Wajah Dua Pulau



Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup yang kita jalani ini. Masa kecil mungkin tak pernah memberikan kita gambaran masa depan yang harus kita jalani jika kita sudah tumbuh remaja hingga dewasa, Masa kecil kita tak pernah memberikan kabar akan apa yang akan kita dapatkan nanti dan masa kecil tak pernah berikan kita peta akan apa yang kita harus hadapi masa mendatang. Masa kecil hanyalah bahagia yang tak pernah berpikir akan sesuatu yang berat untuk dijalani. Kita menglaami masa kecil yang bahagia tanpa ada gundah dalam hati, tanpa resah dalam dada dan tanpa lelah dalam raga. Masa kecil juga akan selalu menjadi kenangan yang akan ingatkan kita bahwa berawal dari nol dan itulah kenapa sebabnya kita selalu bersyukur apa yang kita raih saat ini karena jauh dari itu semua tak jarang mereka gagal dalam menjalani hidup bukan masalah kurang uang atau hal lainnya namun mereka tak memiliki niat untuk hidup seperti orang-orang. Mereka tak pernah mau belajar apa yang mereka menjadi kendala dan penyebab kenapa hidup ini terlalu sulit dan mereka menjalaninya terlalu mudah dan itu kita memiliki prinsip masaing-masing dalam menjalani hidup ini dan itu rahasia bagaimana kau bisa bertahan hingga saat ini dengan semngat juangmu dan senyum lirih dari bibirmu.

Seperti layakanya aku yang memang tak pernah menyangka akan perjalanan hidup seperti ini karena dari kecilpun aku tak pernah berniat untuk pergi jauh dari kampung halaman karena aku pikir aku sudah bahagia berada di kampung halaman ini bersama kedua orang tuaku, adik dan kakaku dan teman-temanku semua. Aku tak pernah inginkan aka nada perjalanan yang menurut terlalu berat untuk aku jalani sendirian di kota Jakarta ini dan aku tak pernah berpikir kenapa hidup ini tidak adil denganku. Rasa gundah mungkin pernah patahkan sayap semangat dalam hidupku semenjak aku ditakdirkan dalam hidupku harus menjalani hidup masa kecilku bersama pamanku dijakarta ini Bukan tanpa sebab dan tanpa alasan aku di titipkan oleh orang tuaku kepada pamanku di Jakarta ini namun mereka memiliki niat dan harapan kepadaku agar aku bisa melanjutkan pendidikan karena mereka tahu bahwa pada saat itu ekonomi keluarga tak seindah yang aku bayangkan. Belum lagi aku memiliki adik dan kakak yang sedang sekolah juga jadi demi tidak mungkin orang tuaku mampu untuk menyekolahkanku berbarengan denagn adik dan kakaku pada saat itu jadi karena orang tua memiliki saudara di Jakarta ini akhirnay aku diantar oelh kedua orang tuaku datang ke kota Jakarta ini dengan niat bisa untuk aku teruskan sekolahku di kota Jakarta ini karena mereka bilang kepadaku bahwa pamanku dijakarta memiliki harapan untuk bisa menyekolahkanku.

Kita memiliki kisah yang berbeda namun aku percaya kita memiliki mimpi yang sama yaitu ingin sukses dan bahagia di sisa waktu kita di dunia ini. Aku yang datang ke kota Jakarta ini dengan lugunya harus menempuh hidup baru, harus beradaptasi dengan kesungguhan yang mendalam berharap aka nada titik terang dalam aku menajalani masa di kota Jakarta ini. Perkiraan memang tidak selalu tepat sasaran, pada saat aku dan kedua orang tuaku mendatangi untuk menitipkanku di rumah pamanku. Dua-hari tiga hari aku berada disana memang tidak kelihatan bahwa mereka juga orang yang pas-pasan dlaam menjalani hidup terus bagaimana dengan nasibku nanti jika mereka tak jauh beda dengan keadaan kedua orang tuaku. Namun karena semua sudah terlanjur dan butuh biaya yang cukup menguras kantong kedua orang tuaku untuk mengantarkanku ke rumah pamanku di Jakarta ini jadi tidak mungkin aku kembali lagi ke kampung dengan rasa malu dengan celoteh orang kampung yang kita tahu seperti itu. Tinggalah aku yang rentan akan waktu, yang lemah akan bimbingan orang tuaku, mereka hanya seminggu mendampingiku di Jakarta lalu mereka kembali lagi ke kampung untuk mengurusi adik dan kakaku disana dan aku tinggalkan air mata yang harus aku hapus sendiri setelah kepergian mereka. Kalau boleh bilang masa anak-anakku aku habiskan untuk bekerja dan waktu seakan tak pernah jera menghukumku, dalam kurun waktu kurang lebih 4 tahun aku bersama pamanku, kehidupan pahitlah yang selalu aku jalani, mulai bekerja membantu paman dan sekolah tanpa arah, tanpa bahagia yang tercoreng dalam lekung pipiku. Kecemasan selalu meyelimuti kelam ruang hariku. Entah kenapa aku seperti itu, Hari-hariku jauh dari bahagia, tanpa teman, tanpa kawan semua aku lalaui dengan sepi yang selalu setia menemaniku baik itu siang maupun malam berlalu.

Aku memang tak pernah berpikir akan seperti itu namun hidup harus tetap aku jalani hingga saat ini yang telah memasuki tahap akhir dari aku belajar di bangku pendidikan yaitu masa kuliah akan segera aku selesaikan dalam tahun ini 2015 aku persiapkan untuk wisuda. Kadang semua tak pernah kita inginkan datang namun tidak semua itu untuk dijadikan alasan kenapa kita seperti itu, kita baru akan tahu setelah kita menjalani dan berada dihadapannya. Menyerah atau tdak kau akan tetap berada di dalamnya sampai kau akhiri dengan kata nafas ini sudah tiada barulah kau akan tidak lagi berada dlaam nyata namun akan ada di kehidupan lain. Puji syukur kehadiran Allah SWT Dan teladan yang diberikan oleh Rasulullah SWA. Aku lewati masa sulitku dengan senyum penuh semangat. Kesedihan mungkin pernah menyita waktuku namun bahagia juga pernah membayarnya dengan senyuman hingga saat ini. Aku memang tidak suskses seperti apa yang kau pikirkan menjadi orang kaya namun aku percaya apa yang aku dapatkan hingga saat ini merupakan perjuangan sejati yang patut aku bangga pada diri sendiri. Kini tahap akhir mungkin dulu aku tak bisa mundar mandir pergi sini dan sana secara bebas namun kini aku seperti burung yang bebas terbang kemana saja ingin berlabuh. Dulu terkendala karena tidak punya ongkos pulang kampung namun kini aku bisa kapanpun aku bisa pualng kampung melewati pulau sumatera dan jawa ini. Aku ini pengembara yang akan selalu begitu dan kini aku jalani dengan modal dan pangalaman yang kau punya. Jangan pernah bertanya kenapa aku tidak menyerah saja dengan kehidupan seperti ini karena jika kau bertanya seperti itu pasti aku akan menjawab dengan lantang bahwa kata menyerah tidak pernah ada tertulis dalam kamus hidupku. Akhir kata semoga apa yang aku cita-citakan tercapa dan terlaksana dengan baik. Amin.

Salam Sang Pengembara Yang melintasi Dua Pulau…

Facebook Comment