan itu dengan senyuman dan selalu saja ia ramah-tamah dengan sikap khasnya itu. 

Jam dinding yang berputar sudah menunjuk pukul 05.35 menit, Heni pun bergegas bersama adiknya meninggalkan rumah mungilnya, disambut tangan ibunya dan mengucapkan salam pada ibunya. Dengan jalan kaki dan keranjang yang dipangku, Heni mengukur jalan yang keberadaan sekolahnya kurang lebih satu 2 kilometer, dikarenakan sekolahnya tidak berdekatan dan bersimpangan maka Heni harus mengantar adiknya yang masih duduk disekolah dasar kelas 1 dan 3 terlebih dahulu,

Meskipun begitu Heni memang anak yang selalu mementingkan sekolahnya, disela-disela kesibukan membantu ibunya ia pun tak pernah lupa kewajibannya sebagai pelajar, maka tidak heran kalau dirinya diperhitungkan prestasi disekolahnya.

Berjalannya waktu dengan semangat pantang menyerahnya itu Heni pun dapat menyelasaikan sekolahnya dengan predikat lulus dan nilai yang akhir yang sangat memuaskan. Setelah melihat dan ia pun pulang tak sabar olehnya untuk mengabari ibunya.
“Assalamualai’kum”.

“Wa’alakum salam”saut ibunya dengan dibayangi nada batuk yang terdengar dari dalam rumah.
Bu rena yang memiliki pekerjaan sampingan yaitu buruh cuci dari rumah satu ke rumah yang lain. Hari itu ia tidak bekerja karna sedang sakit. Heni pun sudah mengetahui keadaan ibunya itu tadi pagi. Dengan perasaan bahagia  yang tak tertahan lagi Heni langsung memeluk ibunya dengan isak tangis dan menceritakan kalau ia lulus ujian akhir. Ibunya juga ikut terharu mendengarnya. Seakan-akan tak percaya akan keberhasilan anaknya itu. Di sisi lain terselip di hati Heni kesedihan karna ia tak mungkin lagi dapat melanjutkan pendidikannya dan mengejar impiannya selama ini. 

Tetapi Heni tak pernah menceritakan hal itu pada ibunya karena ia tahu keadaan keluarga yang tidak memungkinkan. Meskipun demikian ternyata ibunya sudah mengetahui akan impian yang dipendamnya itu karna ibunya melihat lukisan heni yang terpajang di dindang kamar kecilnya, yang bergambar pesawat terbang berkepala berbentuk keranjang kue yang sehari-harinya dibawa dan penumpangnya adalah seluruh keluarganya dengan logo “Aku Anak Indonesia”, Heni juga tidak mengetahui kalau akhir ini pihak sekolah pernah kerumahnya dan konsultasi dengan ibunya tentang penawaran untuk ikut tes beasiswa ke luar negeri dan ibunya tidak menyianyiakan kesempatan yang ditawarkan pada anaknya itu, karena ia merasa kalau itu merupakan jalan bagi anaknya sekali pun ia tak begitu mengerti seluk-beluk tentang kesesuaian impian anaknya itu.

Hari itu senin, ia tetap saja bangun tidur seperti biasanya pukul 03.50 hanya saja keadaannya sudah berbeda kalau hari-hari sebelumnya Heni harus membantu ibunya memasak dan menyiapkan aktifitas sekolah.namun sekarang ia hanya mengantarkan kuenya saja. Adiknya pun sudah kelas 5 dan 3 SD dan sudah berani berangkat berdua tanpa di antar Heni.  

Pagi itu tanpa ia sadari diam-diam ibunya memasukkan undangan itu dikeranjangnya.
“Ibu tidak masak hari ini” dengan sedikit terkejut.
“Tidak Hen”
“Ibu sakit?” tanya Heni kembali.
“Alhamdulillah, ibu sehat”

“Oh, ya!... Hen, ibu perhatikan keranjang itu sudah tidak layak lagi untuk dipakai, pagi ini kamu pergi ke pasar beli keranjangnya, kita libur saja dulu jualannya. Keranjang yang lama itu kamu simpan saja didapur”.

“Ya bu”. Jawab Heni dengan nada lembut.

   Heni memang anak yang patuh pada ibunya, apapun yang diperintahkan oleh ibunya, ia selalu saja mengerjakannya tanpa mengulur waktu. Ia pun menuju tempat peletakan keranjangnya itu, setiba disana matanya menatap tajam dengan raut wajah keheranan karena didalam keranjangnya terdapat satu helai amplop tertutup. Ia pun mengambil dan membuka dengan perlahan amplop tersebut dengan kehati-hatian dan dibaca berulang-ulang akan isi dari amplop tersebut seolah-olah ia tak percaya dengan keberadaan amplop tersebut. Ia pun mengambil amplop tersebut dan dibawa ke hadapan ibunya. Ternyata tanpa sepengetahuannya itu merupakan kejutan dari ibunya yang sudah mengetahui isi amplop tersebut dan ibunya sangat mengizinkannya.


Dengan kemampuan yang dimiliki Heni dan ketulusan ibunya yang selalu mendoakan, Heni pun lulus dari tes tersebut ia pun berangkat ke Jerman bersama penerima beasiswa lainnya, Dengan jiwanya yang sudah terbiasa dan kerja keras serta pantang menyerah yang selalu membara, disela-sela waktu kesibukan menjalani studinya ia juga berupaya mengais rezeki dengan cara menulis dan karya-karya pun kerap bermunculan di media elektronik dan cetak dalam negeri. Dari penghasilan itu ia dapat membantu membiayai ke dua adiknya yang masih bersekolah dan kebutuhannya. Hingga akhirnya ia pun dapat menyelasaikan studi S.1 nya dengan predikat camlude dan ia pun memilih sementara bekerja disana agar ia dapat melanjutkan kembali studinya kelevel yang lebih tinggi. Ternyata keputusan itu berbuah manis, ia dapat menyelesai S.2 dan S.3 hingga bergelar Profesor dan ia telah menjadi bagian dari ilmuan besar dunia yang keberadaannya sangat diperhitungkan di perusahan-perusahan besar penerbangan dunia. 


EmoticonEmoticon

Hosting Unlimited Indonesia